
Elvina terduduk lemas di ujung ranjang, sekarang tidak ada benda apapun lagi yang bisa mengobati kerinduannya pada lelaki itu. Kecuali sebuket mawar merah yang bernoda darah. Dia ambilnya bunga itu lalu dipeluknya erat.
"Sesakit ini dipukul mundur paksa, Ken. Aku sudah ingin belajar melupakanmu dalam waktu enam bulan. Tapi kamu memintaku untuk melupakanmu sekarang juga." Diciumnya bunga yang bau anyir itu.
"Argh, sakit." Elvina luruh di lantai dengan air mata yang sudah membasahi pipi sambil memukul dada kuat.
"Nana!" Pekik Kila, "Sayang, jangan seperti ini. Kamu bisa tanpa Ken, kamu bisa." Perempuan paruh baya itu membawa putrinya dalam pelukan.
"Argh, sakit Ma. Sakit banget. Dipaksa berhenti seperti ini sangat sakit." Adunya dengan suara bergetar karena tangis.
"Kita akan bisa melalui semua ini, Sayang." Kila menghela napas kasar, melepaskan sesak di dadanya.
"Aku gak kuat Ma, aku capek. Aku lelah Ma." Adu Elvina lagi di tengah isak tangisnya.
"Tenang Sayang. Ayo mandi baru sholat Sayang, biar hatinya tenang." Kila membawa putrinya duduk di sisi ranjang, mengambil bunga di tangan Elvina.
Di tempat lain, Nazar tak bisa menahan amarahnya lagi pada Ken. "Kamu apa-apaan Ken, kenapa kamu bawa boneka-boneka ini." Geram Nazar, "harusnya kamu itu sadar."
Plak
Satu tamparan keras mendarat di pipi Ken.
"Abi!" Teriak Adnan, dia berlari mendekat dan menahan tangan abinya yang ingin menghajar Ken lagi.
"Dia tidak seharusnya menyimpan barang calon suami orang, Bi." Berang Ken, sambil memegang pipinya yang panas. Nazar sampai menamparnya, itu berarti abinya sednag sangat marah.
"Kamu tidak punya hak mengambil barang yang sudah kamu berikan pada orang lain Ken. Apa kamu ingin melihatnya gila, hah!"
"Abi, sabar." Ulfa menenangkan suaminya, "Attisya, kamu ke rumah Nana ya, kembalikan boneka itu." Titahnya pada sang menantu.
"Ken!" Teriak Adnan, "letakkan boneka itu," titahnya dengan tatapan membunuh. "Sya, bawa ke mobil. Kita antar sekarang," perintahnya pada sang istri
Attisya mendekati Ken lalu mengambil paksa dua boneka itu.
"Kalian semua kenapa sih, calon menantu kalian itu Aish bukan perempuan itu." Teriak Ken, dia sudah lelah. Selalu saja dia yang salah di rumah ini.
"Silahkan kamu menikah dengan Aish, Ummi tidak akan pernah merestui." Ulfa ikutan marah dengan putra bungsunya yang sangat keterlaluan.
"Jika terjadi sesuatu dengan Nana, Abi tidak akan segan mengusirmu dari rumah ini." Ucap Nazar, lalu bernajak ke kamar.
Ken menggeram marah di kamarnya melempar semua benda-benda yang ada di meja sampai berserakan di lantai. Setelahnya dia terduduk lemas. Apa yang sudah terjadi dengan dirinya. Kenapa dia sangat membenci perempuan itu.
Ken mengeluarkan puisi-puisi di kantongnya. Menggenggam erat kalung dan cincin yang berinisial El itu.
"El, kenapa aku tidak bisa mengingat kenangan tentang kita saat dewasa. Kenapa aku sangat benci perempuan yang kata orang itu adalah kamu." Adunya lirih, hatinya sakit sekarang. Seperti sedang ditikam berkali-kali.
"Ken," Adnan membantu adiknya duduk di sisi ranjang. Kamar itu sudah berantakan, dia menunda ke rumah Elvina, karena mendengar suara amukan adiknya di kamar.
"Kenapa kami selalu membela Nana, karena dia perlu kita Ken. Nana itu adalah El-mu. Tidak ada yang boleh memanggilnya El selain kamu, jadi kami memanggilnya Nana." Jelas Adnan pelan.
"Puisi-puisi itu, hanya itu yang dia punya saat rindu kamu Ken. Dan tanpa boneka itu dia tidak bisa tidur, Ken. Kenapa kamu sangat membencinya, bahkan dia yang menangis sepanjang hari karena kamu tidak bangun-bangun, bukan Aish, Ken."
"Dia bisa saja gila kalau kamu terlalu keras padanya Ken. Apalagi yang kamu ragukan, jika dia yang memiliki barang-barang itu, artinya dia memang El-mu."
"Aku gak bisa ingat apapun tentang El, Kak. Setiap lihat perempuan itu kebencian menguak, aku tidak tau penyebabnya. Aku sangat muak melihat wajah perempuan menyebalkan itu." Ken memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
Adnan hanya bisa menghela napas lelah, dia juga kasihan melihat kondisi adiknya yang tak kalah berantakan dari Elvina. Mungkin sangat membingungkan informasi yang Ken terima ini.