All About You "L"

All About You "L"
Kotak Kardus



Tengah malam mobil yang ditumpangi ketiganya baru sampai di mansion. Karena kelelahan L sampai tertidur. Melihat adiknya tertidur dengan pulas membuat Bora tak tega.


" Sayang tolong pindahkan L ke dalam ya, aku tidak tega untuk membangunkan nya. " Ujar Bora.


Jisoo tentu saja menuruti kemauan sang istri, ia bergegas mengangkat tubuh L dengan perlahan, Bora membukakan pintu dan melindungi kepala L agar tidak terbentur badan mobil. Pak Im dan Jukyung menyambut kedatangan mereka tapi wajah mereka langsung cemas melihat Jisoo mengangkat tubuh L yang tak sadarkan diri.


Buru buru Pak Im dan Jukyung mendekat " Tuan apa yang terjadi? Ada apa dengan Nona Yuna? " Tanya Pak Im cemas.


" Dia tidak apa-apa hanya tertidur saja, aku dan istri ku tidak tega untuk membangunkannya jadi aku angkat saja tubuhnya. " Jawab Jisoo


" Jukyung tolong bersihkan dan ganti pakaian Yuna ya, dia pasti tidak nyaman jika tidur dengan memakai pakaian kotor. " Imbuh Bora.


"Baik Nona. " Jawab Jukyung.


Pagi hari yang cerah, L terbangun karena sinar matahari menembus kaca jendela dan menyilaukan matanya, harum teh bunga mawar juga membuat L terbangun dari mimpi nya.


Jukyung baru saja keluar dari kamar mandi, melihat Nona mudanya telah bangun ia mengambil kan sendal rumah dan menaruhnya didekat tempat tidur L.


" Selamat pagi Nona Yuna, saya sudah menyiap air hangat untuk anda mandi. "


" Terimakasih Kak Jukyung. "


Tak butuh waktu lama untuk L mandi dan membersihkan diri, sambil menikmati teh bunga yang menenangkan L mengecek ponsel nya. Terlihat banyak panggilan dan pesan yang masuk dari teman-temannya , Daniel, dan juga Hari.


Jukyung sudah selesai menata rambut L, kemudian ia turun untuk sarapan.


L bingung karena meja makan terlihat sepi padahal jam di dinding baru menunjukkan pukul delapan kurang.


" Apa jam itu rusak? " L menunjuk ke arah jam dinding yang ada di ruang makan.


" Tidak Nona, jam itu masih berfungsi dengan baik. " Jawab Jukyung


" Lalu kenapa sepi? Dimana Kedua kakak ku? "


" Tuan Jisoo baru berangkat sekitar sepuluh menit yang lalu sedangkan Nona Bora berangkat pukul tujuh pagi. Dia terlihat buru-buru, asisten nya bahkan sudah sampai disini lebih pagi untuk menjemput nya. " Jawab Jukyung.


L mengangguk mengerti, hari ini hari yang sangat penting untuk perusahaan jadi Bora berangkat lebih pagi untuk menyelesaikan rancangan yang kemarin belum selesai.


Hari ini tidak ada kelas dan tidak ada pekerjaan, sebenarnya ia ingin mulai melukis tapi entah kenapa mood nya sedang kurang baik jadi ia urungkan. Saat sedang menonton televisi dan melihat iklan sebuah taman bunga yang indah tiba-tiba L beranjak dan berdiri mencari Jukyung.


" Kak Jukyung. "


" Iya Nona. "


" Hari ini aku ingin berkebun temani aku ya. "


" Baik Nona. "


Jukyung dan L telah berada di greenhouse yang letaknya tak jauh dari paviliun taman bunga. Tiba-tiba saja ia ingin menanam bunga baby breath, bunga kecil nan imut salah satu bunga kesukaannya.


Semua peralatan telah tersedia tapi Jukyung lupa tidak membawa bibit bunga tersebut.


" Nona maaf saya lupa membawa bibit nya, saya akan kembali ke gudang untuk mengambil nya. " Ujar Jukyung.


L menghentikan nya, ia tidak tega melihat Jukyung bolak-balik ke gudang sendirian.


" Kak Jukyung disini saja biar aku yang mengambil nya, kasian kakak sudah bolak-balik dari tadi. "


" Tapi Nona. " Jukyung merasa tidak enak.


" Sudah tidak apa-apa, hanya mengambil bibit bunga, bukan mengambil sesuatu yang berat. "


" Tidak usah Nona biar saya suruh pelayan lain yang mengambil nya. "


" Jangan! Mereka juga sedang sibuk mengerjakan pekerjaan mereka. "


Dengan terpaksa akhirnya Jukyung patuh dan membiarkan L pergi ke gudang guna mengambil bibit bunga, sifat L yang begitu baik pada siapapun tanpa memandang status kadang membuat Jukyung tidak enak sendiri.


Di gudang L tengah mencari cari bibit bunga nya, kebetulan Pak Im disana bersama beberapa pelayan yang tengah mengecek persediaan.


Pak Im kaget melihat kedatangan L begitu juga yang lain, mereka semua langsung membungkuk memberi hormat.


" Nona Yuna apa yang Anda lakukan disini? " Tanya Pak Im


" Aku hendak mengambil bibit bunga. "Jawab L


" Bibit bunga apa yang ingin anda ambil Nona? Kenapa tidak Jukyung saja yang mengambil nya? " Ujar Pak Im


" Aku masih punya kaki untuk berjalan, lagipula Kak Jukyung tadi sudah bolak-balik kemari aku tidak mau dia lelah. " Jawab L sambil tersenyum.


Pak Im dan lainnya tersenyum mendengar jawaban L, semenjak kedatangan L suasana mansion jadi semakin hangat dan ramai, sifat L yang baik dan juga wajah nya yang imut membuat siapapun langsung menyukai nya.


" Sebentar Nona biar saya ambilkan. " Ujar salah seorang pelayan.


Sambil menunggu L melihat lihat isi gudang dan melihat banyak sekali tumpukan barang dan kardus yang berisi kebutuhan untuk mansion. Ada kardus yang menarik perhatian L karena di luar terdapat tulisan bahasa Indonesia, sebuah alamat tertera disana, alamat dari Jogja.


Pak Im kaget saat L mendekati kotak kardus yang dulu membuat L berteriak dan hilang kendali, Jisoo sudah menyuruhnya menyingkirkan kotak tersebut karena suasana saat itu sedang kacau Pak Im hanya menyuruh anak buahnya untuk disembunyikan di gudang. Pak Im takut kalau L akan kembali berteriak saat melihat isi kardus tersebut, ia berjalan cepat hendak menyingkirkan kardus kardus tersebut.


" Nona! " Ujar Pak Im, ia memberi kode pada anak buahnya untuk menyingkirkan kotak kardus tersebut.


" Ada apa Pak Im? " Tanya L bingung


" Bibit bunga anda akan segera diambilkan, apa anda butuh sesuatu yang lain? Tidak baik jika anda terlalu lama di tempat ini. " Ujar Pak Im


L tetap melangkah menuju kotak tersebut dan mengambil nya, tapi tangannya dicegat oleh Pak Im.


" Jangan Nona! "


L mengerutkan dahinya " Lepas Pak Im. " Ujar L datar, ia melihat ada keanehan pada raut wajah Pak Im saat ia hendak mengambil kotak itu.


" Kotak itu kotor Nona. "


" Tidak masalah aku penasaran dengan isinya karena aku tahu alamat yang tertera diatas kardus itu. "


" Tapi.. " Pak Im semakin gugup


" Kenapa Pak Im bertingkah aneh seperti itu? Ini kan bukan kotak yang berisi bom kan? "


Dengan cepat L membuat kotak tersebut dan membulat kan matanya, sejurus kemudian ia berlari kearah kotak yang lain dan membongkar isinya. Pak Im semakin cemas, ia segera mengambil ponsel dan menghubungi Jisoo.


" Hallo Pak Im ada apa kau menelpon ku? " Jawab Jisoo


" I- itu Tuan, Nona Yuna tengah berada di gudang dan menemukan kotak yang dulu pernah anda suruh untuk disingkirkan. "


Dari kantor Jisoo terlihat bingung lalu menatap layar ponsel nya untuk sejenak berpikir " Kotak apa yang Pak Im maksud? Aku tidak mengerti." Imbuh Jisoo


" Kotak yang pernah membuat Nona berteriak dan hilang kendali sampai mau menyakiti dirinya sendiri. " Jawab Pak Im


" APA! Awasi Yuna dan jangan sampai ia melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya, aku akan segera pulang. " Jisoo menutup panggilan telepon nya dan bergegas pulang.


Pak Im berbalik hendak melihat keadaan L. Ia sedang bingung karena L begitu tak sabarnya membuka kotak kotak tersebut sampai membuka nya dengan asal.


"Nona tenanglah, ini bibit bunga yang ada minta sebaiknya anda kembali ke greenhouse. " Bujuk Pak Im, tapi tak dihiraukan oleh L


" Dimana kotak yang lain? " Tanya L tiba-tiba


" Maksud Nona? "


" Aku bilang dimana kotak yang lain Pak Im, karena harusnya masih ada yang lain. "


Dengan raut wajah yang sedang bingung Pak Im justru diam mematung, pelayan yang lain menggoyang lengan Pak Im karena dia diam saja saat L bertanya padanya.


" Ah maaf kan saya Nona, mungkin kota tersebut ditaruh disana. " Ujar Pak Im sambil menunjuk ke sisi lain gudang


" Cepat ambilkan! " Ucap L dengan nada tak biasa, Pak Im segera pergi bersama pelayan yang lain untuk mencari sisa kotak yang diminta L.


Di Greenhouse Jukyung merasa aneh karena Nona Muda nya sudah cukup lama ke gudang dan tak kunjung kembali, ia menghentikan pekerjaannya dan berjalan menuju gudang.


Jukyung melihat L sedang duduk di lantai dengan kotak kardus yang berserakan disekelilingnya.


" Nona. "


L menoleh dan tersenyum sambil menyuruh Jukyung mendekat.


" Kak Jukyung tolong susun kotak ini ke atas meja ya, hati-hati jangan sampai rusak. "


Jukyung menurutu kemauan L, ia ikut terduduk disamping L dan mengambil sebuah benda didalam kotak kardus tersebut, sebuah kotak berwarna hitam seperti tempat untuk menyimpan perhiasan.


" Ini apa Nona? " Tanya Jukyung penasaran


L mengambil salah satu kotak dan membukanya, mata Jukyung seketika berbinar melihat isi kotak tersebut.


" Ini cantik sekali Nona. " Ucap Jukyung spontan.


" Ini adalah kerajinan perak yang ku pesan saat aku berlibur ke Jogja bersana Mas Hari, aku yang membuat sendiri desain nya. Bagus tidak? "


Jukyung melihat wajah L dengan wajah penuh kekaguman "Benarkah ini desain yang Nona buat sendiri? Ini benar-benar bagus dan cantik sekali. "


Kerajinan perak yang diperlihatkan oleh L adalah sebuah kalung dan dipadukan dengan mutiara.


" Bolehkah saya melihat yang lain Nona? " Tanya Jukyung penuh harap.


" Tentu tapi kau harus berhati-hati ya jangan sampai jatuh, kalau sampai jatuh dan rusak aku akan menangis. " Ujar L


Jukyung tertawa " Baik Nona saya akan dengan sangat hati-hati membuka dan melihat nya. "


Disaat kedua tengah duduk dilantai, Jisoo akhirnya datang dan berlari ke arah L sekaligus memeluk nya.


" Kau tidak apa-apa kan Yuna? "


L terdiam karena kaget tiba-tiba kakak nya memeluk nya.


" Aku baik kenapa kakak di sini? "


Jisoo sendiri pun bingung dengan suasana saat ini , ia menatap lekat ke arah L yang terlihat biasa saja hingga membuat nya salah tingkah.


" Oh ti-tidak apa apa aku ha-nya.... " Ujar Jisoo terbata-bata


L memicingkan matanya menunggu dengan tak sabar ucapan Jisoo " Kakak bicara yang jelas, kenapa kakak terlihat gugup seperti itu? " Tanya L penuh selidik.


Waktu yang tepat.


Pak Im datang membawa sisa kotak yang diminta L.


" Nona ini kotak yang Anda minta dan ini adalah kotak terakhir. " Ujar Pak Im yang kaget karena Jisoo sudah ada disamping L dengan wajah tak bisa di artikan, suasana jadi tampak aneh dan membingungkan baginya.


Perhatikan L teralihkan dan segera menyambar kotak besar itu, dengan semangat ia membuka kotak itu dan melupakan Jisoo yang ada disamping nya.


" Kakak Jisoo bantu aku membawa semua ini ke perusahaan ya! " Ujar L tiba-tiba


Jisoo diam tak mengerti.


" Kak Jisoo! Ucap L sedikit keras


" Oh apa! Tadi kau bilang apa? "


" Aku bilang temani aku ke kantor Bora, aku memberikan ini padanya. Dengan benda ini perusahaan kita pasti akan selamat."


Jisoo memandang kotak itu,kesadaran mulai kembali dan mencoba fokus dan tak memikirkan kejadian tadi.


" Memang isi kotak itu apa? Lalu kenapa kau mau ke kantor? "


" Isi nya perhiasan dan aksesoris yang terbuat dari perak. Aku ingin memberikan pada Bora agar digunakan dalam acara fashion show nanti, dengan rancangan yang telah diperbarui kupikir dengan di padu padan kan akan sangat cocok, aku sudah membayangkan model dan warna rancangan tersebut. Dengan adanya aksesoris ini akan menyempurnakan tampilannya. " Ujar L


" Ini untuk kakak. " L menyerah sebuah kota kecil berisi pin dan penjepit dahi pada Jisoo.


" Ini sangat bagus. " Ujar Jisoo begitu menerima dan melihat pin dan penjepit dahi tersebut.


" Aku hampir melupakan nya, untung saja aku kemari dan melihat kotak itu. Aku langsung ingat saat membaca alamat yang tertera di atasnya. " Imbuh L


" Baiklah ayo aku akan mengantarkan mu ke sana. " Ujar Jisoo. Ia kini mengerti tujuan L dan sedikit lega karena hal yang tak di inginkan tidak terjadi.