EL & KEN

EL & KEN
93



"Apapun keputusanmu aku akan tetap menunggu, El."


Ya, Ken akan tetap menunggu sampai Elvina mau menikah dengannya.


"Jangan tunggu aku, aku akan menikah dengan orang lain. Aku kembalikan cincin darimu."


Elvina melepas cincin di jari manisnya, lalu meletakkan di telapak tangan Ken. Gemuruh sudah memenuhi dada Elvina, sangat sulit untuk melakukan ini. Terlalu berat melepaskan orang yang dicintai untuk orang lain.


Ken menggenggam cincin itu dengan perasaan luluh lantah. Benarkah orang yang sangat dia cintai akan menikah dengan lelaki lain.


"Selamat, jika kamu mau menikah dengan orang lain, El." Ucap Ken dengan tersenyum getir. Bisakah dia berpijak di bumi lagi setelah ini. "Kalau kamu menikah, aku akan berhenti menunggumu. Aku akan kembali ke Kairo, mungkin menetap di sana."


"Semoga kamu bahagia ya, maafkan aku." Ken mengusap lembut belakang kepala Elvina. Elvina mematung di tempat. Mereka sama-sama melukai diri sendiri, tapi dia harus melakukan ini.


"Kalau kamu sudah lebih tenang, ayo kita temui Mama. Sudah terlalu lama kita pamit." Ujar Ken berusaha tegar walau dadanya terasa terhimpit. Elvina hanya menganggukkan kepala.


Dua orang muda mudi itu saling diam sampai mereka kembali ke rumah sakit. Di sana sudah ada Erfan dan Raga yang menunggu di ruangan, Aish sudah pulang.


"Ma, Ken pulang dulu ya. Gerah belum mandi." Ujarnya sambil tersenyum, bukan belum mandi yang membuat gerah. Tapi pernyataan Elvina yang ingin menikah dengan lelaki lain.


"Makasih ya Ken. Kamu hati-hati."


"Iya Ma, Fan gue titip El sama Masnya nanti anterin pulang ya. Barang mereka biar gue yang antar." Pesannya, Erfan tidak menjawab malah mengikuti Ken keluar ruangan.


"Kalian berantem, kusut banget?" Erfan menghentikan langkah Ken di koridor yang sepi.


"Mungkin gue harus pergi lagi Fan, titip mereka ya." Ken berucap lesu, dia sudah kehilangan semangat.


"Lo nyerah lagi?"


"Gue mau berjuang gimana kalau dia mau nikah sama orang lain. Nih cincinnya di kembalikan." Ken menatap cincin yang dipaksakan masuk ke jari kelingkingnya dengan senyuman pahit. "Gue gak sekuat lo liat dia sama orang lain Fan. Baru dengar dari mulutnya aja udah sakit banget. Apalagi kalo liat langsung."


"Apa harus gue itungin sampai penolakan yang keseribu kali baru gue nyerah." Ujarnya dengan tertawa mengejek diri sendiri, sangat menyedihkan.


"Gimana caranya Fan, apa harus gue jadi pebinor?" Erfan menggeleng tidak tau. "Dari awal memang gue yang salah."


"Gue titip dia," ujar Ken melanjutkan langkahnya menuju lift. Erfan hanya bisa menatap sendu sahabatnya yang menghilang dibalik pintu lift.


Ken pulang membawa hatinya yang hancur berkeping-keping. Baru sebentar dia bahagia bisa melihat orang yang sangat dicintainya. Tapi kenyataan meluluh lantahkan hatinya kembali.


"Kalian mau istrihat dulu, gue antar pulang?" Tawar Erfan, dia kembali ke ruang rawat. Elvina menggeleng, gadis itu masih duduk di samping brankar Kila.


"Mama kapan pulang?"


"Kata dokter nanti sore sudah boleh pulang. Kamu pulang duluan gih, lelahkan?" Kila mengusap puncak kepala putrinya, pasti ada perselisihan lagi dengan Ken. Gumamnya, melihat wajah sendu sang putri. Matanya sangat jeli, tidak ada lagi cincin di jari manis itu.


"Aku mau di sini." Lirihnya dengan membenamkan wajah di pelukan sang mama. "Sesak banget ih, Ma." Keluh Elvina akhirnya.


"Apalagi yang kamu pikirkan Sayang, tanpa restu pamanmu kalian bisa menikah. Cukup minta restu sama Om Erland." Ujar Kila, dia tau permasalahan yang putrinya pikirkan.


"Aku gak mau bikin hubungan mama dengan paman retak, hubungan Paman Nazar dengan paman juga retak. Sulit buat Nana jelasin sama mama." Ungkapnya dengan menyembunyikan air mata yang jatuh.


"Kalau Mama kasih kamu saran pun. Kamu pasti sudah punya keputusan sendiri Nak. Apapun keputusanmu Mama dukung. Asal kamu bisa bahagia."


"Bagaimana aku bisa bahagia, jika kebahagiaanku adalah Ken, Ma." Elvina menguatkan pelukannya di tangan Kila. "Tapi aku sudah tidak pantas untuk Ken, Aish yang lebih pantas mendapatkannya."


"Aish benar, aku terlalu murahan Ma, makanya Ken tergoda sama aku." Ucapnya sambil mentertawakan diri sendiri.


"Putri Mama gak murahan, kamu berharga Sayang."


"Aku bahkan tidak bisa menjaga kehormatan aku sendiri, Ma." Adunya sendu, ibu mana yang tidak ikut terpukul jika mendengar curhatan sang anak seperti itu. Kila menciumi puncak kepala putrinya.


Raga tidak mengerti apa yang ibu dan anak itu bicarakan. Tapi kesedihan tersirat di sana. Di sampingnya Erfan hanya bisa menghela napas panjang berkali-kali. Dia tau kebahagian gadisnya adalah Ken, lalu bagaimana jika Elvina memilih menjauh dari lelaki itu.