EL & KEN

EL & KEN
81



"Kamu terlalu berpura-pura kuat." Raga menatap lekat gadis yang menunduk di depannya. "Pura-pura kuat itu perlu, tapi kamu juga harus jujur dengan diri sendiri. Berpura-pura itu melelahkan."


"Abang!" Pekik Dela menyusul ke rooftop, "Abang bikin Nana nangis?" Geram adik Raga itu, melihat temannya tertunduk lesu dia tidak rela.


"Adel, bisa gak gangguin Abang."


"Abang sudah bikin Nana nangis." Kekeuh Dela dengan wajah kesal.


"Adel, ini privasi dokter dan pasien tolong pergi!" Tegas Raga.


"Abang aku aduin papa." Kesal Dela dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Mau masuk apa di sini dulu?" Tanya Raga lembut, adiknya sudah mengganggu. Padahal sedikit lagi dia bisa membuat Elvina mengekspresikan perasaannya.


"Di sini dulu boleh?" Raga mengangguk senang, itu artinya Elvina mau dibantu untuk pulih.


Di ruang keluarga Dela menghentak-hentakkan kaki dengan gusar.


"Papa, abang bikin Nana nangis." Adunya, Lingga mengernyit bingung, beberapa saat kemudian baru dia mengerti.


"Tadikan Nana bilang kalau abangmu itu dokter yang menanganinya. Tugas abang emang bikin orang biar bisa nangis untuk meluapkan semua lukanya, Adel Sayang." Jelas Lingga pelan, masa anak gadisnya itu tidak paham yang begitu. Galuh yang mendengar terkekeh kecil.


"Gitu ya, tapi tadi Adel diusir abang. Katanya privasi dokter dan pasien."


"Hei, hei sini duduk." Panggil Galuh, menarik tangan putrinya. "Semua keluhan pasien, dokter tidak boleh membeberkan. Itu sudah jadi sumpah seorang dokter."


Dela menggaruk kepalanya malu, "jadi Adel gak boleh ganggu abang?" Tanyanya polos, padahal sudah tau jawabannya seperti apa. "Tapi abang pasti cari kesempatan Mah," protesnya lagi.


"Cari kesempatan gimana sih, kamu itu sebenarnya cemburu sama siapa? Sama Abang apa Nana." Raga memeluk adiknya dari belakang sofa lalu mengecup di kepala. Kemesraan antara adik dan kakak itu tidak terlepas dari pandangan Elvina.


Dia cuma punya Adnan sebagai kakak yang selalu memanjakannya. Tapi sekarang lelaki itu sudah menikah, sudah sepantasnya Elvina menjauh dari keluarga itu.


"Iya-iya, kalau mau juga abang seriusin." Ucapnya, setelah mengecup pipi sang adik, Raga berlalu ke kamar.


"Abaaang, Adel gak suka dicium." Pekiknya geram sembari mengusap-usap pipinya dengan telapak tangan.


Elvina juga pamit masuk ke kamar setelah menyaksikan drama kakak adik itu sambil tersenyum geli.


Hati Elvina bukannya lega setelah mengungkap keluh-kesahnya malah tambah sesak. Tidak ada cara menyembuhkan luka dengan instan. Luka di tangan saja kalau di obati pasti akan terasa perih.


Kata Raga, sebagian orang memang mengalami seperti itu, ada yang merasakan lebih sakit setelah luka itu dikorek-korek. Baru akan lebih baik setelah beberapa kali pertemuan. Sepertinya Elvina menjadi bagian dari segelintir orang itu.


Gadis itu memeluk beruang kesayangannya kala tengah rindu dengan Ken. Kepergian Elvina setidaknya bisa membuat Ken mantap menerima sepupunya dengan sepenuh hati.


Ada sesak yang hadir ketika mengingat sang sepupu dan pamannya itu. Kenapa mereka tidak mau percaya dengannya. Kalau dia siap melepaskan Ken untuk sang kakak.


Dia juga rindu sang sama, selama empat hari berada di Jogja dia tidak ada memberikan kabar apapun. Elvina khawatir Ken akan menyusul kalau tau keberadaannya.


Ingin, tapi tak mampu untuk di gapai. Berharap takdir berpihak pada cinta mereka. Namun keluarganya akan terpecah. Tidak hanya keluarganya, keluarga Ken juga.


"Nana, boleh masuk?" Tanya Dela dari depan pintu kamar Elvina.


"Masuk Del." Ujarnya setelah mengusap mata agar tak terlihat sedang sedih.


"Lo nangis?" Elvina terkekeh kecil lalu menggeleng. "Astaga Na, lo bawa boneka ginian, pantesan barang lo kayak mau orang pindahan."


"Gue gak bisa tidur kalo gak ada ini." Elvina memeluk beruang besarnya dengan sayang.


"Spesial banget pasti yang ngasih." Mata Dela menatap cincin yang terpatri di jari manis Elvina. "Lo udah nikah Na? Ini cincin harganya gak main-main." Gadis itu mengusap cincin di jari Elvina. Elvina sampai bingung, kenapa orang selalu fokus pada cincin di jarinya. Apa terlihat sangat menonjol.