
" Semua gara gara gadis pembawa sial itu. " Bibinya tiba-tiba menarik tangan dan rambut L dan menjatuhkannya ke lantai dengan keras
Pamannya berusaha menghentikan " Ellen apa yang sedang kau lakukan. "
" Mas diam saja, jika saja kau tidak membawa anak ini kerumah kita, hidup kita pasti tidak akan berantakan dan anakku juga tidak akan menderita. " kata Bibi Ellen sambil berteriak
Paman Andrea menyuruh L masuk ke kamarnya, awalnya L diam terpaku, namun dengan bentakan pamannya yang begitu keras agar L masuk ke kamarnya, ia pun tersadar dan berlari masuk kekamar dan menangis sejadi-jadinya.
Diluar pertengkaran masih berlanjut, paman Andrea berusaha menangkan istrinya " Ellen kenapa kau jadi kasar pada anak itu, dia tak memiliki salah apapun. "
Bibi Ellen menepis tangan suaminya " tidak, ini semua salah gadis itu, setelah dia datang ke rumah ini, kau seakan lupa dengan darah daging mu sendiri, teganya kau mengirim anakku masuk ke akademi Kepolisian dan memisahkan ku darinya, dia anak kita satu-satunya dan kau tau aku begitu menyayangi nya, kau juga tau kalo Yoga tak ingin masuk ke sekolah itu, ia ingin hidup menjadi seorang mahasiswa dan menikmati masa mudanya, sejak ia lahir dan masuk sekolah kau selalu mendidik nya dengan keras, kenapa kau memperlakukan anakku seperti itu demi cita-citanya mu yang gagal itu." Wajah Bibi Ellen sudah dibasahi air mata
" Kau bahkan sering memukul jika ia melakukan kesalahan sepele, ia sudah dewasa dan ia masih harus kesusahan, kau tahu sekolah itu sangat ketat. Memang Yoga tidak begitu pintar hingga akhirnya gagal masuk ke Universitas kedokteran, tapi apa harus kau mengirimkan kesana, tidak bisakah anakku sedikit bernafas. Saat anakku sedang menderita, kau membawa masuk gadis itu tanpa persetujuan ku, kau menyekolahkan nya disekolah elite dan mahal sampai biaya sekolah anakku sering terlambat kau bayar, aku begitu memanjakan nya sementara anakku mungkin sedang kesusahan di asrama, ia harus hidup dengan jadwal yang begitu ketat sementara anak itu bisa hidup nyaman dan tidur dikasur yang hangat. " Paman Andrea terdiam
" Hari ini ia bahkan dengan enaknya tertidur dengan nyamannya setelah berlibur di Bali dan menghabiskan uang kita, kah lihat anak tak tau diri itu, seenaknya bersenang-senang sementara anakku saja tidak seperti itu. Makanan yang khusus untuk Yoga berani ia makan, ia tidak pantas mendapatkan semua itu, harusnya anakku, anak kandung ku, bukan si anak pungut itu. " Kata-kata Bibi Ellen, terdengar jelas ditelinga L, ia mengerti kenapa selama ini pamannya begitu keras padanya dan kenapa Bibinya membencinya.
Teriakan teriakan Bibi Ellen masih terdengar hingga satu jam lamanya, dan selama itu L merasa sangat bersalah pada sepupunya, jika saja ia tak datang kerumah ini mungkin sepupunya tidak akan dikirim ke luar kota dan bisa menikmati apa yang ia rasakan. Dan L tidak akan menderita dengan segala pengaturan yang dibuat pamannya agar Bibinya menyukai nya.
Dengan mengetahui fakta tersebut, L pun segera mengambil tasnya dan mengemas beberapa barang nya, ia mengirim pesan pada Anita dan dengan keluar dari jendela kamarnya ia pun pergi dari rumah pamannya, tekadnya sudah bulat sekarang, selama ini ia sudah sering memikirkan untuk keluar tapi saat itu ia belum punya cukup keberanian dan alasan, kini semua sudah jelas, setelah malah penuh kekacauan itu, tidak ada alasan bagi L untuk tetap berada dirumah itu.
Dengan berjalan sejauh 1 km menuju jalan besar, L naik bus ke rumah Anita, disana ia mengambil ponsel dari Bora yang ia titipkan pada Anita, dan meminta tolong Anita untuk mengantarkan nya ke terminal terdekat. Hanya Anita yang berani ia mintai tolong, karena orang tua Anita jarang dirumah sementara kakaknya juga kuliah diluar kota, jadi hanya akan
Anita seorang yang tinggal dirumah. Ada asisten rumah tangga, tapi karena rumahnya dekat jadi ia hanya datang pagi dan pulang saat sore.
L menangis dan menceritakan semuanya pada Anita, Anita ikut bersedih dan memeluk L sambil menenangkan nya. Setelah itu ia pun mengantarkan L ke terminal meskipun itu sudah sangat larut, Anita sebenarnya melarang L untuk kembali ke desanya saat itu, ia minta L untuk pergi esok harinya. Tapi melihat L yang begitu tertekan dan seakan ingin segera pergi dari kota itu, Anita dengan berat hari akhirnya menuruti permintaan nya.
Usai berpamitan dan saling mengucapkan salam perpisahan, L pun akhirnya naik bus menuju desanya dan meninggalkan semua yang ada dikota tersebut termasuk sahabat karibnya.
Sepanjang jalan L terus saja menangis karena pertemuan itu merupakan pertemuan untuk yang terakhir kalinya dengan Anita, Karena Anita berencana akan sekolah di Jepang, jadi meskipun ia tetap dikota itu , ia tetap tidak akan bertemu sahabatnya lagi.
Pagi harinya, L telah sampai dipintu gerbang menuju ke desanya, ia segera naik ojek menuju rumah kepala desa yaitu pak Anwar. Dengan mata bengkak ia pun mencari Pak Anwar, karena selama ia tinggal dirumah pamannya, Pak Anwar yang menjaga dan merawat rumah peninggalan neneknya itu. Disana ia menceritakan semua yang ia alami hingga akhirnya kabur dari rumah paman.
Dan begitulah kisah menyedihkan yang terkadang masih terngiang di ingatannya, karena itu kedatangan pamannya itu membuat hati L goyah dan hanya bisa menurut jika berhadapan dengan sang paman.