
Pagi hari Jukyung datang ke kamar L dengan membawa nampan berisi teh dan kudapan pagi. Sebelum masuk ia terlebih dahulu mengetuk pintu.
Sang pemilik kamar terlihat masih tertidur dengan cantik.
Saat tidur saja bisa secantik itu, apalagi setelah bangun. Orang cantik mau tidur atau apapun tetep saja cantik. Gumam Jukyung.
Jukyung membuka korden dan jendela satu persatu agar udara pagi nan sejuk bisa masuk ke dalam kamar. L tampak menggeliat karena sinar mentari menerma wajah nya dan ia merasa silau meski masih terpejam.
Jukyung beralih ke walk in closet dan mengambil pakaian yang akan dikenakan L hari ini. Menyiapkan air hangat untuk mandi dan terakhir menyeduh teh Chamomile kesukaan L.
Aroma teh yang harus memenuhi kamar dan L bisa mencium baunya. Perlahan ia membuka matanya.
" Selamat pagi Nona Yuna. " Sapa Jukyung dengan ramah.
L bangun dan menghampiri Jukyung, ia tersenyum pada Jukyung.
" Selamat pagi juga Kak Jukyung."
" Saya sudah menyiapkan air untuk anda mandi Nona, hari ini Nona berangkat ke kampus sekitar jam 10 jadi Nona tidak perlu terburu-buru. "
" Iya terimakasih, aku mandi dulu. "
Selesai mandi, Jukyung menata rambut L, sembari meminum teh dan memakan kudapan paginya, L memeriksa ponsel nya.
" Selamat pagi Yuna. " Tiba-tiba saja Bora masuk dan berteriak menyapa L.
" Bora kenapa kau suka sekali berteriak teriak, apa kau tidak lelah. "
" Hei nama siapa yang baru saja kau ucapan hah? "
" Ops maaf, Kak Bora. "
" Nah begitu baru benar. "
" Iya ada apa pagi-pagi sudah semangat begitu Kak."
" Memangnya tidak boleh? "
" Bukan tidak boleh, cuman kau bisa mengganggu tetangga kita."
" Tetangga yang mana? Jarak rumah kita dengan rumah yang lain itu puluhan kilometer jadi mana ada mengganggu tetangga. " L dan Jukyung tertawa
" Candaan tidak lucu sama sekali. " Ujar Bora
" Lucu. Buktinya Kak Jukyung tertawa. " Jukyung yang sedang tersenyum langsung merubah sikapnya saat Bora melihat nya.
" Kau ini selalu saja pintar bicara. Jam berapa kau berangkat ke kampus? "
" Jam sepuluh, hari ini hanya ada dua mata kuliah yang akan kuhadiri. "
" Bagus, jadi setelah pulang dari kampus maukah kau datang ke kantor ku? "
" Untuk apa?"
" Untuk membantu ku. "
"Membantu dalam hal apa? "
" Kau ingat dengan gambar desain yang ku buat untuk ku? "
" Iya. "
" Aku berencana akan membuat pakaian sesuai dengan gambar desain milikmu, bagaimana? Keren kan? "
" Jika aku merugi aku sekap kau dan ku suruh kau melukis yang banyak dan ku jual dengan harga tinggi agar aku dapat uang. "
" Kakak. " Ucap L sambil bergelantungan di lengan Bora.
" Aku serius dengan perkataan ku, aku tidak menyuruh mu untuk membuat gambar desain lagi, hanya saja aku ingin meminta pendapat mu dan meminta bantuan mu untuk merevisi desain-desain milik anak buahku. Hanya lihat dan bantu koreksi, seperti itu. "
L menghela nafas " Iya baiklah. " L terpaksa mengiyakan.
*****
Setelah sekian lama sejak kepergian L, Hari akhirnya datang ke rumah L. Hari sedang pulang ke kampung guna mempersiapkan diri untuk terbang ke Korea lima hari lagi.
Rumah L masih terawat dengan baik karena ayah nya menyuruh orang untuk menjaga dan membersihkan setiap hari.
" Eh ada Mas Hari, selamat pagi, Mas Hari pasti lagi curi kuliah ya?. " Sapa Pak Budi yang ditugaskan merawat rumah L.
" Iya pagi juga, ia ini saya sedang cuti sekalian siap siap sebelum berangkat ke Korea. "
" Korea? Loh ngapain ke sana Mas? Bukannya Mas Hari kuliah kedokteran, ke Korea mau jadi TKI? "
" Bukan Pak. " Hari tersenyum karena Pak Budi mengira dia pergi Ke Korea hendak bekerja sebagai TKI. Di kampung nya memang banyak yang merantau jadi TKI keluar negeri, salah satunya Korea.
" Saya dapat beasiswa kuliah disana Pak. "
" Oalah kuliah toh, hebat sekali Mas Hari bisa kuliah sampai ke Korea, di negeri sendiri saja kuliah kedokteran biayanya mahal banget apalagi di luar negeri. "
" Tidak mahal Kok Pak, soalnya Hari daftar program Beasiswa jadi dapat semacam bantuan gitu. "
" Gitu toh, Pak Anwar sama Bu Lilis pasti bangga sekali punya anak bisa kuliah sampai luar negeri. Bapak harap si Toni juga bisa sepinter Mas Hari. " Ujar Pak Budi.
Hari tersenyum, ia pamit pada Pak Budi dan masuk kedalam rumah L.
Begitu pintu terbuka, bayangan wajah L yang tersenyum menyambut dirinya terbayang. Suasana di dalam rumah nya masih sama seperti terakhir kali ia tinggal kan.
Hari melihat foto foto yang tertempel di dinding, foto masa kecil L dari masih bayi hingga beranjak remaja. Sangat lucu dan imut, Hari tersenyum kecil melihat nya.
Beralih ke lantai dua terutama balkon tempat dimana dia dan L menghabiskan waktunya. Ia sangat merindukan L, sangat sangat rindu sampai tak terasa air matanya jatuh.
Hari duduk di kursi dekat rak buku yang berisi banyak novel, ia mengambil salah satu buku dan mendekap nya. Matanya terpejam dan wajah L yang tengah tersenyum terbayang di benaknya.
Terpaan udara yang cukup dingin tak dihiraukan oleh Hari, ia memejamkan mata sampai akhirnya tertidur disana.
Kringg kringg Kringg
Dering telepon membuat Hari terkesiap, ia buru-buru mengambil ponsel nya dan hendak mengangkat telepon tersebut, namun sebelum diangkat telpon tersebut sudah terhenti mungkin karena Hari terlalu lama tidak mengangkatnya.
Ternyata si Arya yang menelpon nya. Hari menggeliat dan bangun dari kursi nya. Ponsel nya sudah kembali masuk ke dalam kantong, ia tak berniat sama sekali menelpon balik pada Arya.
Saat berjalan masuk tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh menimbulkan suara yang cukup keras. Suara benda jatuh dari ruang lukis milik L.
Hari berjalan kesana, diperhatikan olehnya ruangan yang tampak rapi dan tidak ada sesuatu yang aneh. Ternyata hanya kuas lukis yang terjatuh telat diatas kaleng cat minyak, sehingga suara yang dihasilkan cukup keras. Hari mengambil kuas itu dan meletakkan nya ditempat yang semestinya.
Gerakan tangannya terhenti saat melihat sebuah main putih menutupi sesuatu dan Hari yakin itu sebuah lukisan.
Karena penasaran Hari menarik kain tersebut dan benar saja apa yang ada dibalik kain itu adalah sebuah lukisan.
Lebih tepat nya lukisan potret dirinya yang dulu pernah ia minta pada L. Lukisan yang sangat bagus, bahkan terlihat nyata dan dirinya yang ada didalam lukisan tersebut sedikit lebih tampan.
Dia selalu menepati janjinya, dia melukis hidungku lebih mancung dari aslinya. Guman Hari sambil tersenyum memandang lukisan itu.
Setelah puas memandang lukisan itu, Hari mengambil lukisan tersebut dan ia bawa pulang.