
Paman dan keponakan itu masih saling berpelukan, paman Andrea masih saja mengulang permintaan maafnya pada L. Membuat L merasa tidak enak.
" Paman bolehkah Elis mengatakan sesuatu? " Kata L setelah pamannya melepaskan pelukan nya
" Katakan sana nak. "
" Mengenai kuliahku di kota B, bisakah dibatalkan, Elis ingin kuliah kuliah di Jogja dan mengambil jurusan seni. "
Tatapan mata pamannya tiba-tiba berubah, meskipun masih terlihat sembab tapi ia terlihat tidak suka " Kenapa kau melepas kesempatan yang sangat bagus itu? jika kau bisa masuk ke Universitas itu masa depan mu akan terjamin, bukannya paman memaksa mu, paman sudah tidak akan memaksakan kehendak Paman kepada mu lagi, tapi ini sebagai nasehat demi kebaikan mu."
" Maaf paman, aku Elis tetap ingin menjadi seorang seniman, inilah cita-cita yang ingin Elis wujudkan. "
Paman Andrea menghela nafas " Baiklah jika itu keputusan mu, paman hanya bisa mendukung dan mendoakan agar kau bisa sukses kelak. "
" Terimakasih paman. " Rasanya beban dihati L terangkat, hatinya merasa begitu lega setelah berbicara pada pamannya, dan sekarang pamannya juga telah mendukung apa yang disukainya. Ia tak perlu merepotkan Hari, Pak Anwar, dan Bu Lilis untuk membantu nya bicara pada pamannya.
Drrrt drrrt drrrt
Ponsel paman Andrea berbunyi, ada panggilan dari istrinya, paman Andrea pergi sejenak meninggalkan L untuk mengangkat telepon tesebut.
Sekembalinya dari menelpon Paman Andrea langsung pamit pada L " Elis maaf paman harus kembali ke rumah sakit sekarang. " kata pamannya
" Ada apa paman? kenapa buru-buru? "
" Bibimu membutuhkan paman, jadi paman harus segera kembali. "
" Nak, paman sudah sangat berterimakasih karena kau mau memberikan seluruh tabungan mu pada paman, tapi itu sudah lebih dari cukup, paman masih ada simpanan untuk membayar sisa kekurangan nya, jadi simpan uangmu untuk biaya kuliah mu nanti. "
" Tapi wajah paman terlihat sangat pucat, tubuh paman sepertinya demam, berbahaya jika langsung pergi sekarang, atau ijinkan Elis ikut, Elis takut paman pingsan dijalan, dan biarkan untuk sejenak Elis menengok Mas Yoga, Elis juga merindukan nya. "
Melihat L yang memohon seperti itu akhirnya paman Andrea mengijinkan " paman tidak keberatan jika kau ingin ikut, tapi bagaimana kalau kau bertemu bibimu? "
L terdiam sesaat, ia baru ingat pada bibinya " apa Bibi masih membenciku? " tanya L dengan suara lirih
" Maaf kan paman, bibimu memang keras kepala tapi setelah ini paman akan bicara padanya, tentang dirimu yang membantu membayar pengobatan Yoga, ia pasti akan sangat berterimakasih dan mau menerimamu. "
" Jika Bibi masih tidak menyukai, Elis cukup melihat keadaan Mas Yoga dari jauh saja tidak apa apa paman. "
Paman Andrea terlihat iba menatap keponakan kesayangannya, semenjak ibunya ( nenek nya L) meninggal, L kekurangan kasih sayang seorang ibu , ia mungkin sangat menyayangi nya tapi dekapan seorang ibu tidak bisa digantikan oleh seorang lelaki, Andai saja istrinya mau menerima L dan menganggap L sebagai putri nya,keluarga nya pasti akan sangat bahagia dan terasa lengkap.
" Baiklah kalo begitu, kemasi barangmu kita berangkat sekarang. "
L mengambil tas ranselnya dan membawa beberapa barang secukupnya, ia tak lupa mengunci pintu dan menutup pintu gerbang rumahnya, disana ada mobil milik Hari, jadi mereka pergi menuju rumah sakit dengan mengendarai mobil tersebut.
Paman Andrea sempat menyatakan tentang mobil tersebut, namun L berkata kalo itu milik Hari anaknya Pak Anwar yang sedang dititipkan, keluarga pak Anwar sedang keluar kota dengan mobil mobil Pak Anwar, sedangkan mobil Hari tidak terpakai jadi ditaruh dirumah L. Untung saja pamannya percaya dan tak menanyakan lebih jauh.
STNK dan BPKP juga ditinggal dirumah L jadi aman jika harus memakai mobil tersebut