EL & KEN

EL & KEN
115



"Lo pernah tidur sama siapa, hah?" Elvina memucat mendengar Ken membentak, lelaki itu masih mengungkung tubuhnya. Sangat jelas terpancar amarah dan kecewa di wajah itu. Dia takut menatap suaminya.


"Lo mau menjebak gue dengan berpura-pura jadi El? Oke kita nikmati permainannya sekarang." Bukan menghentikan aktivitasnya, Ken malah melakukan dengan kasar. Tidak peduli dengan Elvina yang meringis kesakitan dan memohon untuk berhenti.


"Ken sakiiit, aku gak pernah bohongin kamu." Lirih Elvina dengan air mata yang berderai menahan sakit di bagian bawah perutnya. "Sakit, Ken."


"Simpan air mata buaya lo, inikan yang lo mau selama ini. Jadi nikmati aja." Desisnya dengan tatapan membunuh.


Elvina menggeleng, mendorong tubuh Ken tapi tidak berpengaruh apa-apa. Dia memukul-mukul dada Ken. Tapi Ken semakin mengungkung tubuhnya.


"Argh, sakit Ken. Tolong berhenti." Lirihnya, Ken tidak peduli. Elvina berusaha menahan sakitnya dengan memegang seprai, saat Ken menyentaknya dengan brutal. Setelah selesai menghajar Elvina berkali-kali Ken bangkit.


Elvina menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu meringkuk sambil menangis di atas kasur. Ini sangat menyakitkan, Ken tidak percaya dengannya.


Terdengar suara pintu kamar mandi dibanting. Elvina tidak berani membuka mata untuk meliriknya. Hilang sudah sikap lembut Ken tadi malam.


Tidak ada lagi candaan seperti subuh tadi, baru saja Ken mencumbuinya dengan penuh kasih sayang, secepat itu berubah jadi kasar.


Elvina melirik Ken yang keluar kamar hotel membawa kopernya. Huft, sesakit ini ternyata, baru saja hati ini berbunga-bunga, gumamnya.


Gadis itu berusaha bangun, tapi badannya lemas dengan rasa sakit di sekujur tubuh. Elvina memutuskan kembali istirahat di hotel dulu sampai lebih baik. Urusan Ken biarlah nanti dia selesaikan. Mau bagaimana pun suaminya itu terserah saja.


Baru satu hari mereka jadi suami istri. Kalau Elvina memilih bertahan maka dia harus memiliki stok sabar yang banyak dan mental yang kuat.


"Nana mana?" Tanya Adnan, Ken menggeret kopernya masuk ke kamar. Tapi tidak dengan Elvina.


"Perempuan murahan itu gue tinggal di hotel." Ucapnya masih dengan nada marah.


"Sya, cepat siap-siap," ajak Adnan. "Kenapa lagi anak itu bikin ulah terus," desisnya.


"Biar Abi nanti yang susulin Ken, kamu urus Elvina."


Adnan mengangguk, dia segera berangkat setelah istrinya sudah siap. Pasangan suami istri itu segera menuju kamar hotel yang ditempati Ken.


"Astaghfirullah Nana." Pekik Attisya, iparnya itu meringkuk di bawah selimut. "Demam Mas," ucapnya setelah memeriksa suhu tubuh Elvina.


"Mas tunggu di luar dulu."


Adnan mengangguk mengerti, Ken meniduri istrinya seperti perempuan panggilan. Setelah mendapatkan apa yang dimau langsung ditinggalkan. Dia akan memberikan perhitungan untuk adiknya itu nanti.


Attisya meringis melihat kondisi mengenaskan Elvina. Tubuhnya penuh dengan tanda-tanda dari Ken. Perempuan itu membantu memasangkan pakaian adik iparnya dengan pelan.


"Aargh, sakit." Gumam Elvina masih dengan mata yang terpejam. Attisya memanggil suaminya setelah selesai memasangkan pakaian Elvina.


Adnan menggendong gadis itu ke mobil, dia benci melihat adiknya tersayang dalam kondisi seperti ini.


"Kita langsung ke rumah sakit Mas. Nana mengeluh sakit."


"Iya, Sya." Jawab Adnan dengan anggukan. "Apa yang Ken lakukan sampai kamu seperti ini Na." Lirihnya, sungguh dia merasa sangat bersalah.  Lelaki itu memberikan Elvina dalam pelukan istrinya di dalam mobil.


Huhhh, Adnan harus bersabar untuk menghajar Ken. Tidak bisa sekarang dia lakukan. Adnan melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.