
"Kamu gak ada pikiran tergoda dengan Deo kan Na?" Tanya Erina setelah pelajaran mengenal pola dan praktek hari ini selesai.
Elvina menyipitkan sebelah mata pada Erina, "maksudnya?"
"Kamu gak tergoda sama Deo kan?" Ucap Erina serius. Elvina tertawa geli, "coba kakak lihat apa ada yang kurang dalam diri Ken sampai aku tergoda pada lelaki lain?"
"Ya siapa tau, kakak cuma nanya. Deo itu orangnya keras kalau sudah terobsesi maka harus mendapatkan." Jelas Erina, dia takut Deo mengincar adik sepupunya ini.
"Sampai kapanpun cintaku tetap Ken Kak, gak akan berubah." Elvina meyakinkan Erina dengan tersenyum.
"Terimakasih Sayang." Tiba-tiba Elvina mendapatkan pelukan dari belakang dan kecupan di pipi. Dia sangat hapal aroma parfum suaminya itu.
"Kamu ya main nyelonong masuk ke sini." Ujar Erina galak karena ikut terkejut, tangannya masih sibuk membereskan peralatan yang ada di meja.
"Tadi aku langsung disuruh masuk ke sini." Jawab Ken dengan seringaian, masih betah memeluk istrinya itu.
"Aku bantu Kak Erin beresin ini dulu Bang, lepas deh tangannya."
"Aku juga lagi bantuin kamu, Sayang. Bantu ngilangin kangen." Katanya asal kemudian melepaskan pelukannya. Ken membantu sang istri agar bisa cepat dibawa pulang. Setelah selesai mereka berpamitan pulang pada Erina.
"Siapa Deo?" Tanya Ken lembut setelah duduk di balik kemudi.
"Pelanggan Kak Erin." Jawab Elvina hati-hati, dia harus waspada. Takut suaminya menabrakkan mobil ke trotoar karena emosi.
"Godain kamu?"
"Gak aku ladeni, Bang. Suami aku sudah lebih dari segalanya. Abang gak marahkan?" Tanya Elvina khawatir.
Ken menggeleng lalu tersenyum, "Abang percaya sama El."
Elvina menarik napas lega, "Alhamdulillah Ya Allah, semoga Ken bisa cepat pulih." Doanya dalam hati.
"Terimakasih, Abang harus percaya sama aku. Aku cuma cinta sama kamu." Ken mengusap kepala Elvina sebagai jawaban. Dia sudah mengobrol banyak dengan dokter Raga lewat telpon dan minta saran. Ken sudah bisa mengendalikan emosi sedikit demi sedikit. Dia akan tetap melanjutkan terapi dengan dokter Claudia.
"Baru pulang?" Baru menginjakkan kaki ke dalam rumah Elvina sudah dibuat terkejut oleh Erfan.
"Kenapa Sayang?" Tanya Ken yang menyusul di belakang Elvina.
"Erfan ngagetin." Adu Elvina manja pada Ken, lalu tersenyum miring ke arah Erfan.
Erfan memutar bola mata jengah. Sebentar lagi akan ada drama, dia yang jadi pemeran antagonisnya. "Gak usah dimanja-manjain gitu," ketusnya.
"Abang, usir Erfan dari sini. Aku mual lihat mukanya."
"Gak usah lihat muka Erfan, lihat muka Abang aja." Usul Ken, menarik lembut istrinya untuk duduk di sofa.
"Gimana hari ini belajarnya?" Tanya Ken, tak mempedulikan wajah masam sahabatnya yang sudah menye-menye.
"Ya gitu gak gimana-gimana Bang," ucap Elvina tak bersemangat menyandarkan kepalanya di bahu Ken.
"Kalau gak suka jangan dipaksa," Ken memberikan usapan di kepala Elvina dan mengecupnya. Semua tak terlepas dari pengamatan Erfan. Lelaki itu berdecak, "mau bermesraan sana ke kamar. Jangan ganggu mata polos gue."
"Siapa suruh mata lo lihat. Nikmatin aja jangan protes."
"Jadi gue boleh nikmatin juga nih?" Erfan tersenyum penuh arti pada suami Elvina itu.
"Jangan berani-berani nyentuh kesayangan gue!" Ken mengarahkan dua telunjuknya ke mata Erfan.
"Berantem terus!" Adnan mengambil bagian duduk di sisi kiri Elvina. "Kenapa lemes gitu?" Katanya melirik sang adik ipar.
"Mau muntah liat muka Erfan," ucapnya lirih penuh drama. Adnan dan Ken tertawa geli sedang Erfan memasang tampang kecut.
"Jangan siksa Erfan berlebihan, nanti dia bunuh diri." Tutur Attisya yang langsung mendapat pelototan dari si empunya.
"Gak diam lo, gue cium!" Sarkas Erfan kesal, lalu membaringkan tubuhnya di sofa. Attisya langsung kicep duduk di samping sang suami.
"Berani sentuh Sya, gue bunuh lo!"
Erfan tak mempedulikan ucapan Adnan, dia memejamkan mata dengan damai.