
"Aku lelah merindukanmu, Sayang." Ken merengkuh tubuh rapuh yang ada di sampingnya. Gadisnya ini tak berhenti tersenyum, padahal Ken tau hatinya pasti hancur lebur.
"Jangan dilepas, sebentar saja begini, biar aku yang mempertanggung jawabkan semuanya dihadapan Allah."
Elvina tidak mendebat, sibuk menikmati debaran jantungnya yang menggila dan mencari rasa nyaman di sana.
"Apa Azmi menyakitimu, Sayang?" Elvina membeku dengan pertanyaan Ken. "Aku pikir berhenti berjuang dan melepaskanmu bersama Azmi itu keputusan yang tepat. Tapi ternyata aku salah. Aku sudah melakukan kesalahan fatal sepanjang hidup ini, dan aku menyesal El."
"Aku ingin marah dengan takdir, kenapa aku harus jatuh cinta denganmu kalau kita tidak ditakdirkan bersama. Tapi aku bisa apa El, aku hanya hamba-Nya yang penuh dosa." Elvina merasakan bahunya basah dengan air mata Ken. Dia menahan mati-matian agar tidak menangis di depan Ken.
"Ken, kamu akan bahagia bersama Aish. Dia akan menyembuhkan lukamu. Maafkan aku sudah menyakitimu sedalam ini."
"Aku tidak akan menikah kalau tidak denganmu." Lirih Ken, Elvina mengurai pelukannya. Menyeka air mata Ken dengan lembut. "Jangan mengatakan sesuatu yang bisa membuatmu terjebak dimasa depan." Ucap gadis itu lalu tersenyum.
"Ken-ku kuat," Elvina menepuk bahu Ken dua kali lalu beranjak dari sofa. "Terimakasih puisi-puisinya." Dia mengumpulkan memo pink yang masih berhamburan di ranjangnya.
"Apa kamu mencintaiku, El." Ken beranjak dari sofa mendekati Elvina lagi.
"Kamu ingin aku menjawab. 'Aku mencintaimu Ken dan mau menikah denganmu', itu tidak akan terjadi Ken." Goda Elvina, "kamu datang kenapa melow sih Ken, aku suka Tuan Ken yang garang dengan Nona Elvina." Gadis itu terkekeh, memasukkan memo-memo dalam box spesial.
"El, bisakah beruang ini ditukar denganku, agar aku bisa setiap malam tidur denganmu." Ken memeluk boneka beruang besar itu. "Nyaman, seperti kamu yang sedang memelukku."
"Kamu tidak ada niat pulang Ken, kita sudah lama berduaan di kamar. Aku takut keperjakaanmu nanti hilang." Goda Elvina, kenapa dia bisa mengucapkan hal gila itu. Entahlah, dirinya juga sudah gila sekarang.
"Aku siap memberikannya denganmu, Sayang. Kapanpun kamu mau." Ken balas menggoda, membuat Elvina tersipu malu. Entah bagaimana kondisi kulit putih wajah Elvina sekarang, mungkin sudah memerah seperti tomat.
"Kamu dua kali lipat lebih cantik kalau sedang malu-malu, Sayang."
Elvina menggeleng pelan, tidak boleh lemah dengan ucapan Ken.
"Aku maunya diantar ke KUA, El." Kata Ken manja.
"Ayolah Ken, Sayang. Jangan memancing emosiku." Kesal Elvina, tadi menangis-nangis sekarang malah tidak berhenti menggodanya.
"Aku bahagia kamu memanggilku sayang, El."
Elvina tak bicara lagi percuma dia memperingatkan Ken yang keras kepala. Gadis itu kembali melanjutkan memasukkan pakaian ke koper. Biarlah Ken ingin berceloteh seperti apa hari ini.
"El, aku lelah. Boleh tidur di sini sebentar memelukmu." Pinta Ken, lalu naik ke atas tempat tidur. Elvina menggeleng pelan. Lelaki ini banyak maunya, tidak tau diri sekali.
"Kamu mau apa sih Ken?" Geram Elvina.
"Mau kamu." Jawab Ken lugu, Elvina menutup pintu kamar lalu menguncinya.
"Kamu mau aku kan, ayo sekarang kita lakukan." Elvina naik ke atas ranjang lalu melepas jilbab instannya.
"Jangan El." Pekik Ken bangkit dari tidur, menahan tangan Elvina agar tidak melepas jilbabnya, "jangan diteruskan. Aku cuma bercanda. Aku pulang sekarang."
Elvina tersenyum penuh kemenangan, "cuma segitu nyalimu Ken," sinis gadis itu.
"Maaf El, aku pulang dulu. Bye Sayang." Ken beranjak dari tempat tidur meninggalkan kamar Elvina. Gadis itu tersenyum getir setelah kepergian lelaki yang dicintainya.
Elvina menumpahkan air matanya setelah Ken pulang. Kerinduannya sudah terbayar hari ini. Semuanya telah selesai. Tidak dapat dipungkiri kesakitan itu masih merasuk jiwanya.
"Aku sangat ingin bersamamu Ken, tapi ada Aish yang lebih pantas untukmu." Elvina memeluk beruang kesayangannya. Nyaman, seperti dalam pelukan Ken tadi. Gadis itu menyeka air matanya lalu tersenyum. Dia harus kuat, tidak boleh cengeng dan lemah.