EL & KEN

EL & KEN
173



Elvina menyisir rambut Ken yang terlelap dengan jemarinya. "Maafin aku Ken, karena aku kamu jadi susah."


Ken masih bisa mendengar suara lirih itu. Dia baru memejamkan mata, belum tertidur.


"Kamu capek karena ngurusin aku. Aku ini cuma nyusahin hidup kamu." Elvina membawa kepalanya ke atas dada bidang sang suami.


Ken menahan tangannya untuk mengusap punggung Elvina. Dia membiarkan istrinya itu mencurahkan segala isi hati terlebih dahulu.


"Aku cuma punya kamu sebagai rumah untuk pulang. Sekarang aku ingin pulang. Aku capek, Abang." Elvina menumpahkan tangisnya di sana, "aku capek. Aku ingin menyerah. Tapi aku gak bisa ninggalin kamu dan buat kamu sedih."


"Aku capek," lirih Elvina lagi. Ken mengangkat tangannya untuk mengusap punggung sang istri.


"Aku selalu di sini buat menemani kamu, Sayang." Ken membuka mata lalu mencium puncak kepala Elvina.


"Abang belum tidur?"


"Belum Sayang," katanya tersenyum sambil menyeka air mata di pipi Elvina. "Naik di sini, mau?"


Elvina mengangguk naik ke atas tubuh Ken, membenamkan kepala di bahu suaminya.


"Kalau masih mau nangis, nangis aja Sayang." Tangan Ken masuk kedalam piyama Elvina memberikan sentuhan hangat di sana. Dari belakang memutari ke depan, sampai bertemu gunung kembar. Elvina melenguh, Ken menghentikan kenakalan tangannya. Mengamati ekspresi wajah sang istri.


"Mau sekarang?" Elvina cepat mengangguk.


"Kamu rileks ya Sayang, lepaskan semua emosi kamu." Ken sudah menyesap lembut bibir Elvina. Membawa tangannya untuk memberikan sentuhan hangat.


Perlahan Ken membimbing istrinya menjadi ekspresif lagi. Dia bermain dengan tempo lambat. Setelah dahaga Elvina terpenuhi barulah dia datang.


"Abang!" Panggil Elvina lirih, tubuhnya sudah melemas. Suara itu membuat gairah Ken bangkit lagi.


"Sekali lagi, Sayang." Pinta Ken, setelah melepaskan lahar panasnya. Ken memeluk Elvina dengan tenang.


"Makasih, Abang."


"Kalau mau lagi Abang masih kuat."


Elvina menggeleng, mengeratkan tubuh dalam pelukan Ken.


"Argh, Sayang. Abang baru tidur, bangun lagikan. Kamu harus tanggung jawab." Istri Ken itu menggeleng kemudian tersenyum geli.


"Siapa yang ngajarin jadi bandel gini," tangan Ken sudah menyusup nakal.


"Ampun Abang," pekik Elvina saat tubuhnya bergelinjang hebat.


"Kamu makin cantik kalau begitu, Sayang." Ken menggoda, ngantuknya sudah hilang. Dia harus melepaskan juniornya yang nakal ini di dalam gua.


"Makanya jangan usil kalau gak mau capek lagi." Ken mengunci tubuh Elvina dalam pelukan setelah selesai. "Semoga jadi baby, Sayang." Ucapnya kemudian mencium kening sang istri lama.


"Makasih karena Abang gak jijik sama aku yang kotor ini."


"Sstt, kamu kesayangan Abang. Aku gak bakal jijik sama kamu. Jangan merasa gitu lagi, Abang gak mau dengar kata itu lagi." Tegas Ken, Elvina mengangguk.


"Kamu harus percaya sama Abang, kamu itu sangat berharga Sayang. Abang mau kamu menjalani hari-hari seperti biasanya."


"Aku mau ketemu dokter Raga." Ucap Elvina, Ken tersenyum. Dia berhasil membuat istrinya merasa lebih baik.


"Kita tunggu dia ke sini ya, atau nanti kita susul ke Jogja." Usul Ken, "kamu mau?"


"Aku mau di rumah aja."


"Oke Nyonya Ken, kalau mau di rumah aja kita tunggu Raga datang ya, semoga dia gak sibuk."


"Mama masih ada di luar?"


"Abang gak tau, mau ketemu. Abang tengok dulu ya."


"Mandi dulu Abang, baru keluar. Kusut gitu ih."


"Kamu yang bikin Abang kusut gini, Sayang." Ken menjawil hidung kesayangannya, "Abang mandi duluan ya."


Elvina mengangguk, kalau tidak ada Ken mungkin dia sudah nekat untuk mengakhiri hidup yang kedua kalinya. Sekarang dia harus berpikir cara untuk membuat Ken bahagia, tanpa memikirkan penilaian seluruh dunia.