
Semua orang sudah siap di ruang meeting. Nazar meneliti ke setiap sudut ruangan. Tidak menemukan putra bungsunya ada di sana. "Adnan, Kemana Ken. Kenapa tidak ada di ruang meeting?" Tanya Nazar, lelaki yang ditanya malah menatap wajah Elvina yang sendu.
Tidak salah lagi, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan mereka berdua. Satunya lemas tak bersemangat, yang satu lagi menghilang. Adnan meraup wajah kasar, dia lelah menghadapi adik-adiknya ini.
"Tadi dia berangkat denganku, tapi tidak tau sekarang kemana?" Sahut Adnan. "Na, Ken ke mana?"
"Aku gak tau kak," jawab Elvina malas.
"Nana, ikut aku keluar."
Elvina menurut saja mengikuti Adnan keluar dari ruang meeting dan masuk keruangannya.
"Apalagi yang terjadi dengan kalian sih, Na?" Adnan sudah tidak tahan dengan tingkah Ken dan Elvina. Kesabarannya sudah habis menghadapi mereka berdua.
"Aku gak tau kak, kenapa mencari Ken padaku. Aku bukan pengawalnya. Aku capek!" Sentak Elvina, kenapa masalah Ken harus dikaitkan dengannya.
"Nana, kalau cinta kenapa tidak diakui." Adnan membentak Elvina. Gadis itu diam tak bergeming menundukkan wajahnya. Kali pertama dibentak Adnan yang selalu bicara lembut padanya. Cukup membuat Elvina kaget.
"Kak biarlah dia pergi," lirih Elvina.
"Aku lelah menghadapi kalian yang keras kepala." Adnan membanting pintu keluar dari ruangan Elvina dan masuk keruangan sang ayah menunggu Nazar selesai meeting.
Elvina membenamkan wajahnya ke meja, lalu tersenyum miring. Siapa yang dia punya sekarang, Adnan sudah marah d
Kenapa semakin rumit setelah datangnya Ken, dia tidak tau apa-apa. Ruang meeting yang awalnya tenang jadi penuh kericuhan. Elvina yang tidak pernah menentang Nazar akhirnya berani membentak lelaki itu. Adnan yang tidak pernah marah padanya sekarang marah-marah.
Gadis itu menggeleng pelan, dia lelah. Mungkin butuh waktu untuk menyendiri lagi. Dia akan memulihkan hatinya sendiri setelah ini, tidak perlu bantuan siapapun.
Dia sudah tidak mood melakukan apapun. Elvina menegakkan tubuh lalu memain-mainkan mouse di atas meja sambil tersenyum.
Berbeda dengan Adnan yang masih mengepalkan tangan di ruangan Nazar. Entah dia marah pada siapa, mungkin dengan dirinya sendiri karena tidak bisa membuat adik-adiknya bahagia.
"Kenapa Nan?" Nazar menatap penuh tanya putranya yang terbakar emosi. Apa yang sudah membuat Adnan semarah ini. Lelaki paruh baya itu baru kembali dari ruang meeting.
"Aku lelah melihat dua orang itu Bi, sama-sama keras kepala." Sahut Adnan dengan emosional.
"Biarlah mereka menjalani pilihannya sendiri Nan, mereka punya pilihan masing-masing." Nasehat Nazar, dia tidak bisa memaksa Elvina untuk menerima putranya.
"Aku tidak tega melihat mereka tersiksa begini, Bi." Adu Adnan, mereka yang bertengkar kenapa harus dia yang menerima sakitnya juga.
"Mereka sudah dewasa, bisa memutuskan sendiri. Kita bersikeras ingin menyatukan mereka, namun salah satunya tidak mau menyadari. Kita yang akan lelah sendiri, Nak." Nazar menepuk pundak putra sulungnya. Adnan itu sangat dewasa dan mengayomi adik-adiknya.
"Bi, kita bisa saja mengabaikan mereka, tapi kita punya pilihan yang lebih bijak dari itukan, selain tidak peduli."
"Abi tidak tau harus bicara apa lagi Nan, keduanya anak Abi. Tapi Abi tidak bisa memaksa Nana untuk menerima Ken. Kamu tenanglah Nak, biarkan adik-adikmu menenangkan diri dulu." Nazar menasehati Adnan yang masih dipenuh amarah.