EL & KEN

EL & KEN
57



"El apa yang terjadi denganmu Sayang, kenapa hatiku tidak tenang. Apa ada yang menyakitimu. Maaf, akulah yang selalu menyakitimu itu. Maaf karena aku memilih berhenti memperjuangkanmu."


Adnan tidak menjawab di telpon, abi juga. Apa sebenarnya yang terjadi. Apa mereka marah dengan keputusannya.


Ken sedang gundah sekarang, kehilangan arah saat jauh dari Elvina. Dia bagai debu yang terombang-ambing karena terus merindu.


"El, kamu di mana, Sayang. El juga tidak mengangkat telponku. Ya Allah jaga El, maaf aku sudah terlalu sering menyakitinya. Aku tidak jauh darimu Sayang, aku selalu ada di hatimu. Aku di sini selalu merindukanmu. Kamu jangan menjauh dariku El."


Bagaimana dia bisa menikah dengan orang lain kalau pikirannya selalu dipenuhi Elvina. Kenapa sulit sekali melepaskan bayangan gadis itu.


Kalau bisa sudah sejak dulu Ken melupakan Elvina, saat tidak ada harapan untuk bisa mendekat. Tapi terlalu sulit untuknya bisa lupa.


Padahal pertemuan pertama mereka begitu singkat. Saat Elvina merayakan ulang tahun ke lima belas. Ken hadir di sana, dia langsung terpesona dengan gadis itu. Setelahnya, bayangan El susah untuk dilupakan.


***


"Nana kamu apa kabar? Aku bawakan hadiah untukmu."


Tiba-tiba Erfan muncul di balik pintu kamar Elvina, setelah minta izin dengan Kila lelaki itu langsung masuk. Erfan meletakkan paper bag yang dibawanya ke meja, kemudian duduk di sisi lain tempat tidur jarak mereka cukup jauh.


"Terimakasih, kamu selalu tau kalau aku matre."


Elvina berbinar-binar dengan kedatangan Erfan, lelaki itu selalu bisa membuatnya tertawa bebas tanpa beban. Erfan mengambil memo-memo yang bertebaran di samping Elvina seraya membaca satu persatu.


"Woow apa ini Na, puisi dari siapa?" Pekik Erfan histeris, lelaki di depan Elvina ini selalu bisa memancing senyuman.


"Dari Ken, apa Kak Adnan yang menyuruhmu ke sini?"


Elvina tersenyum, hatinya lega Adnan tidak bercerita apapun pada Erfan.


"Pantas saja tidak bisa jauh dari Ken, setiap malam bersama dengan ini." Erfan memangku beruang besar kesayangan gadisnya. "Kapan Ken kembali?"


"Heemm dia belum mengabariku sih, kapan mau pulang. Kenapa gak tanya sendiri aja? "


"Males, biar aja dia gak pulang jadi aku bisa ketemu kamu." Erfan terkekeh, "Kamu sudah makan, kita jalan yuk?"


"Makan di rumah aja ya, aku dipingit Kak Adnan gak boleh keluar rumah. Nanti aku dipecat jadi adiknya kalau nakal." Elvina menolak Erfan secara halus, karena sekarang dia juga harus hati-hati bertemu orang.


"Baiklah, kita serbu dapur Mama sekarang yaa." Erfan dengan semangat menuju dapur, mengintip Kila yang sedang menggoreng kentang untuk cemilan.


"Mama hari ini masak apa, aku lapar. Nana gak mau di ajak keluar," ucap Erfan memelas.


"Mama masak apa yaaa? Lihat aja sendiri di meja sudah siap. Adnan ngabari Mama kalau kamu mau datang jadi Mama masak banyak deh." Kila melirik Erfan yang tersenyum lebar.


"Maa, aku jadi lapar, boleh makan banyak gak?" Erfan melihat opor ayam selera makannya langsung menggebu-gebu.


"Karena kamu menemani Nana hari ini, jadi boleh deh." Kila beranjak ke meja membawa kentang yang baru di gorengnya dan mendekatkan saos tomat ke depan Erfan.


"Asiik, ayo Na kita habiskan biar Mama Killa masak lagi." Erfan sangat antusias memindahkan nasi ke piringnya, tidak lupa opor ayam kesukaan.


Elvina cuma diam mengamati tingkah Erfan menggoda mama sambil tersenyum. Lelaki itu selalu bisa menghiburnya seperti ini. Membuat kesedihannya hilang sejenak.