
L yang awalnya menolak diberi mobil akhirnya menerima nya setelah Bora memberitahu maksud dan tujuannya, walaupun dalam Hati L, ia masih ragu-ragu. Ia merasa tak enak hati serta takut ada orang yang salah paham, karena dia menolong Bora ia takut dikira memanfaatkan kebaikan yang Bora lakukan.
Hari melihat L tampak sedang melamun, ia pun menyadarkan nya " Terima saja, rejeki ngga boleh ditolak, lagi pula nanti setelah mereka kembali kau bisa menjual atau memberikan mobil itu padaku. " goda Hari
" Mas Hari kan sudah punya mobil, dari pada dikasih ke mas Hari mending aku sumbangin ke desa, lebih bermanfaat. "
" Nah itu malah bagus, jadi ga usah khawatir. "
Mendengar perkataan Hari, L pun menjadi lebih lega.
" Jadi bagaimana kalau besok kita jalan jalan kekota dengan mobil barumu itu? " ajak Hari
Berfikir sejenak karena L tidak punya tempat yang ingin dikunjungi " Kemana?"
" Jangan bingung, kan ada Mamasmu yang ganteng ini, aku ajak jalan jalan ke kota trus kita main ke mall , ya itung itung aku jadi bisa naik mobil sebagus itu dan kencan juga. " Goda Hari
" Hah mas Hari ada ada saja, masa kencan sama anak ABG. "
" Enak aja sama ABG, kan nanti dimall pasti ketemu cewe cewe cantik, sapa tau ada yg nyantol, biar aku ajak kencan sekalian mumpung dimodalin. " tawa Hari semakin pecah
" Dasar genit, trus aku bagaimana? "
" Kau jadi nyamuk aja. "
L langsung cemberut sambil menggembung kan pipinya, Hari langsung berpaling karena terpesona dengan keimutan L.
Pulang dari rumah L, Hari mencoba mengendarai mobil baru milik L yang masih terlihat sangat mengkilap, bahkan kursi nya masih terbungkus dengan plastik, memasuki halaman rumahnya para tetangga melihat mobil tersebut dengan tatapan kagum dan penasaran akan si pemilik dari mobil tersebut, mobil L tampak sangat bagus karena didesa mereka belum ada yang memiliki nya, bahkan yang memiliki mobil saja masih bisa dihitung dengan jari.
Hari segera turun dan masuk kedalam rumah, sementara para tetangga khusus nya ibu-ibu mulai berkerumun didekat halaman rumah nya, mereka menerka nerka siapa pemilik mobil tersebut. Bu Lilis yang baru pulang dari Puskesmas terlihat bingung karena banyak orang yang berkerumun didepan halaman rumahnya.
" Permisi ibu ibu ada apa ini kok berkumpul didepan rumah saya? " tanyanya
" Bu Lilis, itu mobil siapa ya? bagus sekali lohh, saya baru pertama kali melihat mobil sebagus itu. " tanya seorang ibu, sementara ibu-ibu yang lain menatap dengan tatapan penuh tanda tanya
Bu Lilis berjalan melewati kerumunan tetangga nya dan kaget melihat sebuah mobil mewah terparkir dihalaman rumahnya " Haduh saya juga tidak tau ibu ibu. " jawab bu Lilis sambil tersenyum
" Walah walah, apa itu tamunya Pak Anwar dari kota ya? bisa bisa pejabat tinggi atau mungkin pak bupati datang kemari. " kata seorang ibu yang tiba-tiba berceletuk.
Bu Lilis menyiapkan hati saat masuk kerumah, begitu pintu terbuka dan dirinya masuk tidak ada siapa siapa diruang tamu. Bu Lilis bingung, ia masuk lebih jauh lagi kedalam rumahnya dan yang ia dapati hanya anak laki-laki nya sedang sibuk menonton TV
" Hari kapan kamu pulang? " tanya Bu Lilis pada anak semata wayangnya itu
" Belum lama kok, ibu tumben jam segini baru pulang? "
" Ia tadi di puskesmas ada urusan sedikit, trus yang parkir dihalaman kita itu siapa ya Har? "
" Aku Bu." jawab Hari santai
" Loh itu mobil siapa nak? mobilnya keliatan mahal begitu, ga mungkin itu mobil kamu, trus mobil kamu dimana coba? " tanya Bu yang sudah duduk disamping putranya itu
" Itu mobil Elis Bu. "
" Ya ampun kamu jangan bercanda gitu toh sama ibu. "
" Hari ga bercanda kok Bu, itu mobil yang ada dihalaman kita memang mobilnya Elis, tadi baru aja sampai, karena Elis ga bisa nyetir jadi Hari yang bawa pulang mobil itu sementara mobil Hari tak tinggal di rumahnya. "
plakkk
Tiba-tiba saja ibunya memukul lengan Hari sampai Hari merintih kesakitan
" Aduh ibu sakit tahu, kalo tangan Hari mengalami pendarahan didalam bagaimana? "
" Lah kamu ngomong nya masih ngaco begitu, masa kamu bilang itu mobilnya Elis, gimana bisa Elis membeli mobil sebagus itu, diliat saja harganya bisa buat beli rumah sama tanah bapakmu. "
" Ibu ini yang aneh, wong Hari udah ngomong jujur kok, mobil itu memang punya Elis tapi bukan berarti Elis yang beli, ibu tau kan kalo Elis punya kakak angkat yang orang Korea itu? kakaknya yang membelikan mobil itu untuk Elis, tadi siang mobil itu tiba di rumah Elis, aku saja sampai melongo lihat petugas pengiriman itu memasukkan mobil tersebut ke halaman rumah L. "
"Walah jadi bener toh, kayaknya kakak angkat Elis yang orang Korea itu kok beneran sayang ya sama Elis, sampai sampai membelikan Elis mobil sebagus itu."
" Ibu kalo tadi dirumah L pasti cuman bisa diam, ga cuman dibeliin mobil, tadi juga ada kurir yang mengantar kan paket, ga cuman satu tapi ada 4 paket dengan ukuran sangat besar sampai perlu 2 orang buat ngangkat paket itu Bu. " Kata Hari dengan bersemangat
Bu Lilis tidak bisa mencerna kata kata Hari, dirinya memilih untuk masuk kedalam kamarnya, Bu Lilis memang tahu kalo Elis punya kakak angkat orang Korea, L bercerita setelah dirinya kembali ke desa dan sering ada paket dikirim ke rumah L. Ada perasaan lega, karena setidaknya ada yang memperhatikan L meskipun terkadang Bu Lilis khawatir karena belum pernah melihat kakak angkat L, ia hanya mendengar dari L bahwa kakak angkatnya itu orang yang baik.