
Sun-woo masuk dan melihat L yang tengah duduk dengan wajah kebingungan, Bora berjalan mendekati Sun-woo.
" Kau baik baik saja? " tanya Sun-woo pada Bora
" Aku baik baik saja, aku hanya terkejut karena L tiba-tiba memanggil ku, cepat periksa dia, aku takut dia melakukan sesuatu yang berbahaya. "
L melihat semua orang terlihat cemas " Kak Sun-woo ini dimana? " tanya L polos
Bora mendekati L dan memeluk nya " Kau baik-baik saja kan? apa ada yang sakit? katakan padaku, kau sudah tertidur sangat lama membuatku sangat cemas . " Bora menangis sambil memeluk L.
Sun-woo meminta perawat memisahkan Bora, ia hendak mengecek kondisi L, beberapa saat kemudian Sun-woo membuat L tertidur kembali.
" Kenapa dia tidur lagi? apa ada yang salah dengan nya? " Bora cemas
" Aku punya kabar baik dan juga kabar buruk, sebelum memberitahu mu sebaiknya kau panggil Jisoo dan datang keruangan ku. "
Bora mengangguk, ia tak membuang waktu dengan terus menatap L, segera ia raih ponselnya dan menelpon suaminya.
Siang hari ketiganya sudah berkumpul, wajah Bora dan Jisoo terlihat tegang.
" Hei santai saja, jangan memasang wajah tegang seperti itu. "
" Bagaimana aku bisa santai. "
" Baiklah baik, sekarang aku akan memberitahu kabar baik dulu kepada kalian, kondisi L sudah stabil dan dinyatakan sembuh."
" Benarkah " Bora sangat senang
" Kabar buruknya dia mengalami amnesia? "
Jisoo dan Bora saling memandang " Apa maksud mu, bukankah kau tadi mendengar bahwa L memanggil namamu dan namaku? "
" Setelah aku menyuruh mu pergi, dokter psikologi mendatangi ku dan menjelaskan kondisi L, sebelumnya L mengalami PTSD parah hingga beberapa kali ingin mengakhiri hidupnya karena trauma yang dialami nya, dan karena trauma yang begitu berat yang dialami , otak L menghapus kenangan penyebab terjadinya trauma tersebut. "
" Aku masih belum mengerti. " kata Bora
" Saat ini L telah kembali seperti semula, hanya saja ia tidak mengingat kejadian apa yang telah dialami nya, sehingga ia masuk kerumah sakit dan dirawat disini. Apa sekarang kau mengerti? "
" Iya kami mengerti, tapi apa maksud mu dengan kabar buruk? "
" Jika Elis tidak bisa mengingat kejadian itu berarti kita juga tidak bisa mengetahui apa yang terjadi dan siapa yang membuat L menjadi seperti ini? "
Jisoo berfikir sejenak " Apa yang sebaiknya kita lakukan? "
" Aku sependapat dengan mu, memori yang hilang dari ingatan nya bisa jadi karena ingatan tersebut amat menyakitkan baginya, akan sangat berbahaya jika ia kembali mengingat kejadian buruk yang menimpanya, bisa jadi ia kembali melakukan aksi bunuh diri." sahut Sun-woo
Usai berbicara dengan Sun-woo, Bora dan Jisoo masuk keruangan L, Bora melihat L sudah bangun langsung menghampiri nya.
" Kakak aku ada dimana, kenapa alat-alat ini menempel ditubuh ku? "
" L kau sekarang ada di Korea. "
L tertegun, bagaimana bisa setelah tertidur tiba-tiba bangun di Korea " Bagaimana bisa? saat itu aku sedang melukis hingga tengah malam dan langsung tertidur di kamarku. "
Bora memandang Jisoo " Kami tidak berbohong L, kau bisa lihat kalo di luar sedang turun salju. " Jisoo menunjuk ke arah jendela
" Lalu apa yang terjadi dengan ku? "
" Kata Hari, kau mengalami kecelakaan karena mengemudi kan mobilmu sendiri menuju pasar, karena menghindari kucing yang lewat kau membanting setir ke arah lain hingga mobilmu menabrak pohon besar, akibat kecelakaan itu kepalamu terbentur dan tak sadarkan diri, ketika kami sampai di Indonesia keadaan mu tengah kritis, untung saja kau berhasil menjalani operasi namun kesadaran mu tak kunjung pulih, ada gumpalan darah yang membeku diotakmu, rumah sakit yang merawat mu belum memiliki fasilitas serta tenaga medis untuk menolong mu sehingga kami membawamu ke Korea. "
L nampak sedang berusaha mengingat kejadian itu, tapi sekuat apapun ia mencoba, L tetap tidak mengingat nya " Begitukah? seperti benturan itu sangat keras sehingga aku tidak mengingat apapun. "
Bora duduk di samping L dan menggenggam tangannya erat " L katakan padaku apa kau masih merasakan sakit? " L menggeleng
Kini Jisoo ikut duduk disisi L " L kau sudah ada di Korea bersama kami, maukah kau tetap disini dan tinggal bersama kami, kami ingin mengangkat mu menjadi bagian keluarga kami, jadilah adik angkat kami, kau mau kan? " tanya Jisoo dengan wajah yang serius " Seumur hidup kami selalu berhutang nyawa pada mu, setelah kecelakaan itu kami sangat khawatir jika kau kembali dan tinggal sendirian disana. "
" Suamiku benar L, percayalah kami akan menyayangi mu seperti adik kami sendiri, kau tahu selama ini aku sangat baik padamu bukan? " imbuh Bora " Aku benar-benar tulus dan akan memperlakukan mu seperti adikku, walaupun aku belum pernah punya adik sebelum nya. "
" Bohong, kau selalu jahat padaku. "
Bora kaget dengan kata-kata L " apa maksud mu? jahat bagaimana ? "
" Kau selalu marah dan sering berteriak kepadaku kalau aku tidak segera mengangkat telpon mu. "
Wajah yang tadinya serius berubah menjadi senyuman " Hei itukan karena aku tidak sabar mendengar suaramu. " Jisoo tersenyum bersama L
" Jadi kau mau kan tinggal disini bersama kami? "
" Entahlah, aku merasa kalian sudah tidak berhutang nyawa lagi padaku, kalian kan sudah menolong ku, jadi kurasa kita impas. "
" Karena itu lah, kau harus setuju, aku ingin kau jadi adikku karena aku dan suami ku benar-benar tulus menyayangi mu, bukan lagi karena berhutang nyawa padamu. "
L menatap keduanya orang itu dengan mata berkaca-kaca, selama ini dirinya memang sangat kesepian dan butuh kasih sayang dari sebuah keluarga, dengan memeluk Bora dan Jisoo L pun mengangguk " Aku mau tinggal bersama kalian, tapi kuharap kalian tidak menyesal karena aku ini makannya banyak."
Ketiganya saling berpelukan " Itu tidak masalah, aku bahkan akan menyuapimu saat kau makan agar badanmu yang kurus seperti sapu ini berubah menjadi Bola. " canda Bora. Senyum di wajah L semakin mengembang