EL & KEN

EL & KEN
187



Kondisi Elvina sudah lebih baik, istri Ken itu tidak suka menyendiri dan melamun lagi. Dia sudah mau keluar kamar dan berkumpul dengan keluarga yang lain. Perkembangan Elvina cukup pesat beberapa minggu ini.


Dokter Claudia diasingkan ke daerah terpencil. Ken ingin membuat dokter itu terblacklist dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, tapi Elvina melarangnya. Sedang Deo yang mendalangi semuanya sudah diurus Erland.


"Bang, cokelat aku habis!" Lapor Elvina dengan wajah kesal.


"Masih banyak Sayang, masa sudah habis. Baru beberapa hari aku belikan." Sahut Ken, dia malas beranjak dari sofa ruang tengah.


Nazar melirik sekilas pada menantunya sambil bermain ponsel. Sedang Ulfa hanya diam, dia tau siapa pelakunya.


"Habis Abang," Elvina menarik tangan Ken untuk melihatnya sendiri di dapur. Dengan sangat terpaksa Ken bangun mengikuti istrinya.


"Kok bisa habis, Sayang?" Tanya Ken bingung, Elvina mengendikkan bahu.


"Kita minum teh hijau buatan Ummi aja dulu ya malam ini, Abang malas keluar. Dingin, habis hujan gini." Bujuknya membawa sang istri kembali ke ruang tengah, mau tidak mau Elvina mengiyakan.


"Ummi, boleh minta tolong buatin teh hijau. Buatan Ummi beda soalnya, cokelat El habis." Mohon Ken, Ulfa mengangguk daripada drama tambah panjang.


Elvina menyesap teh hijau buatan Ulfa sambil menenggerkan kepala di bahu Ken. Matanya fokus ke layar televisi.


Saat sedang asik, tiba-tiba saluran televisi berubah. Istri Ken itu menoleh, Attisya sudah merebut remotnya.


"Kok Kak Sya pindah, aku yang duluan nonton tv di sini." Ujar Elvina tidak terima, "sini remotnya!" Istri Ken itu merebut remotnya kembali.


"Nggak mau!" Attisya menyembunyikan remotnya. Nazar, Ulfa dan Ken dibuat melongo oleh kelakuan dua perempuan itu.


"Sayang, Sayang." Panggil Ken sambil menahan tubuh Elvina agar tidak menarik-narik Attisya. Kakak iparnya itu sedang hamil muda.


"Nggak mau!" Pekik Elvina kesal karena disuruh mengalah.


"Hei-hei, kenapa bertengkar?" Adnan meletakkan gelas di atas meja. Duduk di tengah-tengah dua perempuan itu. Ngapain istrinya ini main cari masalah sih.


"Itu cokelat aku!" Teriak Elvina semakin kesal saat melihat Adnan meletakkan segelas cokelat.


"Pasti kakak yang simpan kan?" Tuduhnya dengan garang pada Attisya, lalu mengambil gelas cokelat di atas meja.


"Enak aja, ini cokelat aku!" Attisya merebut gelas di tangan Elvina. Dua menantu Nazar itu saling berebut segelas cokelat.


"Awas tumpah Sayang, airnya panas!" Tegur Ken.


"Nggak mau, aku mau cokelat!" Elvina tetap kuat pada pendiriannya. Dia tidak akan mengalah.


"Ini cokelat aku!" Attisya juga tidak mau kalah, masih kekeuh merebut cokelat buatan suaminya yang diambil Elvina.


"Sya, Nana. Berhenti!" Tegur Adnan, tapi tidak ada yang menggubris. Nazar dan Ulfa saling pandang, ibu hamil itu kenapa suka cari masalah sama Elvina sekarang.


"Sini cokelatnya!" Nazar mengambil gelas cokelat itu, dua menantunya terdiam tidak ada yang berani membantah.


"Sya, kamu yang ngambil semua cokelat Nana?" Tanya Nazar lembut, perempuan hamil itu mengangguk lemah dengan mata berkaca-kaca.


Adnan dibuat melotot. Dia tidak tau kalau cokelat yang ada dikamar itu milik adik iparnya. Apa dia kurang perhatian selama ini dengan istrinya. Semua yang Attisya mau dia dengan senang hati memberikannya.


"Sekarang kembalikan ya Sya. Gak boleh ngambil punya orang. Kalau mau tinggal minta ya Sayang." Nasehat Nazar pelan, Attisya mengangguk lalu masuk ke kamar mengambil cokelat milik Elvina.