EL & KEN

EL & KEN
19



"Tidak Sayang, aku tidak akan mengijinkan siapapun menyentuhmu." Ujar Adnan yang membuat Ken dan Elvina lega.


Ken lega karena rahasianya tidak terbongkar. Sedang Elvina lega karena kecurigaannya tidak benar.


"Wooww... apa kamu mencintai Nanamu itu Adnan?" Pertanyaan Sabil membuat Elvina melongo.


"Sangaatt, aku mencintainya seperti adikku sendiri dan aku akan terus menjaganya." Jawab Adnan tenang tidak ingin membuat Elvina merasa tidak nyaman berada di dekatnya.


"Dengerin tuh Ken, memperlakukan perempuan tuh seperti itu, jangan kasar." Sabil masih mengincar Ken, belum puas menggoda lelaki itu.


Semua ini tidak bisa dibiarkan. Bisa membuatnya babak belur di meja makan. Ken mencari cara untuk menghentikan percakapan.


"Sudah, sudah,champir satu jam kita makan. Kerjaan masih banyak." Ken menyelamatkan dirinya agar tidak banyak hal yang terbocorkan lagi. Itu akan sangat memalukan untuknya.


Elvina hari sudah membuatnya lemah tak berdaya. Tatapannya membuat jantung Ken berdetak tidak karuan. Apa hanya dia yang merasakan seperti ini. Gadis itu tampak tenang-tenang saja.


***


Elvina memeriksa laporan yang dibuatnya satu persatu. Hari ini hanya dia dan Ken yang berada di ruangan. Adnan dan Sabil bertugas di lapangan.


Elvina harus kerja keras menyelesaikan semuanya segera, agar bisa pulang tepat waktu.


Ruang kerja itu diisi dengan empat buah meja. Membuat Elvina harus bertemu setiap saat dengan Ken. Lelaki itu terus menatapnya dengan tajam, membuat jantungnya berdetak kencang.


Ya Allah apa yang terjadi dengannya, jantung ini tidak dapat dikendalikan sangat gugup melihat tatapan Ken yang terus tertuju padanya. Apa sebegitu marahnya 'kah Ken padanya, sampai menatap seperti itu.


Elvina menelungkupkan wajah di meja menyangganya dengan kedua tangan.


"Nana Sayang, anak Papa sudah dewasa sekarang. Jadi anak yang sholehah ya, Sayang. Ini ada kado sweet seventeen untukmu, dari orang yang sama pemilik beruang kesayanganmu itu." Papa membukakan hadiahnya yang berisi kalung dengan liontin bertuliskan EL.


"Papaa...."


Elvina yang tidak sadar tertidur di meja berteriak. Sontak Ken langsung mendekati Elvina yang berteriak.


"Mimpi Papa lagi El?" Ken berjongkok di depan kursi Elvina, menatap wajah gadis yang masih panik.


"Iya."


"Minum dulu." Ken memberikan segelas air putih pada Elvina. Elvina meminumnya sambil menyeka keringat di wajah.


Adnan yang baru masuk keruangan melihat wajah Elvina panik langsung mendekati gadis itu.


"Nana kenapa Ken?" Tanya Adnan panik.


"Dia tadi tertidur di meja kemudian berteriak memanggil Papa." Jelas Ken, Elvina masih menggenggam liontin di lehernya.


"Nana ada apa?"


"Liontin ini, Kak." Lirih Elvina


"Ada apa dengan liontinnya, boleh aku melihatnya?"


Elvina mengangguk dan melepaskan kalung di lehernya, menggenggamnya dengan erat kemudian memberikannya pada Adnan.


"Apa Papa yang memberikan kalungnya Na?" tanya Adnan, dia sangat tau siapa pemilik kalung itu.


"Bukan, tapi Papa bilang, orang yang sama dengan yang memberikan boneka itu." Jelas Elvina sendu, dia tidak ingin memikirkannya. Tetapi mimpi itu selalu menghantuinya.


"Kapan diberikannya?" Adnan tersenyum tipis membalik liontin, ada tulisan kecil K3IV. Dia bisa saja memberi tahu Elvina sekarang siapa pemilik kalung ini.


"Saat aku ulang tahun yang ke tujuh belas."


Adnan mengangguk, "Pasang kembali kalungnya Na, apa kamu ingin bertemu dengan pemilik kalung ini?"


"Sangat ingin kak, aku merindukannya setiap malam." Jawab Elvina pelan, dia tidak ingin dihantui perasaan rindu itu lagi. Elvina lelah sekarang, tidak bisa tidur tenang.