EL & KEN

EL & KEN
104



Dari depan pintu Aish mendengarkan semua kepiluan yang adik sepupunya itu ucapkan. Semua terjadi karena salahnya. Dia yang sudah menyakiti adiknya sampai seperti ini.


Aish datang bersama abinya, saat Nazar mengabari Elvina masuk rumah sakit karena percobaan bunuh diri.


"Maafin aku, Na. Maafin aku sudah jahatin kamu. Maafin aku karena sudah menuduhmu merebut Ken. Maaf." Aish menangis dipelukan Elvina setelah Kila memberikan ruang untuknya.


"Kamu mungkin juga tidak tau kalau keponakanmu itu dilecehkan, Zayid. Dimana kamu selama ini, bahkan sampai mengabaikannya hanya karena calon menantu." Sarkas Erland pada Zayid, pria paruh baya itu hanya membeku di tempat. Dia tidak tau, bahkan keponakannya itu dengan beraninya jujur padanya agar tidak ada salah paham. Tapi dia malah menutup mata akan semua itu.


"Aish tau, aku sakit saat Aish ngomong gitu sama aku." Lirih Elvina.


"Aish tau, Aish minta maaf." Gadis itu tidak dapat berkata apa-apa lagi selain menangis.


"Apa Aish tau sesakit apa aku harus melepaskan Ken. Apalagi saat Ken memohon agar aku menerimanya, tapi aku gak bisa karena menjaga hatimu. Itu sakit Aish. Tambah sakit saat kamu bilang aku merebut Ken darimu. Kamu bilang aku perempuan murahan. Sebelum kamu bilang pun aku sadar diri kalau aku gak pantas buat Ken."


"Sekarang kamu senangkan lihat aku gini, sekarang kamu senangkan lihat Ken lupa sama aku. Kamu menang Aish." Ucapnya dengan dengan setengah tertawa yang sangat mengerikan.


"Maafin aku Na, maafin aku." Mohon Aish, segala pengaduan adiknya itu sangat menyakitkan. Semua yang berada di ruangan hanya bisa bungkam.


Zayid memeluk adiknya yang tak berhenti menangis. "Maafin Abang, Kila. Maaf sudah membuat kalian menderita." Pria paruh baya itu mengecup puncak kepala adiknya berkali-kali.


"Om Er, aku kangen." Rengek Elvina manja setelah Aish melepaskan pelukannya.


"Om juga kangen, Sayang." Erland mendudukkan keponakannya dan memeluknya dengan sayang. "Cepat sembuh, ikut pulang sama Om ya."


Elvina mengangguk, "aku mau pergi jauh dari sini, Om."


"Mau kemana, Om antar."


"Aku mau ke Jogja, ketemu dokter Raga." Elvina ingin bertemu dokternya itu dan mengadukan segala resah di hatinya.


"Oke, kalau Nana sembuh Om antar ke Jogja." Erland menghapus bekas air mata di mata Elvina, gadis itu sudah bisa tersenyum lagi.


"Hm, lapar? Tante kamu sebentar lagi datang bawain makanan."


Elvina mengangguk, membenamkan wajahnya di bahu Erland.


"Tangannya sakit?" Tanya Erfan lembut.


"Sedikit," cicitnya.


"Kalau sedikit harusnya tadi gak sampai pingsan dong," goda Erland.


"Hm, aku tidur kok. Bukan pingsan," kilahnya. Erland menanggapi dengan tertawa. Baru selesai menangis pun sudah pura-pura kuat lagi. Lelaki itu semakin mendekap tubuh keponakannya.


"Hai, hai, Tante datang." Sapa seorang wanita paruh baya yang baru datang. Inara, istri Erland. "Eh, enak banget ya tidur dipelukan suami Tante." Goda Inara, Elvina menoleh dan menyunggingkan senyumannya.


"Tante bawain apa, Nana lapar." Adunya, "tapi aku mau disuapin, tangannya sakit." Rengeknya dengan manja.


"Iya, Om suapain," ujar Erland.


Jika kalian pikir Elvina sudah tidak sakit hati lagi, kalian salah. Dadanya masih sesak, tapi berusaha untuk mengindahkannya. Dia tidak ingin dikasihani.


"Mama jangan nangis, Ummi juga. Nana udah sehat." Katanya dengan tersenyum manis, siapa yang percaya muka pucat seperti itu mengaku sudah sehat. "Mama makan juga sini, tadi kita belum makankan."


"Iya nanti Mama makan, kamu makan duluan." Jawab Kila, melihat senyum pilu itu menambah kadar sesak di dada.


Tidak ada yang bersuara, semua hanya mengamati interaksi anak dan keponakan itu. Suasana yang tadi mencekam tiba-tiba diubah Elvina dengan tawanya yang tambah mengerikan untuk di dengar.


Bagaimana tidak, tawa palsu itu menyimpan segala kesakitan yang tidak bisa dilihat orang lain. Andai gadis itu tidak mengungkapkannya malam ini.


"Aku gak kuat, Mas." Adu Attisya dipelukan suaminya, "sakit banget ih, liat dia gitu." Adnan tidak menjawab, hanya mengusap lembut kepala istrinya dengan sayang. Dia juga merasakan sakit yang sama.