
"Sabil mana? Nih kopi." Adnan meletakkan segelas kopi pada Ken. Mereka di kursi depan kamar Adnan. Kamar Elvina berseberangan dengan kamar Adnan.
"Ada di kamar kak." Sahut Ken, matanya fokus pada benda cokelat yang berjarak lima meter di depannya. Ya, itu pintu kamar pujaan hatinya.
"Kenapa selalu memandang ke kamar Nana, kangen? Sudah tiap hari ketemu masih kangen juga." Ledek Adnan mengikuti arah pandang adiknya.
"Nana Sayang, ini kado ulang tahun yang ke enam belas buatmu dari anaknya teman Papa." Papa menyerahkan kado yang sangat besar. Elvina membukanya, isinya boneka teddy bear besar berwarna coklat dengan pita cream di lehernya.
"Papa, lucu banget. Tapi siapa yang ngasih Pa?"
"Kamu tidak perlu tau Sayang, yang harus kamu tau dia sangat menyayangimu.""
"Papaaaaa..."
Mendengar suara teriakkan Elvina, Adnan dan Ken berlari ke kamarnya menggedor-gedor pintu.
"Nana...!!" Teriak Adnan masih menggedor pintu.
"Papaaa..! Jangan tinggalin Nana Pa."
Elvina terus mengigau nyaring memanggil papa.
"Cepat ambil kunci cadangan di laci Ken..!!" Titah Adnan, Ken mengangguk berlari ke kamar kakaknya mencari-cari kunci cadangan di dalam laci. Nazar sudah tau kebiasaan Elvina yang bisa histeris kapan saja, menyiapkan semuanya dengan lengkap.
"Papaaaa..."
Ken kembali ke depan pintu kamar Elvina kemudian membukanya.
"Nana...!" Adnan mendekati gadis yang masih mengigau, Adnan terus memanggilnya sampai Elvina terbangun.
"Astaghfirullah." Elvina duduk dengan keringat yang membasahi keningnya. "Ya Allah, apa aku sangat merindukan papa."
Ken masih berdiri di depan pintu kamar. Dia mematung melihat gadis kesayangannya histeris. Ingin Ken mendekap tubuh itu memberikan rasa nyaman.
"Aku mimpi papa, kejadian delapan tahun yang lalu masih sangat jelas." Elvina memeluk teddy bear yang selalu menemaninya dan menangis. "Papa aku kangen...!" Lirihnya dalam pelukan boneka itu.
"Ambil jilbab Nana, Ken."
Adnan memberikan tatapan tajam pada Ken yang masih mematung. Ken menurut apa kata Adnan, mengambil jilbab yang tergantung di samping lemari.
"Pakai ini dulu Sayang, maaf kakak masuk karena sangat mengkhawatirkanmu." Ujar Adnan seraya memberikan jilbab pada Elvina.
"Papa Kak."
"Ada apa dengan papa Na?" Adnan penasaran, apa yang membuat gadis di depannya ini selalu histeris. Mama Kila sudah menceritakan semuanya pada mereka. Elvina selalu menolah dibawa berobat.
"Papa tidak mau memberitahuku siapa yang memberi boneka ini." Elvina masih memeluk beruangnya.
Ken tak bergeming, sebegitu penasarannya kah Elvina dengan pemilik boneka itu.
Adnan melirik Ken yang masih menatap Elvina tanpa berkedip. Ken mengerjap, mengembalikan pikirannya lalu mengambil air putih di meja memberikannya pada Elvina. "Minum dulu El."
"Terimakasih."
Elvina menandaskan air putih itu lalu mengembalikan gelas yang sudah kosong pada Ken.
"Biar kakak menemanimu di sini Na, kami akan tidur di sofa. Kamu jangan takut, sekarang tidurlah kembali." Adnan membaringkan Elvina dan menyelimutinya, napas gadis itu masih tersengal-sengal.
Adnan menarik Ken untuk duduk di sofa. Kamar yang mereka tempati di sini tergolong besar. Sehingga mereka bisa mengamati Elvina dari jauh.
"Dia terus mencarimu Ken, bahkan Nana tidak bisa tidur tanpa beruangnya," jelas Adnan.
"Aku tidak menyangka El masih memakai kalung itu Kak. Sudah tujuh tahun lebih aku memberikan kalung itu."
"Nana menyayangimu Ken, terus menunggumu untuk menemuinya. Dia memang belum tau pemilik boneka itu kamu. Tapi hati kalian sudah terikat."