
"Bi, kemana kita mencari Nana?" Adnan masih mondar-mandir di depan mobil tangan kanannya menepuk-nepukkan ponsel yang di pegangnya. Nazar mengamati ke sekeliling taman yang hanya terang oleh cahaya lampu. Ulfa terus menenangkan Kila dalam mobil.
Dering ponsel Adnan memecah ketegangan.
"Nana menelponku." Teriak Adnan, dia seperti mendapat angin segar untuk mengisi paru-parunya.
"Halo Sayang kamu di mana? Kakak mencarimu dari tadi." Adnan langsung menyerang Elvina dengan pertanyaan.
"Kak, jemput aku di Mega Hotel sekarang." Ucap Elvina dengan terisak-isak.
"Na, apa yang terjadi, kenapa kamu menangis?"
Adnan bergegas melajukan mobilnya menuju Mega hotel, tempatnya tidah jauh dari taman. Diikuti petugas hotel Adnan, Ulfa, Nazar dan Kila berlari menuju kamar Elvina.
Adnan membeku melihat Elvina lemas sambil menangis, matanya tertuju pada sprei putih yang terdapat bercah darah.
"Nana, kamu kenapa?" Nazar berjongkok mendekati Elvina yang memeluk lututnya.
"Azmi Paman, Azmi." Elvina tidak dapat berbicara lagi mulutnya terkunci.
"Azmi sudah menghancurkan Nana, bajing*n Azmiii, kau bajing*n." Teriak Adnan histeris karena sangat emosi. "Ya Allah, Nana kenapa kamu tidak mendengarkan kata-kataku untuk tidak menemuinya. Kenapa Na, kenapa?" Adnan tertunduk dihadapan Elvina.
"Kenapa kamu tidak mendengarkan perkataanku Sayang?" Lirih Adnan, dia sudah melarang Elvina bertemu Azmi. Tapi gadis itu tak mengindahkan pertanyaannya.
Elvina hanya bisa menangis tidak dapat bersuara lagi, sekarang dia sudah sangat hancur.
"Nana, kuat ya Sayang, kita ke rumah sakit sekarang. Dan buat laporan ke polisi." Nazar memeluk Elvina dan menguatkan hatinya, "Nana kuat ya Sayang." Lelaki paruh baya itu pengusap punggung gadis yang sudah dianggapnya putri sendiri.
"Tidak perlu. Aku tidak butuh Ken ada di sini. aku tidak butuh dia Abi, aku tidak butuh." Bentak Adnan. Membuat Ulfa memasukkan kembali ponsel dalam tasnya.
Nazar tidak mendebat Adnan yang sedang sangat marah. Dia menuntun Elvina yang lemas ke mobil, Adnan melarikan mobilnya dengan cepat menuju rumah sakit. Kila hanya terdiam dari hotel sampai ke rumah sakit. Mulutnya membisu dan badannya membeku. Di peluknya erat putri satu-satunya.
Baru tadi pagi mereka berbincang. Putrinya terlihat sangat kuat melepaskan cintanya demi orang yang dia sayang. Tapi kenapa malah gadisnya yang harus mengalami penderitaan berlarut-larut.
"Bagaimana dokter?" Tanya Nazar pada dokter setelah memeriksa Elvina.
"Untuk fisiknya baik-baik saja Pak, tidak ada luka sobek karena kekerasan. Hanya efek dari obat tidur yang membuatnya lemas. Dia mengalami trauma, sebaiknya segera dibawa ke psikiater untuk ditangani lebih lanjut." Jawab sang dokter kemudian meninggalkan ruangan.
Adnan mendekati Elvina yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Sayang, kakak 'kan sudah bilang. Kenapa kamu masih menemuinya. Inilah yang aku khawatirkan. Dia hanya ingin menghancurkanmu, Sayang."
"Aku kangen dia kak," sahut Elvina singkat, dia takut Adnan marah lagi padanya.
"Aku akan selalu menemanimu di sini, jangan takut ya." Adnan menenangkan Elvina, meski ingin sekali dia marah namun sudah tidak ada gunanya lagi. Semua sudah terlambat.
"Kak aku kotor, menjijikkan kak. Aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah tidak berarti lagi kak." Mulutnya terkunci setelah mengucapkan kata itu, hatinya sangat pilu mengingat semua yang sudah terjadi. Air matanya tidak mau berhenti menetes.
"Nana jangan berkata seperti itu Sayang, kamu masih sangat berarti buat kami." Adnan tidak tahan melihat Elvina yang terus menangis, menjauh darinya.
"Akan kuhabisi kau j*hanam," teriak Adnan.
"Teruskan pencarian dan kejar bajing*n itu sampai dapat, dia belum jauh dari sini." Suara Adnan menelpon seseorang dengan kemarahannya.