
Elis terdiam cukup lama, hanya air mata yang terus mengalir dan menyatu dengan air hujan. Ia tak menghiraukan luka dan darah yang mengalir dari kepalanya.
Sejenak ia memejamkan mata, lalu semua kata kata yang diucapkan oleh bibinya kembali terngiang di telinganya, keduanya tangannya langsung menutup kuping berharap suara-suara itu menghilang, namun itu percuma saja. Justru semuanya semakin jelas dan seakan-akan bibinya masih ada di hadapan nya.
Ku mohon berhenti, aku mohon bibi.... aku salah maafkan aku... maaf. Kata L lirih
L melihat buket bunganya sudah hancur berantakan, hanya tersisa beberapa bunga yang masih berada di tangkainya, namun kelopaknya pun sudah kotor terkena tanah. Sambil menangis ia menatap bunga itu, ia ingat bagaimana pamannya berlarian mengejar nya ke parkiran dan membelikan bunga itu dengan wajah yang penuh kehangatan.
Elis merasa bersalah karena tidak bisa menjaga bunga itu, dan mendekap bunga itu seakan begitu sayang.
Paman maafkan Elis tidak mampu menjaga bunga pemberian paman dengan baik, padahal Elis sudah berjanji akan menyimpan nya, maaf kan Elis... maaf... hiks... hiks... hiks... kata Elis masih sambil memeluk , ia berbicaralah seakan pamannya ada didekatnya.
Semua luka dan rasa sakit yang ia rasakan tidak dihiraukan Elis, dengan langkah gontai, L berjalan tertatih tatih masuk kedalam rumahnya.
Terlihat bahwa darah masih mengalir hingga ujung jari jarinya, tangan kirinya masih saja menggenggam buket tersebut.
Perlahan ia masuk kedalam rumah mungilnya, ia menatap dinding rumahnya yang ditempel ia banyak pigura. Ada foto-foto penuh kenangan tersusun rapi disana. Ada foto kedua orangtuanya, kakek, nenek, foto L dari masih bayi hingga terakhir foto saat lulus SMP bersama neneknya.
Hati L terasa begitu sakit, seakan ribuan jarum menusuk secara bersamaan. Dan kata-kata bibinya yang bilang kalau dirinya adalah anak pembawa sial dan penyebab meninggalnya kedua orang tua dan kakek neneknya,kembali terngiang di kepalanya.
Ayah, Ibu, kakek, nenek, sepertinya benar kata bibi Ellen kalau Elis ini hanyalah anak pembawa sial, lahirnya Elis hanya membuat kalian pergi dari dunia ini, jika saja Elis tidak lahir diantara kalian, mungkin ayah, ibu, kakek, dan juga nenek masih hidup dan bisa tersenyum bahagia hingga saat ini. Seharusnya Elis tidak pernah ada didunia ini.
Wajah L sudah tidak menampakkan emosi lagi, ia hanya menatap foto-foto itu sambil sesekali menyentuh nya. Ia kembali melangkahkan kaki menuju halaman belakang. Jejak kakinya begitu jelas dilantai yang putih itu, beserta tetesan darah bercampur air dan beberapa helai kelopak krisan.
Jika tidak sedang hujan dan matahari bersinar terang, pastilah pemandangan yang dapat terlihat dihalaman itu adalah danau dan bukit-bukit yang mengelilingi nya, tapi apalah daya, sekarang sudah malam, hujan sedang turun disertai kabut yang memenuhi seluruh area.
Kaki L sudah tidak mampu menahan badannya, ia terjatuh dan membiarkan tubuhnya terkulai ditanah yang basah. Nafasnya semakin berat, pandangan nya mulai buram. Suara hujan yang terdengar keras dimalam itu sudah tidak bisa didengar oleh kedua telinganya, bibirnya juga tidak bersuara lagi.
Dari balik gumpalan kabut tebal itu, mata L melihat sosok yang begitu ia kenal dan rindukan. Sosok itu adalah neneknya, ia melihat kilas balik dirinya bersama neneknya yang menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh kebahagiaan, bercanda, bermain, makan, tidur, dan menemani neneknya kemanapun ia pergi. L tersenyum sejenak.
Nenek aku sangat... sangat.. merindukan mu. Kata L dalam hati, karena ia sudah tak punya tenaga lagi untuk berbicara
Lalu ada juga bayangan manusia yang mirip dengan kedua orang tuanya dan kakeknya, mereka tersenyum pada L dan merentangkan kedua tangannya, seakan menanti L untuk datang pada mereka.
Pandangan L semakin buram, dan sosok yang dilihat nya pun mulai menghilang meninggalkan L.
Ayah, ibu, kakek, nenek jangan pergi, jangan tinggalkan Elis sendirian, aku mohon jangan biarkan Elis kesepian, bawalah Elis bersama kalian, aku mohon.
Kata L terpejam, meskipun berat ia masih berusaha untuk membukanya. Tiba-tiba neneknya berjalan mendekati L dan mengulurkan tangannya seakan mengajak nya untuk pergi bersama mereka. Lalu ada sosok yang sangat mirip dengan L, memakai pakaian berwarna putih mirip yang ia kenakan saat ini, hanya saja terlihat bersih dan wajah L tengah tersenyum bahagia, ia meraih tangan neneknya dan ikut berjalan bersama mereka, dan akhirnya semuanya menghilang seakan ditelan oleh kabut.
Bersamaan dengan hal itu, mata L pun terpejam dan tidak terbuka lagi. Tubuh L terkulai dibawah langit beralasan bumi, hujan terus menerus turun disertai hawa dingin yang menusuk tulang.
Malam itu rumah mungil yang berada diatas bukit terlihat suram, angin yang berhembus dengan suka hati masuk rumah yang tak tertutupi. Sementara si pemilik rumah sudah tergeletak dengan tangan masih menggenggam buket bunga krisan yang sudah rusak.