EL & KEN

EL & KEN
118



"Saya menyesal mengizinkan kamu menikah dengan keponakan saya, Ken." Desis Erland dengan garang, matanya menghunus Ken dengan tatapan tajam.


"Nana akan saya bawa pulang, kamu sudah keterlaluan menyakitinya."


Elvina mengangkat kepalanya dari pelukan Ken, duh bakalan tambah panjang kalau omnya turun tangan.


"Om, gak gitu." Elvina menggeleng pelan, dia gak mau dipisahkan dari Ken lagi. "Cuma salah paham, maafin Ken." Mohonnya pada Erland.


"Apa yang sakit, Sayang?" Kila mendekati putrinya. Ken hanya bisa diam, dia salah jadi percuma membela diri.


"Cuma sakit biasa Ma, bujuk Om. Aku gak mau jauh dari Ken." Rengeknya, Ken membawa tubuhnya untuk bangkit dari ranjang lalu memutar pedal brankar agar Elvina bisa bersandar dengan nyaman.


"Enggak, kamu harus pulang sama Om," tegas Erland.


"El, nurut sama Om ya," bujuk Ken lembut.


"Nggak mau, aku mau sama kamu."


Ken bingung harus bagaimana sekarang, dia tidak bisa membela diri di hadapan Erland. "Nanti aku telpon kamu setiap malam," bujuknya lagi.


"Enggak, aku mau kamu Ken, bukan dengar suaramu." Teriak Elvina histeris dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Om, boleh ya saya bawa El pulang. Saya akan belajar ngendaliin diri, kalau nanti saya nyakitin El lagi. Om bisa jemput dia." Mohon Ken, menarik istrinya dalam dekapan.


"Pah, biarin mereka bersama. Pengantin baru jangan dipisahin." Inara ikut memohon pada suaminya, dia kasihan melihat keponakannya yang mengiba seperti itu.


"Satu kali kesempatan, kalau kamu nyakitin Nana lagi. Kamu tidak akan pernah punya kesempatan untuk melihatnya." Ujar Erland lalu meninggalkan ruang rawat. Inara mengejar suaminya yang masih dipenuhi emosi.


"Ma, maafin Ken ya. Maaf Ken sudah menyakiti putri Mama." Kila mengusap rambut menantunya, lalu mengangguk.


"Makasih Ma sudah memberi Ken kesempatan." Ucapnya, "kamu tinggal sebentar aku beli sarapan dulu ya, El." Gadis itu menggeleng semakin mengeratkan pelukannya.


"Biar Mama yang belikan sarapan, kamu temani Nana aja." Ujar Kila beranjak dari sana.


Adnan menatap bingung tingkah adiknya, yang tiba-tiba bisa berubah seperti itu. Tidak jauh beda dengan Nazar dan Ulfa yang merasakan hal itu.


"Nana kamu apakan Ken?" Tanya Nazar dingin, raut wajahnya sedang serius.


"Maafin Ken, Bi. Ken gak bisa ngendaliin diri saat emosi." Lirihnya dengan penuh penyesalan.


"Bi, udah. Jangan marahi Ken." Mohon Elvina, apa daya Nazar selain menurut dengan permintaan menantunya itu.


"Kalau kamu udah gak tahan dengan tingkah Ken, bilang. Abi antar kamu pulang."


Kalimat yang diucapkan Nazar itu bagai menghunus jantung Ken. Sebegitu mengerikannya kah dia sampai abinya sendiri pun lebih memilih menjauhkan Elvina darinya.


Ingin mengadu tapi kemana, lelaki tidak diizinkan menjadi lemah. Lagi-lagi Ken hanya bisa diam tanpa pembelaan menatap istrinya dengan wajah sendu. Siapkah Ken harus menjauh dari Elvina. Padahal pernikahan mereka baru berlalu satu hari.


"Sayang, aku tinggal keluar dulu ya sebentar." Bisik Ken lembut, dia perlu waktu untuk melegakan dadanya yang terasa panas dan menyesakkan ini.


"Kemana?"


"Sebentar aja ya." Bujuk Ken, Elvina akhirnya mengangguk. Mungkin Ken sedang tidak nyaman melihatnya.


Ken membawa langkah lebarnya keluar dari ruangan itu. Di sudut taman rumah sakit tempatnya sekarang berada.


Apa yang bisa dia lakukan agar ingatannya tentang Elvina kembali. Dan bisa menghilangkan emosi yang sewaktu-waktu datang itu. Sekali lagi dia melakukan kesalahan. Istrinya akan hilang dari pelukannya. Membayangkan itu saja, hatinya terasa sangat sakit.