EL & KEN

EL & KEN
143



"Ummi!" Panggil Elvina sambil berlari menghindari Ken, ternyata semua orang sedang ngopi di ruang tengah. Dia mengatur napas yang terengah-engah duduk diantara Nazar dan Ulfa.


"Ada apa Na, lari-lari begitu. Kata Ken kamu sakit."


"Ummi masak dikasih pemanis buatan ya?" Pertanyaan Elvina membuat perempuan itu mendapatkan tatapan aneh.


"Mana pernah Ummi masak pakai pemanis buatan Na. Pemanis buatan buat bikin kue." Jelas Ulfa, ada apa dengan menantunya satu ini. "Kamu demam nih makanya ngelantur."


"Itu Abang kenapa tiba-tiba manis banget pagi-pagi. Sampai jantungku melompat-lompat dibuatnya." Adu Elvina, empat kepala yang ada di sana tertawa gelak.


"Kamu kalau mau ngelawak lihat waktu Na, ini masih pagi bikin orang ketawa aja." Adnan geleng-geleng kepala, dia baru tau sisi lain adik iparnya itu.


"Aku gak ngelawak Kak, serius. Kalau gak percaya coba Ummi rasain deh." Elvina menarik tangan Ulfa ke dadanya. Jantung itu berdegub kencang karena Elvina baru saja main lari-larian.


"Kamu habis lari, makanya jantungmu ikut lompat-lompat." Nazar menarik pelan kepala Elvina dalam pelukannya. "Demam nih, habis sarapan minum obat nanti."


"Abi, biar Ken aja yang meluk El, oke." Ken datang memisahkan anak dan menantu itu dari belakang. Lalu ikut menyempil duduk diantara Elvina dan Ulfa.


"Kalian kenapa pagi-pagi aneh, kamu demam juga Ken." Ulfa menempelkan punggung tangannya di kening Ken, "gak demam," katanya setelah menarik tangannya kembali.


"Aneh kenapa sih Mi, manjain istri masa aneh." Kata Ken tak terima, dia hanya sedang berusaha memberikan perhatian lebih untuk istrinya itu. Kenapa jadi dianggap berlebihan.


"Kamu gak lagi hamilkan Na? Jadi aneh gitu." Ken dan Elvina sontak saling pandang mendengar pertanyaan Attisya, kemudian tertawa geli.


"Bukan kita yang aneh El, mereka yang aneh gak bisa lihat penganten baru bermesraan." Ken semakin menjadi-jadi memeluk dan menciumi pipi Elvina di depan empat orang itu.


"Sarapan, sarapan!" Ulfa menghentikan adegan penganten baru yang sedang diserang penyakit aneh itu. "Erfan mana belum datang, Nan?"


"E..e..e.. mulut, minta dijahit." Ulfa mencubit bibir putra bungsunya itu karena gemas.


"Sayang sakit, cium." Adu Ken manja sambil memonyongkan bibirnya.


"Nih cium!" Elvina menempelkan telapak tangannya ke bibir Ken.


"Dah ah, Ummi bisa gila ngurusin kalian berdua. Ayo Bi kita sarapan." Ulfa menggandeng manja Nazar ke ruang makan. Ken dan Adnan saling pandang kemudian melongo melihat pasangan paruh baya itu.


"Gak mau kalah banget sama daun muda," desis Ken. Elvina sudah tertawa gelak, entah sedang terkena virus apa orang-orang di rumah pagi ini.


"Ayo Mas, kita juga sarapan." Ajak Attisya manja.


"Mau di gendong apa jalan sendiri Sya?" Tanya Adnan mesra.


"Jalan aja Mas, nanti ada yang kepanasan pengen juga." Sindir Attisya, lalu mereka beranjak dengan saling menggenggam tangan.


"Mereka semua kenapa, El?" Tanya Ken tak percaya, apa ada yang salah dengan otaknya hari ini.


"Mereka semua aneh karena ketularan Abang," desis Elvina. "Dah Abang sarapan sana, aku bersihin bekas sarapan di kamar tadi."


"Gak mau, aku gak mau sarapan sendirian. Nanti mereka bermesraan di depanku. Aku gak mau gigit jari sendirian."


Elvina tak menjawab, menarik tangan suaminya menyusul orang-orang yang sudah siap di meja makan.


"Kalian sarapan juga? Makan cinta gak bikin kenyang ya." Sindir Ulfa, Ken mengendikkan bahu acuh. Salah lagi, tadi diajak sarapan. Sekarang disuruh makan cinta. Huh, emang emak selalu benar.