EL & KEN

EL & KEN
61



Inilah yang Elvina mau, menyembunyikan lukanya dari semua orang. Tugasnya sudah selesai membuat Adnan tertawa dan bahagia hari ini.


Dia tidak ingin Adnan merasa khawatir karena kesedihannya. Elvina menghirup udara yang banyak. Paru-paru sekarang terasa penuh dan sesak. Tiga minggu sudah dia berdiam diri, aktivitasnya hanya kamar, dapur, ruang tengah dan taman.


Jenuh, Elvina terbiasa disibukkan dengan rancangan-rancangan pembangunan gedung. Sekarang hanya jadi anak rebahan.


"Ma, aku ke kerja di kantor Papa ya?"


"Ngapain, Sayang? Perusahaan Papa sudah di urus Om Erland." Ujar Kila, Erland—sepupu mendiang suaminya, karena Aliandra anak tunggal.


"Aku sudah janji sama Papa, akan bekerja di perusahaan Papa kalau sudah tiga tahun bekerja di tempat Paman. Aku sudah lebih tiga tahun bekerja di tempat Paman."


"Kamu belum aman berada di luar Sayang, temani Mama aja di rumah," bujuk Kila.


"Aku bosan Ma. Sudah tiga minggu jadi pengangguran." Elvina memainkan remot televisi, tidak berhenti memindah chanel. Entah tontonan apa yang dia cari. "Aku mau pergi dari sini, Mama mau ikut gak?"


"Kemana?" Kila memperhatikan putrinya yang manyun, gadis itu hanya mengendikkan bahu.


"Kemana aja, biar gak ketemu Kak Adnan, Ken dan Erfan lagi." Ucapnya tanpa beban seperti sedang bercanda.


"Mereka itu penyemangatmu, Nak. Kenapa harus pergi dari sini?" Kila tau tanpa tiga lelaki itu putrinya akan kembali terpuruk.


"Kamu gak mau ngasih tau Mama mau pergi kemana?"


Elvina tersenyum lalu menggeleng, "kalau aku ngasih tau Mama, mereka pasti akan buka suara." Kekehnya, dia akan pergi untuk menyembuhkan lukanya. Elvina sudah memutuskan untuk pergi ke psikiater, dia tidak bisa berjuang sendirian. "Mama cukup pastikan kalau Ken menikah dengan Aish, katakan maafku nanti karena tidak akan hadir di pernikahan kakakku tersayang itu."


"Kamu mau ninggalin Mama, Na?"


"Aku akan tetap ada di sini, Ma." Elvina meletakkan telapak tangannya di dada sang bunda. "Setelah kondisiku lebih baik, aku akan kembali lagi. Jangan khawatirkan aku, Ma."


"Na, kamu putri Mama satu-satunya. Sekarang kamu mau ninggalin Mama," ucap Kila sendu. Dia tidak pernah berjauhan dengan anak semata wayangnya ini.


"Ma, tolong izinkan aku pergi untuk kali ini. Kali ini saja, aku perlu waktu sendirian untuk menyembuhkan hatiku." Elvina bersimpuh di lutut Kila, "Nana sayang Mama, kalau aku memilih istirahat sebentar bukan berarti aku gak sayang sama Mama." Gadis itu menyembunyikan wajah di lutut sang bunda.


"Pergilah Nak, Mama akan selalu mendoakanmu. Kamu benar, putri Mama perlu waktu untuk menyembuhkan luka." Kila membawa putrinya kembali duduk di sofa lalu memeluknya erat. "Mama hanya tidak bisa melihat putri Mama terpuruk lagi."


"Aku janji akan lebih kuat Ma. Aku akan pulang dalam keadaan pulih. Mama jangan terlalu khawatir." Elvina meyakinkan Kila, walau dia tidak tau butuh waktu berapa lama agar bisa pulih.


"Iya Sayang." Kila bisa apa selain mendoakan putrinya.


"Mama jangan sedih." Gadis itu mengusap lembut pipi perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia. "Aku ke kamar dulu ya Ma." Setelah mendapat anggukan dari Kila, Elvina beranjak dari ruang tamu.