EL & KEN

EL & KEN
123



"Kenapa Na?" Tegur Nazar, menantunya itu keluar kamar dengan ketakutan.


"Ken mengamuk Bi, aku salah bicara lagi." Ucapnya dengan takut-takut.


"Ken gak mukul kamu kan Na?" Ujar Ulfa khawatir lalu mendekati menantunya.


"Enggak Mi," ujar Elvina diikuti anggukan.


"Duduk dulu, Ummi ambilin minum." Elvina menurut, ibu mertuanya itu sudah melenggang pergi ke dapur.


"Ken." Tegur Nazar lembut, melepaskan emosi tidak baik dengan cara seperti ini. Ayah dua orang anak itu menggeleng, kamar sudah seperti kapal pecah.


"Harusnya aku gak nikahin dia kan Bi, dia gak mau ada di dekatku. Dia yang selalu memaksa aku pergi. Sampai ingatan aku benar-benar pergi darinya. Ini salahnya Bi, salahnya yang selalu ingin aku pergi." Teriak Ken histeris.


"Duduk dulu." Nazar membawa putra bungsunya duduk di sisi ranjang. "Apa yang membuatmu marah?"


"Dia kan yang selalu menolakku Bi, dia juga yang membuatku terpaksa untuk menerima Aish. Aku benci dia, Bi. Benci."


"Istighfar Ken, kamu cuma dengar itu kan? Kamu gak tau alasannya apa sampai Nana melakukan itu. Kamu pernah bilang, hati butuh energi yang bisa mengikat keduanya menjadi kuat. Memunculkan getaran dalam dada yang begitu hebat. Sehingga membuat jantung berdetak lebih cepat. Kamu ingin El merasakan itu padamu. Lalu kenapa kamu menyalahkannya saat dia belum bisa meyakinkan hatinya untukmu."


Ken mencoba menenangkan dirinya kembali, "aku hanya ingat sangat mencintai El, Bi. Banyak hal tentangnya yang masih aku lupa. Setiap kali belajar untuk terbiasa dekat dengannya. Tiba-tiba ada saja hal yang membuatku terbakar emosi."


"Istirahatlah, kamu perlu menenangkan pikiran. Biar Nana tidur di ruang tamu." Nasehat Nazar seraya mengusap kepala putranya dengan kasih sayang. Setelah si bungsunya itu lebih tenang Nazar beranjak dari kamar itu.


Ken lelah, dia tertidur memeluk bonekanya. Kenapa dia lebih nyaman memeluk boneka itu. Mungkin karena boneka ini tidak bisa membuatnya terpancing emosi. Tidak seperti Elvina yang bisa membuat dirinya hilang kendali.


Elvina sedari tadi mengintip di pintu kamar Ken, sampai suaminya tertidur tenang. Dia membereskan benda-benda yang berhamburan di lantai.


Setelahnya Elvina berjongkok dengan jarak yang cukup jauh mengamati wajah lelah suaminya yang tertidur dengan damai. Andai sejak awal dia menerima Ken mungkin kehidupan rumah tangga mereka akan bahagia. Tanpa perlu ada drama seperti ini.


Gadis itu tidak berani mendekat, dia takut mengganggu dan membuat Ken marah. Elvina beranjak menuju kamar tamu. Malam ini dia akan tidur di sana.


Netranya menatap sendu cincin yang melingkar di jari manisnya. Seperti inikah pernikahan yang Elvina inginkan. Belum apa-apa dia sudah merasa tertekan. Tidak hanya takut Ken menyakitinya, tapi juga takut hatinya terluka.


Elvina sudah mencoba memejamkan mata dengan memeluk guling. Tetap saja matanya enggan terpejam. Dia terbiasa ditemani boneka. Dua malam ini dia tidur di samping Ken.


Bingung harus melakukan apa, Elvina kembali mengendap masuk ke kamar Ken mengambil iPad dan ponselnya. Dia sudah seperti maling malam ini, mengintip-intip dan mengendap ke kamar suaminya sendiri.


Jarinya bermain lincah di atas layar, menggoreskan stylus pen di sana. Membuat beberapa gambar baju muslimah.


Malam semakin larut, matanya enggan terpejam. Mungkin besok-besok Elvina perlu obat tidur, agar saat seperti ini dia masih bisa terlelap.