
Adnan tidak tau kemana adiknya itu pergi. Sejak pagi tidak kembali sampai malam sudah selarut ini. "Sudah jam sepuluh malam Ken belum pulang Bi."
Lelaki itu masih bolak-balik menelpon Ken namun tidak tersambung. "Nana juga tidak tau Ken ada di mana." Adnan mendesah berat, apa yang sudah Elvina ucapkan sampai Ken pergi seperti ini. Gadis itu juga memilih diam.
"Ken tidak akan kemana-mana Nan, dia sudah dewasa. Duduklah, Nak." Ulfa menarik putranya untuk duduk.
"Ummi gak khawatir sama Ken?"
"Adnan, Ken itu bisa hidup sendiri. Dia tidak akan mati kelaparan. Bertahan enam tahun di Kairo sendirian saja dia bisa, Nak." Ulfa menenangkan Adnan, Nazar yang duduk di samping sang istri hanya diam.
"Ummi kenapa begitu sulit membuat mereka berdua sama-sama mengerti." Adnan mendesah berat, dia sangat menyayangi dua orang itu. Sampai membuatnya terbebani seperti ini.
"Abi tau kamu sangat ingin adik-adikmu bahagia, Nak. Tapi kita tidak bisa memaksakannya. Biarlah jodoh dan waktu yang berbicara." Nasehat Nazar, Adnan tak bergeming. Beranjak meninggalkan kedua orang tuanya.
Setelah seharian tanpa arah dan tujuan akhirnya Ken menuju pesantren Abi Zayid. Dia akan memberikan jawabannya malam ini juga.
Saat ini Ken sudah berada di ruang tamu rumah Abi Zayid. Semoga apa yang dia lakukan ini keputusan yang tepat.
"Abi, saya menerima permintaan Abi untuk menikah dengan Aish," ucap Ken meskipun hatinya ragu meninggalkan Elvina. Namun untuk apa lagi dia berjuang sedang Elvina tidak menginginkannya.
"Alhamdulillah terimakasih ya Ken. Abi sangat senang mendengarnya."
Ken mengangguk pelan, lalu tersenyum. "Iya Bi, tapi saya minta izin kembali ke Kairo dulu beberapa bulan ini." Dia akan menata hatinya terlebih dulu sebelum menikah dengan Aish.
"Semua itu bisa dibicarakan, Nak." Ujar Abi Zayid tersenyum.
"Aish, temani Ken sebentar." Zayid memanggil putrinya yang sejak tadi diam di kamar. Gadis itu keluar mengikuti Ken yang berjalan menuju pekarangan.
Ken bingung mau bicara apa, tadi dia yang mengajak gadis itu.
"Aish, aku sudah memberikan jawaban atas pertanyaanmu beberapa waktu lalu." Ucap Ken setelah sekian lama mereka saling bungkam.
"Terimakasih Ken, sudah berbaik hati menerima permintaan Abi." Aish bahagia jawaban Ken seperti yang dia mau. Tapi hatinya mengatakan Ken tidak merasakan kebahagiaan yang sama dengannya. Wajah tampan itu malah menyembunyikan kesedihan.
"Harusnya aku yang mengucapkan itu Aish, karena kamu sudah sangat baik denganku selama ini," kata Ken dengan tersenyum. Mungkin dengan cara seperti ini El akan bahagia. Setelah tau dia tidak mengejar gadis itu lagi. Selama ini Elvina terganggu dengan kehadirannya.
Aish menganggukkan kepala. "Kata Abi kamu mau menginap di sini malam ini."
"Iya, lama gak nginap di pesantren. Sebelum aku balik ke Kairo."
"Aku antar ke kamarmu Ken." Tawar Aish, Ken mengangguk mengikuti gadis itu. Mereka menuju kamar tamu yang ada di samping kamar para guru di pesantren itu.
Ken membaringkan tubuhnya setelah sendirian di kamar. "Semua yang kamu inginkan sudah kupenuhi El. Aku pergi menjauh darimu. Aku tidak mengejarmu lagi. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Kamu bahagia 'kan tanpa aku." Ucapnya lalu tersenyum membayangkan wajah berbinar Elvina.
"Aku sempat sangat optimis berpikir kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku El. Tapi ternyata aku salah, kamu terlalu pintar memainkan peran."
"Aku akan pergi Sayang, aku hanya bisa menjagamu lewat doa sekarang. Biarlah cintamu tetap bertahan di sini." Ken meletakkan telapak tangan di atas dadanya yang terasa sesak. Mungkin penuh dengan polusi, pikirnya lalu terkekeh kecil.