
Dua anak muda yang berada dalam satu mobil itu masih saling diam. Sebelum akhirnya Ken buka suara. "Nanti jangan kecentilan di depan Erfan," ucapnya tegas.
"Emang kenapa? Terserah aku dong." sahut Elvina santai, tak ingin terjebak pancingan Ken.
"Kamu akan jadi istriku!"
"Kan aku udah nolak Ken." Elvina melembutkan suaranya agar Ken tidak memaksa.
"Mau aku kasih DP sekarang biar gak nolak lagi." Ken tersenyum melihat Elvina yang langsung diam.
"Ken kamu kejam, selalu kejam." Elvina menendang-nendangkan kaki kesal.
"Semua gara-gara kamu El."
Elvina tak bergeming, percuma dia berdebat dengan Ken sekarang, tidak bisa kabur kemana-mana.
"Ingat jangan centil atau aku culik kamu sekarang."
Elvina mengambil ponsel dalam tas mau mencarkan aksinya menelpon Adnan.
"Tidak ada hp," Ken merebut ponsel Elvina "Jangan mengadu dengan kakakku," ancam Ken.
"Ken kamu kejam, katanya mau menjauh dariku." Elvina memajukan bibirnya cemberut.
"Kan kamu belum memaafkanku El."
"Sekarang aku memaafkanmu, Ken." Elvina tersenyum manja pada Ken. Berharap lelaki itu luluh dan menyerah.
"Terimakasih, Sayang."
"Ken, kenapa masih jahat."
"Aku suka melihatmu manja seperti ini."
"Aku tidak suka kamu Ken.."
"Tidak suka tapi bonekanya masih dipeluk."
"Ya sudah aku buang bonekanya."
Elvina membuka kaca mobil ingin melemparkan bonekanya.
Gadis itu menarik kembali tangannya dan menutup kaca mobil, memeluk erat boneka barunya.
"Kenapa gak jadi dibuang?" Tanya Ken sambil tersenyum sumringah.
"Sayang." Sahut Elvina pelan.
"Sayang sama aku apa bonekanya?" Goda Ken
"Ya bonekanya-lah."
"Beruntung ya jadi boneka, cuma sehari aja bisa kamu sayangi begitu." Ken tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Diam sepanjang jalan sampai ke tujuan. Teringat ucapannya akan menjauhi Elvina agar gadis itu bahagia. Ken menghela napas pelan, dia tidak boleh egois memaksa Elvina menerimanya.
"Sudah sampai, turunlah El." Ken mengondisikan hatinya yang sangat ingin selalu bersama Elvina, namun itu akan menyakiti kesayangannya.
Ada apa dengan hatimu Elvina, kenapa tidak rela melihat Ken yang diam dan berhenti menggoda. Kenapa jadi tidak rela kalau Ken menyerah mengejarnya. Kenapa dia merasa ingin terus diperjuangkan lelaki itu.
Erfan mendekati mobil Ken diparkiran lalu membukakan pintu untuk Elvina.
"Ayo sayang keluar, kenapa ketakutan, Ken menyakitimu?" Tanya Erfan pada Elvina.
Mereka berempat berjalan memasuki cafe. Mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.
"Kak Adnaaan." Panggil Elvina pada Adnan yang duduk di samping kanannya, di samping kiri ada Ken. Mereka duduk di meja bundar. Membuat Elvina terapit oleh tiga lelaki yang mencintainya. Elvina tau akan semua itu namun tidak mempedulikannya, hanya berpura-pura tidak tau.
"Kenapa Na?" sahut Adnan, matanya tertuju pada Ken yang diam semenjak keluar dari mobil.
"Ken mau memperk*saku." Ucap Elvina, dia ingin memancing Ken agar marah padanya namun Ken tetap diam. Hanya Erfan dan Adnan yang mentertawakannya.
Kenapa Ken masih diam, dia ingin Ken marah lagi padanya. Elvina tidak suka Ken yang membisu seperti ini.
"Nih hpmu El." Ken meletakkan ponsel Elvina di meja.
"Kenapa hpnya sama kamu Ken?" tanya Adnan penasaran.
"Dia tadi mau ngadu sama Kak Adnan." Sahut Ken singkat.
"Nana, Nana. Ken tidak akan melakukan itu, menyentuhmu pun dia tidak berani Sayang." Adnan terkekeh, dia paham apa yang Ken katakan. Pasti Elvina ingin mengadu kalau Ken mau memperk*sanya. Padahal Ken hanya menakut-nakuti gadis itu.