
Diruang kerjanya, Tuan Kim memerintahkan kepala pelayan dirumah nya untuk mempersiapkan kamar baru untuk anak angkatnya, sementara asisten Yoo diminta mengurus dokumen berkaitan tentang pengadopsian anak.
Setelah pulang kerja, Bora dan Jisoo datang kerumah sakit guna menjenguk L. Saat mereka masuk kedalam, wajah Bora langsung tersenyum cerah karena melihat L sudah bisa duduk, ia mendekati L dan memanggilnya.
Bora duduk dihadapkan L dan memanggilnya dengan lembut, tak ada jawaban. Bora merasa aneh, L hanya menatap nya kosong dan tak bersuara. Jisoo juga ikut mendekat, L tak bergeming dan hanya memandang mereka tanpa ekpresi. Bora jadi khawatir.
" L ada apa dengan mu, ini aku Bora kau kenal aku kan? kenapa kau diam saja katakan sesuatu. " kata Bora sambil mengguncang tubuh L, namun L tak memberikan respon, ia tetap menatap kedepan dengan tatapan kosong.
Jisoo mencoba memanggilnya juga " Elycia Agatha? " L terus diam
Bora dan Jisoo segera menemui Sun-woo, didalam ruangan tampak sedang fokus terhadap sesuatu.
" Sun-woo. " panggil Bora yang langsung masuk kedalam ruangan tanpa permisi
" Apa yang terjadi pada adikku? dia bagaikan boneka yang tidak berekspresi, saat kupanggil namanya ia hanya menatap kedepan dengan tatapan kosong. "
" Sepertinya L mengalami PTSD, gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan. Tapi itu baru dugaan ku saja, aku akan mengirim dokter psikologi untuk memeriksa L lebih lanjut. "
Bora tampak sedih, gadis kecil yang biasanya periang dan murah senyum itu telah berubah seakan tak bernyawa, bahkan L tak mengenali siapa di dirinya. Tanpa terasa air mata Bora menetes. Jisoo hanya bisa menenangkan nya, karena memang hal ini benar-benar membuat mereka sedih
" Sun-woo ku mohon sembuhkanlah adikku, buat dia bisa tersenyum seperti dulu lagi, aku tak tega melihat dia seperti itu, membuat hatiku sangat sakit. Kenapa gadis kecil dan baik hati seperti L harus mengalami hal ini, siapa yang berani berbuat sejahat ini pada adik kecilku." Bora tak kuasa menahan kesediaanya
Beberapa hari telah berlalu, L masih saja tidak merespon Bora dan lainnya, sesekali bahkan L tiba-tiba berteriak-teriak dan melempari semua benda yang ada di dekatnya, Bora yang kala itu tengah menjenguk nya sampai kaget dan sangat khawatir karena melihat L seperti itu, ia bahkan mengambil pecahan kaca dan menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Untuk keduanya kalinya Bora melihat L tak sadarkan diri tepat dihadapan nya, Bora merasa kalau L seperti tidak mau hidup lagi. Bora sempat berfikir jika kejadian sebelum nya, L mungkin saja hendak bunuh diri, namun setelah ditemukan nya luka dibagian kepala L yang disebabkan benturan benda padat secara bertubi-tubi, Bora langsung menghilang fikiran itu, ia yakin ada seseorang yang hendak mencelakai adiknya.
Insiden L yang menyayat pergelangan tangannya sendiri, membuat ia harus masuk ke meja operasi lagi, untung saja lukanya tidak dalam sehingga tidak membahayakan nyawanya, namun tetap saja membuat panik Bora.
Satu bulan lamanya L tidak kunjung bangun setelah operasi itu, padahal kondisi dan tanda vital L telah membaik dan tidak ada gangguan apapun.
Bora, Jisoo, bahkan Big3 rutin menjenguk L, setiap malam Bora akan menginap dan membacakan buku untuk L, meskipun L dalam keadaan tidak sadarkan diri, Bora yakin kalau L tetap mendengarkan nya.
Musim dingin masih berlanjut, udara diluar sangat dingin namun didalam ruangan tempat L dirawat terasa hangat, Bora telah selesai membacakan buku, ia naik ketempat tidur yang ada disana dan mulai memejamkan mata.
Pagi pagi sekali salju sudah turun, Orang-orang mulai melakukan aktivitas nya seperti biasa, Bora yang mendengar alarm nya berbunyi segera terbangun, ia meregangkan tangannya sebelum turun dari tempat tidur, ia tak menyadari sosok yang tengah duduk sambil memandang nya.
" Bora. " kata L pelan, ia seperti orang bingung karena dirinya tidak ada dirumah melainkan disuatu ruangan dengan Bora yang tertidur disamping nya, ia memandang ruangan yang luas seperti kamar hotel, tapi ada banyak alat-alat medis yang canggih ada dan beberapa selang yang menempel ditubuhnua. L memandang jendela dan melihat salju tengah turun.
Bora menoleh setelah mendengar ada yang memanggilnya, Melihat L tengah duduk sambil menatap dirinya dengan bingung Bora seketika itu juga berteriak " Aaaaaaaargghhhhh. "
Sun-woo dan perawat yang sedang berjalan di lorong hendak mengecek keadaan L langsung berlari karena mendengar teriakan Bora.