
Suasana menjadi hening seketika saat Hari dan Arya masuk kedalam ruangan itu, hanya ada suara L yang menangis dalam pelukan Hari. Big3 masih diam karena terkejut.
Beberapa jam yang lalu
Jisoo sedang berada didalam ruangan nya tengah menelpon Hari. Tak butuh waktu lama Hari dan Arya tiba disana.
" Kau siap bertemu dengan Yuna? " Ujar Jisoo pada Hari.
" Iya aku siap. "
" Kau tidak ada kelas lagi bukan? Maaf aku memajukan pertemuan mu dengan Yuna karena kemarin Yuna sakit dan berkata kalau dia rindu dengan kampung halaman nya. Aku tidak bisa membawa nya pulang jadi lebih baik aku mempertemukan nya dengan mu. "
" Apa? Sakit?"
" Hei tenang Bro! "
" Iya kemarin Yuna sempat sakit tapi sekarang sudah kembali sehat jadi kau tenang saja. "
" Kalau begitu ayo cepat pergi! " Hari sudah lebih dulu keluar dari ruangan Jisoo.
Arya yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya tersenyum dan membungkuk pada Jisoo atas ketidaksopanan sikapnya. Jisoo tak mempermasalahkan hal itu, ia segera mengambil tas kerja dan berjalan menyusul Hari.
Mereka bertiga berjalan menuju area parkir, banyak mahasiswa yang menyapa Jisoo dan berbisik memujinya. Mereka terlihat penasaran dengan dua sosok lelaki tampan yang berjalan disamping Jisoo, terutama Hari.
" Mas Jisoo pasti artis nya? " Ucap Arya tiba-tiba
Masih dalam perjalanan Hari yang mendengar ucapan Arya hanya menoleh ke arah sahabatnya itu. Jisoo tersenyum mendengar pertanyaan Arya.
" Kenapa kau bilang begitu? Aku hanya seorang pengajar disini. "
" Aku tidak buta Mas, setelah keluar dari ruangan mu sepanjang jalan kau terus ditatap dan disapa oleh para mahasiswa mu, mereka juga berbisik bisik memuji mu, meskipun pelan telinga ku ini sangat tajam loh. "
" Hahaha anggap saja seperti itu, mereka menyukai ku karena aku tampan. Tapi kau sepertinya lupa jika disamping kanan ku ada yang jauh lebih tampan. "
" Hei itu tidak mungkin, wajah Hari yang seperti papan kayu datar di bilang lebih tampan dari mu. " Namun hal itu segera terbukti saat Arya mengedarkan pandangan dan melihat para mahasiswi melihat kearah Hari dan memuji ketampanan nya tidak kalah dari Jisoo.
Arya hanya menghela nafas " Nasib punya muka pas pasan gini nih kalau jalan dengan orang ganteng ga keliatan, aku seperti tak kasat mata" Keluh Arya
Mereka akhirnya sampai di parkiran dan segera masuk kedalam mobil. Jisoo pun membawa mereka ke rumah nya.
Arya dan Hari tertegun melihat gerbang besar menjulang tinggi didepan mobil yang mereka lewati.
" Mas Jisoo apa kita sudah sampai? " Tanya Arya
" Iya. "
Arya dan Hari saling pandang " Sultan asli Bro, bukan kaleng kaleng. Gerbang nya aja tinggi begitu apalagi rumah nya. " Kata Arya sambil berbisik dalam bahasa Indonesia. Hari mengangguk setuju.
" Selamat datang Tuan Muda. " Ucap petugas keamanan yang menyambut kedatangan Jisoo.
" Iya. "
Kedua kembali tertegun setelah mobil terparkir didepan rumah yang sangat besar dan mewah, rumah itu seperti istana. Arya melihat rumah besar dengan banyak pelayan hanya ada di drama drama yang ia tonton dari laptop adiknya, tidak tahu nya ia benar-benar melihat nya sekarang. Jika adiknya tahu apa yang sedang ia lakukan, sudah pasti dia akan iri setengah mati.
" Kalau aku jadi Yuna dan diadopsi oleh mereka aku juga mau Ri, gila itu rumah besar banget. Liat tuh yang kerja banyak banget, persis yang sering ku liat di drama yang ada di laptopnya di Arsya. Pelayan nya aja pada cantik cantik begitu ya, kalau aku lamar ada yang mau ngga? " Hari hanya diam meskipun Arya terus mengoceh di samping nya.
Hari dan Arya terus mengikuti langkah Jisoo, para pelayan menyambut kedatangan mereka.Hari dan Arya membalas mereka dengan sama sama membungkuk karena itu sudah jadi kebiasaan orang disana, mereka cukup membungkuk tanpa perlu bersalaman.
Langkah mereka semakin dalam dan belum ada tanda tanda berhenti.
" Tidak tahu. "
Jisoo tiba-tiba berhenti didepan sebuah pintu, dari pintu yang telah terbuka sedikit itu terdengar suara yang dirindukan Hari.
" Tunggu lah disini, aku akan masuk terlebih dahulu. Saat aku bilang masuk barulah kalian masuk. Aku ingin memberi kejutan pada Yuna. " Keduanya mengangguk paham.
Terdengar Jisoo mengatakan sesuatu pada Yuna dan menyuruh Hari masuk , begitu ia masuk Yuna berteriak memanggil namanya dan melompat ke dalam pelukan nya.
Kembali ke saat ini
Hari masih memeluk L dan mengusap ngusap punggung nya, ia menenangkan L yang masih menangis sesegukan.
" Sudah jangan menangis terus, apa kau sangat merindukan ku sampai sampai terus memeluk ku dengan begitu erat? "
" Iya aku rindu Mas Hari. " Masih sambil menangis.
" Turunlah dulu L, kau tidak lihat tiga pria tengah menatap ku dengan sangat tajam sampai sampai dadaku sakit oleh tatapan mereka. " Ucap Hari
L menoleh dan menatap tajam balik ke arah Big3, seketika mereka langsung menunduk tak berani padanya.
" Sudah kan."
" L turun lah, kau belum makan bukan? Ayo turu dan ajak juga Hari dan Arya makan malam bersama kita. " Ujar Jisoo
L akhirnya turun dan melepas pelukan nya, Hari mengambil tisu dan mengelap wajah L yang basah oleh air mata.
" Sudah berhenti nanti wajahmu jadi makin jelek kalau menangis terus, lihat wajah mu sekarang. Hidung dan matamu sudah memerah, Kepala mu juga akan sakit jika terus menangis. " Hari dengan penuh perhatian mengelap air mata L dan mengusap Kepala nya.
L akhirnya berhenti menangis dan mereka semua duduk untuk makan malam bersama.
Setelah puas menangis kini hanya wajah yang terus menyunggingkan senyuman yang terlihat.
" Mas Hari bagaimana bisa di sini?"
Mereka sudah selesai makan malam dan berpindah ke ruang tengah untuk berbincang.
" Apa kak Jisoo yang menjemput mu dan membawa mu kemari? "
" Tidak, aku kemari bersama Arya. "
" Hai Elis lama tidak bertemu, kau akhirnya sadar kalau aku juga ada disini ya? "
" Oh iya aku baru sadar kalau ada Mas Arya juga. Hallo Mas. "
" Aku disini untuk sekolah"
" Benarkah? Wah Mas Hari hebat sekali, dimana Mas Hari kuliah? "
" Dia berada di kampus yang sama dengan mu Yuna. "
Big3 yang sedang minum kopi sampai tersedak.
" What? Sejak kapan? " Tanya D.O
" Sudah lebih dari sebulan kami disini, sebenarnya sejak aku dan Arya sampai di Korea, aku ingin sekali langsung bertemu dengan Elis. Tapi kami sibuk jadi dan waktu itu Mas Jisoo juga sedang ada di luar negeri untuk seminar, kami akhirnya menunggu nya sampai pulang dan merencanakan kejutan untuk Elis. "