
Karena paksaan kakak sepupunya hari ini Elvina mendatangi butik Erina. Sampai di sana ternyata dia harus mengikuti kelas fashion design yang diadakan Erina.
"Ada lomba Fashion Week di Jogja dua bulan lagi. Kamu harus ikutan untuk membuktikan kalau kamu itu berbakat, kakak gak mau kesempatan ini hilang begitu saja. Jadi kamu harus asah bakatmu itu dengan sungguh-sungguh."
Elvina melongo mendengarkan ocehan Erina, dia tidak memiliki keahlian apapun dalam dunia fashion.
"Ngomong apaan sih Kak, aku cuma suka gambar gak minat sama sekali dengan dunia fashion beginian."
Elvina harus menghentikan kegilaan kakak sepupunya ini. Jangan sampai di event itu dia mempermalukan dirinya sendiri karena dianggap anak TK yang tidak memiliki skill. Semua gara-gara tante Inara yang usil nih, geramnya.
"Kamu akan suka kalau sudah terjun ke dunia fashion, kakak yakin itu. Apalagi desain-desain yang kamu buat itu sudah top, tinggal diasah sedikit lagi." Erina memberikan wejangan dengan semangat pada pengantin baru itu.
"So, dalam waktu satu bulan ini kamu harus ke sini, kita akan siapkan semuanya untuk kamu mengikuti fashion week itu. Oke, tak boleh ada bantahan, tak boleh ada penolakan. Atau aku lapor sama papa." Ucap Erina dengan senyum kemenangan.
Elvina sudah mencak-mencak ingin mencakar kakak sepupunya yang sebelas dua belas dengan sang tante.
Alhasil seharian Elvina harus mendekam di butik Erina. Mengikuti arahan sang kakak yang mengajarinya secara langsung.
"Sebelum mendesain baju, hal lain yang harus diperhatikan adalah soal kain. Kain memiliki banyak bentuk dan tekstur. Tidak semua kain bisa terlihat jatuh saat digunakan. Apalagi ketika mendesain baju yang flowy, sebaiknya memperhatikan kira-kira jenis kain apa yang ingin kamu gunakan."
Elvina hanya manggut-manggut mendengarkan setiap penjelasan Erina, hal yang paling dasar dalam memilih kain. Hari pertama saja Elvina sudah dibuat pusing dengan masalah kain.
Pulang ke rumah wajah Elvina sudah tidak bisa di kondisikan. Attisya yang melihat wajah iparnya itu terkekeh geli.
"Kenapa buu wajahnya ditekuk gitu?"
"Majalah itu salah tulis nama pemenang kali ya Kak Sya, gambar gini masa sih masa sih menang." Elvina sudah menghempaskan bokongnya di samping Attisya sambil menggeser-geser gambar yang di buatnya di iPad.
Attisya melirik ke arah iPad yang dimainkan Elvina, "bagus kok. Kalau seorang designer yang melihat mungkin ada sisi istimewanya. Beda dengan kita yang orang awam memandangnya."
"Coba aja gih, nikmati. Kamu kan suka gambar, apalagi mentornya udah kenal. Enak banget. Banyak yang pengen jadi designer tapi mereka gak tau harus mulai dari mana." Saran Attisya menyemangati Elvina.
Elvina mengangguk setuju sampai terdengar suara salam dari pintu depan. Dua perempuan itu menjawab bersamaan.
"Eh, kesayangan-kesayangan aku udah pulang?" Ujar Elvina manja seraya menolehkan kepalanya ke arah belakang dengan senyuman yang paling manis.
Ken mengecup puncak kepala Elvina dari belakang, lalu beralih ke pipi sekilas. "Baru sampai juga?" Tanyanya.
"Ho'oh," jawabnya dengan kondisi bibir yang sudah maju.
"Kenapa monyong gitu?" Ken membawa Elvina ke kamar. Meletakkan tas ke atas meja dan melepaskan jasnya.
"Kak Erin daftarkan aku lomba Fashion Week di Jogja yang diadakan dua bulan lagi. Aku ngak ngerti apa-apa ih Bang, sebel banget. Takut malu-maluin nanti."
Ken mengusap kepala Elvina dengan lembut, "kamu suka gak, kalau gak suka gak perlu dipaksakan."
"Tapi Kak Erin berharap banget sama aku Bang, aku gambar itu iseng aja kok."
"Kalau saran aku coba aja sih dulu. Sayang kan kalau bakat kamu cuma dianggurin gitu aja."
"Anggur merah, Bang?"
"Bukan, anggur hijau, Sayang." Ken berdecak, lagi serius dibercandaain. Elvina tersenyum tipis.
"Anggur merah aja biar memabukkan."
"Sini aku kasih tau yang memabukkan." Ken menyeringai licik lalu menyesap benda kenyal yang suka maju mundur monyong-monyong. Elvina terpekik kaget, tapi tak bisa menolak pasrah mengikuti permainan.