EL & KEN

EL & KEN
158



"Turun atau kami hancurkan kaca mobil ini." Seorang pria berperawakan besar itu membentak, mengetuk kaca mobil dengan keras.


Dela memandang Elvina, memikirkan cara untuk melarikan diri. Sedetik kemudian gadis itu menyeringai melirik spion, jalanan kosong. Karena mereka dihentikan di jalanan sepi.


Mobil berjalan mundur, sesaat dua orang itu belum sadar. Setelah mengambil ancang-ancang, Dela melesatkan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sesaat dia bisa bernapas lega.


Gadis itu berdecak kala mobil di belakang mengejarnya. "Telpon papa, Na!" Titah Dela memberikan ponselnya pada Elvina.


"Gak dijawab juga," lirih Elvina panik. Kenapa saat seperti ini tidak ada yang bisa dihubungi.


Dela semakin mempercepat laju mobilnya lagi. Dia sudah seperti orang kesetanan melajukan mobil. Kalau bisa terbang, dia terbangkan sudah mobil ini.


"Ingat Del, kita mungkin bisa selamat dari kejaran mereka. Tapi nyawa kita bisa melayang." Protes Elvina, kurang yakin. Kalau Dela yang melajukan mobil seperti pembalap, apakah mereka masih bisa pulang dengan selamat.


"Diam Na, gue lagi konsen!"


Elvina menurut, demi keselamatan mereka. Cuma kesehatan jantungnya yang sedang dalam bahaya.


Dela bisa bernapas lega saat berhasil memasuki komplek perumahan. Membuat mobil yang mengikuti kehilangan jejak.


Elvina keluar mobil dengan tubuh lemas, untung mereka tidak mati di jalan. Badannya gemetaran, huh pertama kali ikut pembalap amatiran.


"Na, gue pusing." Ujar Dela sambil memegangi kepalanya masuk ke rumah.


"Sama," keluh Elvina. Kondisi mereka mengenaskan dengan tubuh gemetaran dan tangan dingin seperti mayat.


Dua perempuan itu menghempaskan tubuh ke sofa. Mereka kehilangan banyak tenaga setelah main kebut-kebutan.


Sedang di dalam kamar Raga terbangun karena ponselnya tidak berhenti berdering. Sang adik pelakunya, dia berniat menyusul Elvina tadi tapi ketiduran.


"Abang keluar!" Pekik Dela marah setelah kakaknya menjawab telpon. Belum sempat Raga bersuara telpon sudah dimatikan.


"Nana!" Banyak panggilan tak terjawab dari perempuan itu. Raga bergegas bangkit dari ranjang tidak jadi mengomel dalam hati pada sang adik. "Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi." Katanya sambil berlari menuju ruang tengah.


"Kami di kejar-kejar orang." Dela menarik tangan Raga untuk duduk di sofa lalu bersandar dengan nyaman. "Abang, nanti gendong aku ke kamar ya kalau ketiduran," ucapnya lemas.


"Abang buatin kalian minuman hangat dulu." Raga menyandarkan kepala adiknya dengan pelan ke sofa.


"Di kejar? Ada urusan apa mereka mengejar adiknya. Atau bukan Adel yang di cari, tapi Nana." Pikir Raga seraya bergerak menuju dapur.


"Kenapa ribut-ribut?" Tanya Lingga yang berpapasan dengan putranya. Dia dan istrinya terbangun. Seperti yang dilakukan Dela pada Raga, gadis itu juga membangunkan papanya dengan menelpon tanpa berhenti sampai orang tuanya terbangun.


"Adel sama Nana di kejar orang Pah, aku ketiduran gak sadar waktu Nana telpon tadi."


"Di kejar?" Bingung Galuh, lalu meninggalkan suami dan anaknya lebih dulu untuk memeriksa putrinya.


Dela tersenyum lemas melihat semua orang terbangun karenanya, rasain desisnya dalam hati.


"Ngapain bangunin mereka juga sih Del, kasian tau. Lagian kita udah selamat." Elvina berdecak sebal dengan tingkah polah Dela.


"Biarin, siapa suruh enak-enakan tidur. Kita malah main kejar-kejaran sampai lemas gini."


"Dasar anak durhaka!" Desis Elvina, Dela terkekeh kecil.


"Siapa yang ngejar kalian?" Galuh datang dengan tergesa-gesa, memandang dua perempuan itu bergantian.


"Belum sempat kenalan Mah, nanti besok kalau ketemu lagi aku ajak kenalan." Jawab Dela asal. Galuh memutar bola mata kesal, menjewer telinga putrinya.


"Aauw, aauw, aku lemes nih Mah, kenapa masih di jewer sih. Emang aku salah apa?" Tanya Dela tanpa dosa.


"Kamu gak tau salah kamu apa, hah?" Kesal Galuh, makanya cermin di kamar itu di pake. Jangan cuma buat pajangan!"


Anak siapa sih, tengah malam begini masih saja membuat orang tua kesal, Galuh berdecak. Elvina tidak berani ikut campur selain badannya yang mabuk mobil, matanya juga mengantuk tambah bonus badan lelah.


"Ini malam loh, kalian masih berantem aja." Tegur Lingga, melerai anak dan istrinya yang sedang berseteru. Dua orang perempuan itu langsung hening.