EL & KEN

EL & KEN
21



"Na, keluar sebentar." Adnan berdiri di depan pintu kamar Elvina, terus memanggil-manggilnya. Cukup lama Adnan menunggu di depan pintu.


"Alhamdulillah. Akhirnya kamu mau membuka pintu Na."


"Hei kamu habis menangis lagi, kali ini aku punya cokelat tapi bukan cokelat hangat. Ini buat kamu." Adnan mengeluarkan cokelat dari sakunya.


"Makanlah, biar hatimu bahagia, Sayang."


Untung Ken sudah menyiapkan semuanya. Jadi tidak terlalu sulit untuk Adnan membujuk gadis ini.


"Aku mau pulang Kak, sudah tidak kuat di sini."


Ken tidak pernah menghargainya sedikitpun selama ini. Semua hasil kerja kerasnya, selalu saja salah.


"Sebentar lagi Na, bertahanlah dua minggu lagi. Jangan buat Pak Nazar dan Papa kecewa karena kamu emosi seperti ini."


"Aku lelah Kak, tidak pernah dihargai di sini." Ucap Elvina sendu.


"Na, aku ada melihat ayunan di balik pepohonan sana sepertinya tempat bermain anak-anak. Kita kesana yuk." Bujuk Adnan


Elvina menurut mengikuti Adnan menuju ke balik pepohonan. Dia tidak ingin berdebat dengan siapapun lagi hari ini.


"Baguskan Na, pasti kalau sore anak-anak main bola di sini. Nanti kita sore ke sini lagi ya. Jangan manyun lagi, jadi jelek."


"Kenapa Kakak selalu baik padaku?"


"Aku kakakmu Na dan aku juga ditugaskan menjagamu, kalau tidak nanti aku dipecat. Ayo aku ayun."


"Cukup bayar upahnya dengan senyuman yang menawan." Goda Adnan, tapi gadis yang digodanya tak berekspresi.


"Kak aku lelah...!"


"Iya Sayang, kakak paham. Sudah ya jangan menangis lagi." Adnan berjongkok di depan gadis itu. Mengamati Elvina yang terus memegang liontinnya dengan wajah sendu. "Kenapa terus memegang liontin itu?"


"Aku rindu ingin bertemu pemiliknya Kak."


Bujukan-bujukan Adnan tak ada yang berhasil kali ini. Elvina diam tidak mau mendengarkan perkataannya.


"Ayo senyum," desak Adnan. Gemas sendiri dia melihat wajah yang kusut itu.


"Nih udah senyum."


Elvina menarik bibirnya dengan kedua tangan, menunjukkannya pada Adnan.


"Tambah jelek ternyata kalau gak ikhlas gitu. Susah banget disuruh senyum." Kesal Adnan


"Kak, aku mau naik ke atas." Elvina menunjuk ke arah rumah pohon.


"Ayo kita naik, tapi kalau jatuh jangan mengadu sama aku ya."


"Terus aku mengadu sama siapa dong kalau kesakitan." Katanya manja, duh Adnan jadi lemah iman begini. Benar kata Ken, kalau lembut dengan nih anak bisa menguji iman.


"Kamu itu lucu, tadi bisa garang di depan Ken, marah-marah. Terus nangis dan minta manja-manja sesenaknya gini sama aku." Keluh Adnan, "harusnya kamu manja aja sama Ken yang sudah menyakitimu." Lanjutnya, membuat Elvina mengeluarkan gelak tawa.


"Kakak, mana bisa begitu. Aku sedang marah sama Ken, masa minta dibujuk Ken juga. Kan gak lucu, dimana harga diriku." Ucapnya dengan menggembungkan kedua pipi. Adnan jadi geleng-geleng kepala.


"Ayo naik sekarang," ajak Elvina


"Kalau jatuh jangan ngadu sama Kakak, ngadunya sama Ken." Goda Adnan membuat Elvina cemberut masam.


"Kak, aku musuhan sama Ken. Mana bisa manja-manja sama dia."


"Sama Kakak kenapa bisa?" Adnan menaik turunkan alisnya jahil.


"Kan Kakak yang bilang, kalau aku lebih sayang Kak Adnan daripada Ken." Elvina balas menggoda.


"Gak bisa dibaikin ternyata ya, ngelunjak." Elvina hanya nyengir kuda. "Bisa ya godain aku gini. Ayo naik," ajak Adnan akhirnya.


Andai bukan Ken yang sangat mencintai gadis di depannya ini. Adnan sudah pasti meminangnya sejak dulu.