
Suasana rumah Abi Zayid penuh dengan ketenangan. Ken sedang berada di pekarangan samping rumah bersama Aish, putri Abi Zayid. Mereka berada di bawah penerangan lampu temaram dan sinar rembulan.
Tidak jauh dari rumah itu ada pesantren yang di kelola Abi Zayid. Pesantren tempat Ken dulu menimba ilmu.
Ken dihadapkan dengan pilihan yang membingungkan. Aish perempuan yang mau menerima Ken apa adanya, tapi dia tidak mencintai gadis itu. Sedang Elvina, gadis yang dia cintai tapi tidak menginginkannya.
"Ken, makasih ya sudah memenuhi undangan, Abi."
"Iya, sama-sama Aish." Aish-lah yang mengajaknya berbicara di sini sekarang. Walau Ken sangat malas untuk menyetujuinya.
"Gimana permintaan Abi, apa kamu setuju?" tanya Aish pada Ken, lelaki itu seperti tidak minat berbicara dengannya.
"Kasih aku waktu untuk berpikir ya, Aish." Ken tersenyum simpul. Dia tidak ingin memberikan harapan, tapi Ken juga tidak tega menyakiti gadis itu.
"Apa hatimu sudah milik orang lain Ken?" Aish mencoba memberanikan diri bertanya pada lelaki itu.
"Maaf Aish, aku tidak bisa menjawab itu." Jawab Ken, dia tidak nyaman ada orang lain yang mempertanyakan tentang perasaannya. Hatinya tetap untuk El, hatinya sudah terikat dengan gadis itu.
Aish hanya mengangguk, dia paham kalau Ken tidak menginginkannya. Hanya bisa berharap Ken mau membuka hati untuknya.
"Aku pamit ya Aish. Assalamualaikum." Ucap Ken lalu beranjak meninggal gadis itu.
***
Elvina masuk ke dalam ruangan, di sana sudah ada Ken yang menunggu duduk di kursinya. "Mau apa kamu di sini Ken?" Gadis itu mendelik menatap tajam lelaki yang tersenyum padanya.
"El apa kamu mencintaiku?" Ken tau Elvina marah padanya. Kali ini saja Ken ingin memperjuangkan gadis itu lagi.
"Apa kamu menyayangiku?" Ken melanjutkan pertanyaannya namun jawabannya tetap sama.
"Tidak."
"Apa kamu mau menikah denganku?" Ken memastikan kembali agar tidak menyesal meninggalkan Elvina nanti. Setelah ini dia akan membuat keputusan besar.
"Tidak."
"Baiklah," sahut Ken dengan tersenyum. "Sudah tidak ada alasan lagi aku di sini. Jaga dirimu baik-baik. Aku sangat mencintaimu. Assalamualaikum."
Ken meninggalkan ruangan Elvina, dia akan membawa lukanya pergi. Sudah tidak ada alasan lagi dia berjuang di sini. Elvina tidak menginginkannya. Selamat tinggal cinta.
Lelaki itu melajukan mobilnya meninggalkan gedung PT. AJA, entah kemana dia akan pergi. Berada di tempat ini membuat hatinya perih saja.
Dalam ruangannya Elvina terduduk lemas setelah Ken pergi. Ini yang dia inginkan, ingin Ken berhenti berjuang. Tapi kenapa hati Elvina terasa sakit sekarang setelah Ken pergi meninggalkannya.
Apa sebenarnya yang sedang dia rasakan. Elvina bingung dengan perasaanya sendiri. Dia marah dengan lelaki itu. Dia marah karena selama ini dipermainkan Ken.
Elvina mempersiapkan bahan presentasi meeting pagi ini. Memikirkan Ken membuat kepalanya berdenyut nyeri. Kenapa lelaki itu harus hadir dalam hidupnya. Kenapa tidak biarkan saja dia mati penasaran karena tidak tau siapa pemilik teddy bear kesayangannya.
Ken, kenapa harus muncul dengan cara yang menyakitkan seperti ini. Sebenarnya Elvina tidak hanya marah dengan Ken. Dia juga marah dengan paman dan Adnan. Argh, susah Elvina menjelaskan. Intinya sekarang hatinya sedang bingung dan gundah gulana.
"Na meeting sekarang yaa." Suara Adnan di depan pintu menyentak lamunan Elvina. Tadi dia sudah mengalihkan pikiran dari Ken, tapi pikirannya tetap kembali memikirkan orang itu. Elvina menggeleng pelan. Otaknya sedang tidak beres sekarang.
"Iya Kak," sahut Elvina lemas.