
Seharian itu Shin memonopoli L, ia mengajaknya keliling rumah dan tidak pernah melepaskan tangannya dari tangan L. Tentu membuat D.O dan Jaehyun kesal.
" Lihat L, ini adalah guci yang berusia lebih dari 500 tahun, ini adalah harta warisan dari nenek moyangku yang turun temurun diwariskan sejak jaman kerajaan era Goryeo."
L tampak senang melihat berbagai benda antik yang ada di rumah Shin, tanpa sadar waktu telah berjalan cukup lama.
Kepala pelayan memanggil Shin dan lainnya untuk makan malam.
" Tuan sudah waktunya makan malam, saya sudah menyiapkan semuanya, silahkan. " kepala pelayan mempersiapkan para tuan muda dan L untuk masuk kedalam.
Di ruang makan akhirnya tangan Shin melepaskan tangan L. D.O langsung menyeret L untuk duduk didekatnya.
" L kau duduk disamping saja ya, ini mangkuk nasi minyak, apa kau mau makan dengan sendok garpu atau sumpit? " tanya D.O sambil memberikan kedua alat makan tersebut
L tersenyum " aku makan dengan sendok garpu saja kak. "
Jaehyun tidak mau kalah " L cobalah hidangan ini, terbuat dari abalon dan rasanya sangat enak. " mengambil hidangan tersebut dan menaruh nya diatas piring yang kosong.
D.O tak tinggal diam ia segera mengambil beberapa hidangan lain dan langsung menaruh nya di piring untuk L. L jadi bingung karena lauk yang ada dimeja begitu banyak dan ia tidak tahu harus makan yang mana terlebih dahulu.
" Kakak ingin membuat ku jadi sapi ya? lauk di piring dan di mangkuk ku sudah penuh seperti gunung, aku bahkan bingung harus mulai makan yang mana terlebih dahulu." wajah L langsung cemberut
Ketiganya baru sadar, mereka pun tertawa.
" Maafkan kami L, kami terlalu bersemangat." ucap Jaehyun dengan malu
" Kalian ini benar-benar bodoh, biarkan L makan dengan tenang. Dan kalian fokus saja dengan piring kalian masing-masing. " ucap Shin membuat D.O dan Jaehyun menatap nya sinis.
Setelah makan malam yang membuat L kekenyangan, waktunya pulang. D.O dan Jaehyun mengantarkan L pulang sekalian mengambil mobil mereka.
" Kakak terimakasih makan malamnya, aku pulang. " pamit L kemudian membungkuk memberi hormat.
" Iya jangan sungkan, lain kali kalau kau ingin bermain ke rumahku kau bebas datang kapan saja. " jawab Shin sambil melambaikan tangan
Dirumah Bora dan Jisoo sudah menunggu L, ia menceritakan kegiatan nya yang sangat menyenangkan bersama big3.
Tanpa terasa ujian pun tiba, semua orang terlihat gugup, tidak dengan L ia terlihat tenang dan biasa saja.
" L kau harus yakin dan semangat, apapun hasilnya kami akan selalu bangga padamu. Jangan gugup dan kerjakan soalnya dengan teliti ya, jangan lupa untuk menulis namamu. " Bora memberikan semangat pada L sebelum memasuki ruang ujian.
" Sayang sepertinya yang harus tenang adalah kau, L baik baik saja. Jadi jangan cemas, kita do'a kan yang terbaik saja untuk nya. " Kata Jisoo menenangkan istrinya.
" Aku pun heran, dia yang hendak ujian tetapi kenapa aku yang gugup. Jantung ku berdebar begitu cepat. " memegangi dadanya.
" Kakak jangan khawatir aku pasti bisa.Aku masuk yang. " L berjalan meninggalkan Jisoo dan Bora menuju ruang ujian.
Waktu yang ditentukan telah habis dan guru pengawas pun mengumpulkan kertas jawabannya.
Empat hari ujian tersebut berlangsung, L dengan tenang mengerjakan soal-soal yang ada, tidak terlihat kesusahan Jukyung yang setia menunggu cukup heran melihat Nona mudanya.
Karena selama les berlangsung L hanya terlihat fokus memperhatikan saat awal pelajaran, selebihnya ia hanya bengong dan tidak memperhatikan. Jukyung pikir L akan kesusahan tapi nyata tidak. Atau mungkin L asal menjawab dan tidak terlalu mementingkan hasil dari ujian tersebut, bagaimana pun hasilnya L tetap bisa masuk ke Universitas lewat jalur khusus.( Jukyung pikir L bisa masuk lewat koneksi yang dia punya, lagipula ayah Jisoo sebagai rektor dan kakaknya sendiri seorang profesor).
Hari dimana nilai ujian di bagikan akhirnya keluar, disini yang memasang wajah penasaran justru bukan L namun Bora dan Jukyung.
Diruang keluarga, semua tengah berkumpul termasuk Tuan Kim dan kepala pelayan. Mereka sedang menunggu Jisoo yang mengambil hasil ujian milik L.
Saat Jisoo masuk, wajahnya tampak muram dan tidak bersemangat. Orang-orang yang melihat nya jadi berfikir yang tidak tidak, mereka mengira Jisoo membawa kabar buruk seperti nilai ujian L yang jelek atau nilai ujian L tidak memenuhi syarat untuk bisa masuk ke Universitas Seoul.
Bora memecah keheningan dengan menanyakan langsung pada Jisoo " sayang bagaimana hasilnya? kenapa wajahmu terlihat cembetut seperti itu. "
Jisoo duduk di dekat Bora sambil menyerah kan sebuah kertas. Semua orang terdiam, suasana jadi tegang.
Perlahan Bora melihat kertas tersebut dan belum sempat ia melihat Jisoo malah berteriak mengagetkan semua orang
" Surprise, Pak Im cepat siapkan perta untuk kita semua. " kata Jisoo dengan semangat
Bora bingung dengan tingkah Jisoo " sayang ada apa ini, kau membuat kami kaget saja. "
Tuan Kim yang sudah tidak sabar akhirnya merebut kertas hasil ujian dan ia langsung melotot.
Bora heran dengan reaksi ayahnya saat melihat kertas tersebut, ia segera bangkit untuk ikut melihat nya.
" Aaaaaaarghhh. " Bora berteriak kencang dan memeluk L dengan begitu erat.
L yang sedang minum sampai tersedak
" Kakak lepaskan aku, aku tidak bisa bernafas. " Bora yang kembali sadar langsung melonggarkan pelukan
Ternyata hasil ujian L sangat diluar dugaan, Tuan Kim menyerah kertas itu pada Kepala pelayan dan Jukyung. Mereka terkejut.
Semua nilai yang didapat L sempurna, dan tertulis ia meraih peringkat pertama sebagai peserta ujian dengan nilai terbaik.
Bahkan dulu hasil ujian milik Jisoo tidak sesempurna itu. Jukyung begitu terkejut ternyata Nona mudanya benar-benar seorang jenius.
Semua orang sangat gembira terutama Tuan Kim. Malam itu suasana yang tegang berubah menjadi kegembiraan. Segera setelah itu, Tuan Kim menyuruh para koki di dapur membuat berbagai macam makanan untuk merayakan hasil ujian L.
Di meja makan Tuan Kim tidak berhenti tersenyum, ia sesekali mengelus kepala L. Dalam pikiran nya, ia sudah memikirkan berbagai hadiah yang akan diberikan pada L karena mendapat nilai yang sangat baik.