
Hingga malam menjelang Shin terus saja menekuk wajahnya karena malu, marah, kesal, suasana hatinya benar-benar buruk.
" Apa kakak marah padaku? " tanya L yang melihat Shin terus diam saat mereka sedang berkumpul.
"Biarkan saja dia L, dia hanya malu karena baru saja dikalahkan oleh gadis berumur 15 tahun. " kata D.O diselingi tawa yang menggema.
Shin semakin kesal, untung saja ponselnya tiba-tiba berbunyi, ada panggilan tugas dari kepolisian.
Daripada menjadi bulan-bulanan semua orang Shin memilih pergi ke kantor polisi.
" Shin kau mau kemana? " Tanya Jaehyun
" Ada panggilan dari kepolisian aku harus segera pergi. " Tanpa banyak kata Shin sudah menghilang dibalik pintu.
Sampai dikantor pusat, asisten Shin segera menyambut nya di pintu masuk. Wajah Shin terlihat sangat serius, ia terus memandang ke depan sambil mendengar kan semua perkataan asistennya.
Asisten Shin bingung dengan sikap Shin yang terlihat sangat dingin sejak masuk kedalam kantor, ia tak berani menyinggung Tuannya karena bisa bisa ia jadi sasaran amukan nya.
Sampai di kantor dan masuk kedalam markas bagian IT dan Cyber Shin segera duduk dikursi miliknya. Hari ini sistem keamanan kepolisian mengalami gangguan, sepertinya ada seseorang yang hendak meretas sistem dan mencuri data kepolisian. Sedari tadi polisi yang bertugas disana kewalahan mengahadapi si peretas karena sistem mereka dimasuki virus yang sangat kuat.
Kepala Polisi bagian Cyber segera menyambut Shin, tapi aura Shin sangat berbeda. Shin sama sekali tidak memperhatikan.
"Berikan keyboard ku! " Perintah Shin pada asisten nya.
Saat meletakkan keyboard nya Shin bahkan sedikit membanting di meja membuat kepala Polisi dan asisten Shin kaget dan saling berpandangan.
" Ada apa dengan nya? " Tanya kepala Polisi kepada asisten Shin dengan pelan.
Asisten Shin mendekati kepala polisi dan menjawab pertanyaan nya dengan suara yang pelan juga.
" Saya juga tidak tahu, Tuan Shin sudah seperti itu sejak sampai di kantor. Kurasa suasana hatinya sedang buruk jadi saja tidak berani menanyakan apapun padanya. " Jawab Asisten tersebut.
Shin mulai mengutak atik keyboard nya, wajahnya tampak sangat serius. Tatapan matanya juga seakan siap menerkam apapun yang ada dihadapan nya.
Di suatu tempat, dimana seseorang yang merupakan hacker tengah sibuk memasukkan data untuk membobol sistem keamanan kepolisian. Ia hendak mencuri data dan informasi terkait suatu kasus atas suruhan seorang pejabat yang sedang di curigai melakukan tindak korupsi yang merugikan negara. Bukan hanya satu tapi ada dua hacker yang tengah menyerah sistem kepolisian.
Satu orang mencoba membobol sistem, dan satu orang mencoba menanamkan virus guna merupakan sistem.
Shin menyeringai " Hari ini adalah hari keberuntungan kalian, akan kutunjukkan siap itu Shin yang sebenarnya. " Kata Shin dengan nada penuh emosi
Kecepatan tangan Shin diatas keyboard semakin bertambah, Orang-orang yang bertugas dikantor hari itu sampai heran dengan sikap Shin yang begitu menggebu-gebu.
Beberapa kali para hacker berhasil mengirim kan virus , Shin tertawa sinis.
Asisten Shin dan kepala polisi mundur satu langkah kebelakang karena sikap Shin seperti orang yang sedang kesurupan, ia marah marah, mengumpat dan menekan nekan keyboard nya dengan desa keras hingga membuat suara yang berisik.
" Kenapa aku merasa ia sedang melampiaskan amarahnya. " kata kepala Polisi
Asisten Shin juga berpendapat seperti itu, selama ia mendampingi Shin bekerja ia tidak pernah melihat Shin se emosi ini.
Dua hacker yang tengah berperang dengan Shin mulai kewalahan, setelah berhasil mengirimkan virus. Beberapa menit kemudian virus tersebut berhasil di halau oleh Shin, kini giliran Shin yang menyerang sistem mereka.
Dalam sekejab layar dua hacker tadi eror dan sistem diruangan mereka terhenti karena lock down. Layar yang ada diruang mereka mati selama beberapa detik lalu menyala kembali dengan gambar dan tulisan umpatan kepada mereka.
Dua hacker tersebut sangat marah namun tidak bisa melakukan apa apa.
Setelah pertarungan yang cukup sengit di dunia maya, Shin menghela nafas sejenak dan sikapnya kembali seorang semula.
Shin memanggil asisten nya dan meminta nya menyelesaikan sisanya. Tiba-tiba ia membalik kursi dan menatap heran dengan orang-orang yang ada diruang tersebut.
Semua orang tampak semakin bingung dengan sikap Shin yang sudah kembali normal.
Kepala Polisi segera sadar dan membawa Shin keruangan nya, ia memberikan isyarat agar anak buahnya tidak menanyakan apapun, ia menyuruh mereka kembali bekerja, mereka pun patuh dan kembali ke tempat duduk masing-masing.
" Terimakasih atas bantuan mu hari ini Shin. " Ucap kepala polisi
" Itu sudah menjawab kewajiban ku. " Jawab Shin
Setelah menumpahkan emosinya, Shin merasa lega. Ia harus berlapang dada menerima kekalahannya.
****
Di kampus
Saat pelajaran hampir selesai, Prof. Hwang memberitahu anak didik nya akan ada pemilihan karya baru untuk Museum yang baru dibuka bulan depan.
Mereka disuruh membuat sebuah karya dan dikumpulkan dalam dua minggu lagi. Selain sebagai tugas, nantinya karya yang terpilih juga akan di ambil dan mendapatkan kesempatan dipajang di museum baru yang akan di buka bulan depan.
" Buatlah karya seni yang mencerminkan diri kalian, bulan depan ada pembukaan museum terbesar di kota yang merupakan milik Yayasan H&S Grup. Mereka tengah mencari karya baru yang diambil dari para seniman muda yang belum terkenal. Mereka tidak mencari Seniman muda di kampus kita saja tapi di kampus lain, jadi aku harap kalian bisa membuat sebuah karya yang dapat membanggakan kampus kita." Ucap Prof. Hwang
" Kesempatan ini merupakan kesempatan langka, karena karya yang dipilih selain akan masuk daftar lelang, si Seniman juga mendapatkan kontrak dan pengalaman belajar di sekolah seni di Eropa selama setahun. Kesempatan ini terbuka untuk semua angkatan tidak hanya senior saja, para junior yang baru masuk juga bisa ikut bergabung. " Imbuh Prof. Hwang
Usai menyampaikan materi dan informasi tersebut, Prof. Hwang segera meninggal kelas. Semua orang langsung bersorak.
" Wah ini kesempatan yang sangat bagus, jika aku terpilih, aku bisa mendapatkan kontrak dan belajar seni di Eropa. Itu adalah impian ku. " Ujar Yura dengan sangat antusias
" Kau benar. " Jawab Jungki
L ikut tersenyum, ia tak sabar ingin segera pulang dan ingin segera memikirkan karya apa yang hendak ia buat.
Di rumah ia mengacak ngacak ruang lukis nya dan menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan, di bantu Jukyung dengan cepat terselesaikan.
Jukyung meninggalkan Nona mudanya untuk berkonsentrasi. Satu dua jam berlalu L hanya memandang kanvas yang masih kosong.
" Kak Jukyung. " Panggil L
Jukyung segera masuk " Ada apa Nona? Apa ada yang Anda butuhkan? "
"Temani aku jalan jalan ke kota ya, aku merasa otakku tidak bisa bekerja saat ini, padahal biasanya aku dengan mudah bisa memenuhi kanvas ku dengan lukisan. " Ujar L
Jukyung menatap menatap kanvas yanga da disamping L, dan memang benar masih kosong.
" Baik Nona akan saya antar. "
" Tunggu! " L menghentikan Jukyung yang hendak mengambil pakaian L
" Ada apa Nona? "
" Kau tak usah ikut biar aku sendiri saja yang pergi, aku ingin mencoba jalan jalan sendiri. " kata
" Tapi Nona, bagaimana kalau anda tersesat, dan itu sangat tidak aman untuk anda. " ujar Jukyung
" Aku kan membawa ponsel jika aku tersesat aku akan menghubungi mu. " jawab L
" Tapi kurasa Tuan Besar, Tuan Jisoo, dan Nona Bora tidak akan mengijinkan anda keluar sendirian. " Kata kata Jukyung ada benarnya, L tidak hilang akal dengan seribu alasan akhirnya ijin itu didapatkan.
Ia ingin mencoba ke pusat perbelanjaan dengan membeli alat-alat lukis yang baru. Sebenarnya bukan itu tujuan utamanya, ia ingin mencari inspirasi selama diluar rumah karena sedari tadi otaknya terasa kosong tidak bisa menemukan ide untuk bahan lukisannya.