EL & KEN

EL & KEN
49



Elvina membuka laci, mengeluarkan memo-memo kecil berwarna pink berisi penggalan puisi yang tidak penah dibacanya selama ini. Sekarang tidak ada puisi lagi yang datang.


"Siapa pemilik tulisan ini?"


Elvina Mufida Ilman, kamu seperti rembulan yang selalu bersinar terang. Kamu bisa menerangi banyak orang yang sedang membutuhkan cahaya. Aku adalah orang yang selalu membutuhkan cahaya keindahanmu itu.


Elvina Mufida Ilman, taukah kamu, meskipun aku tak tampak dihadapanmu. Namun aku sangat menikmati senyumanmu hari ini.


Elvina Mufida Ilman, Aku rindu. Sangat rindu denganmu. Aku sangat tersiksa berjarak denganmu. Maukah jika nanti kamu yang selalu mendampingiku.


Elvina Mufida Ilman. Hari ini kamu sangat cantik. Kamu adalah keindahan yang Allah ciptakan, yang tidak dapat dipungkiri.


Elvina Mufida Ilman. Aku rindu. Sangaatt.


Elvina Mufida Ilman, temani aku di setiap harimu dengan keteduhan matamu dan manisnya senyumanmu.


Elvina Mufida Ilman, jangan menangis lagi dihadapanku. Aku tak mampu melihatmu terluka.


Elvina Mufida Ilman, jadikanlah aku pengganti Papa yang selalu bisa menjagamu dan menyayangimu.


Elvina Mufida Ilman, tersenyumlah... jangan manyun... kamu jelek kalau cemberut... ๐Ÿ˜˜


Elvina Mufida Ilman, tunggu aku menjemputmu ya, Sayang.


"Nana, aku masuk ya." Izin Adnan dari depan pintu.


"Iya." Sebenarnya Elvina malas bertemu Adnan, bagaimana lelaki itu membentaknya kemaren masih terekam jelas di kepalanya.


"Hei kenapa sedih?"


Adnan mengambil beberapa puisi dan membacanya, kemudian membalik memo itu tertulis K3IV. Elvina diam tidak menjawab pertanyaan Adnan.


"Na, maaf kemaren aku membentakmu. Aku tidak bermaksud menyakitimu." Ucap Adnan penyuh penyesalan. Dia menyesal sudha membentak Elvina, apa bedanya dia dengan Ken sekarang di mata gadis itu.


"Tidak perlu dipikirkan, Kak." Ucap Elvina lalu tersenyum manis.


"Dari siapa Na?"


"Tidak tau Kak, aku baru membacanya sejak memo kecil ini datang."


Adnan membalik memo kecil itu lalu menunjukkan pada Elvina. "Na, lihat ini kode yang sama dengan yang ada di belakang liontin dan bonekamu."


"Oh, pantesan saja tidak ada puisi yang datang lagi." Sahut Elvina santai, padahal hatinya sangat bahagia tapi disaat yang sama juga sedih karena Ken berhenti memperjuangkannya. Dia tidak boleh egois, ada Aish yang sangat mencintai Ken, mereka cocok.


"Na, Azmi jadi datang besok?"


"Sepertinya jadi, aku hubungi belum ada jawaban. Mungkin di sana gak ada sinyal."


"Na, apapun yang terjadi nanti kamu jangan kecewa ya?"


"InsyaAllah Kak," jawabnya santai.


"Kakak akan menemanimu bertemu dengannya."


"Terimakasih Kak." Elvina tidak banyak bicara, dia tidak ingin memancing kemarahan Adnan lagi.


***


"Na aku sangat merindukanmu." Azmi mendekati Elvina dan sangat dekat, ingin mencium gadis di depannya. Namun ada yang menarik Elvina mundur, satu tamparan keras mendarat di pipi lelaki itu.


"Jangan sentuh adikku Azmi." Adnan mengacungkan jari telunjuknya di depan Azmi.


Azmi yang mengenali Adnan mendekat. "Aku calon suaminya?"


"Tidak akan pernah aku izinkan adikku menikah denganmu." Tegas Adnan, Elvina hanya diam membiarkan dua orang itu berdebat.


"Kamu lihat nanti Adnan, apa yang akan aku lakukan padanya." Azmi berbisik di telinga Adnan kemudian mendorongnya mundur.


"Jika kau menyakiti adikku akan kukejar sampai ke ujung dunia sekalipun." Adnan menarik Elvina untuk pergi menjauh dari Azmi.