
Sebelum jam makan malam tiba L segera pamit pada D.O dan Direktur Han, hari ini ayah nya pulang dan sudah memiliki rencana bersama Bora dan Jisoo untuk menyambut nya.
" Bibi Han terimakasih karena memberi ku kesempatan untuk belajar berbisnis, aku serahkan Sora pada Bibi. Aku yakin dia akan membuat kita bangga. " Ujar L
" Tidak perlu berterimakasih , kau sudah ku anggap anak ku sendiri, tahu sendiri bukan kalau Bibi tidak punya anak perempuan, hanya Kyungsoo dan adiknya yang selalu membuat ku sakit kepala dengan tingkah mereka." Ujar Direktur Han sambil melirik ke arah D.O
" Baiklah kalau begitu aku pamit pulang. "
" Kenapa buru-buru? Kau belum makan malam bukan? Pulang nanti saja setelah makan malam. "
"Maafkan aku Bibi, hari ini aku dan Bora telah menyiapkan pesta untuk menyambut kepulangan ayah jadi aku harus buru-buru pulang. "
" Oh benar kah? " Tanya Direktur Han.
" Benar Bibi. Apa Bibi dan Kak D.O mau ikut bergabung bersama ku dan Bora, Pak Im telah menyiapkan makan malam istimewa untuk menyambut kepulangan ayah. " Ajak L pada Direktur Han dan D.O
" Sepertinya lain kali saja Yuna. Bibi nanti malam ada acara makan malam dengan rekan bisnis Bibi. Dan anak satu itu harus kembali syuting bukan? " Tanya Direktur Han pada asisten D.O
" Be-benar Direktur Han. " Jawab Asisten D.O cepat
" Sayang sekali, jika kalian ikut pasti akan semakin ramai. "
" Masih banyak waktu jadi tidak usah khawatir, nanti Bibi akan membuat janji dengan Ayah mu agar kita bisa makan malam bersama kalau perlu kita ajak keluarga Shin dan Kim untuk bergabung. "
" Setuju. " Sahut D.O tiba-tiba
L tersenyum, setelah memeluk Direktur Han ia bergegas keluar dari ruangan dan pulang dengan diantar D.O
****
" Selamat malam Nona. " Jukyung sudah menanti L di depan pintu
" Malam kakak, apa aku terlambat? " Tanya L
" Tidak Nona, lebih baik Nona kembali ke kamar dan membersihkan diri terlebih dahulu. Nona Bora dan Jisoo baru saja berangkat untuk menjemput Tuan Besar, masih ada waktu jadi Nona tidak usah khawatir. " Ujar Jukyung.
" Ah syukur lah. Aku pikir aku terlambat. Baiklah ayo kita masuk. "
****
L sudah menanti Tuan Kim di depan pintu, begitu mobil berhenti dan Tuan Kim keluar, ia langsung berjalan cepat menghampiri L lalu memeluk nya dengan sayang.
" Putri ku yang manis ayah pulang, ayah sangat merindukan mu. Bagaimana keadaan mu sayang? " Tanya Tuan Kim pada L.
Pak Im dan Jukyung bergegas membawa barang-barang Tuan Kim ke dalam rumah, Bora dan Jisoo berjalan di belakang Tuan Kim dan L. Tuan Kim nampak sangat senang bertemu dengan L sehingga langsung memeluk nya.
" Aku baik ayah. Bagaimana dengan ayah? " Ujar L
" Ayah juga baik, hanya saja ayah sangat merindukan mu. " Tuan Kim terus memeluk L sambil berjalan.
" Ayah sudah jangan hanya memeluk L terus, sebaiknya ayah membersihkan diri lalu kita makan malam bersama. Pak Im sudah menyiapkan makan malam istimewa untuk menyambut kepulangan ayah. " Sahut Bora dibelakang.
Wajah Tuan Kim nampak berbinar " Benarkah? Kalau begitu ayah akan mandi dan mengganti pakaian dulu kalian tunggu di ruang makan saja! " L, Bora, dan Jisoo mengangguk.
****
Tak butuh waktu lama mereka berempat sudah berkumpul dan mulai berdoa sebelum makan. Tuan Kim memandang Bora dan Jisoo nampak harmonis dan bahagia. Dirinya terharu karena walaupun telah membesarkan putri nya seorang diri setelah meninggal nya sang istri, Bora tumbuh dengan baik dan kini telah mendapatkan pasangan yang baik dan menyayanginya.
Lalu ia melihat L yang terlihat sangat lucu dan manis ketika makan, kedua pipi nya menggembung karena penuh dengan makanan. Ia sangat bahagia karena semenjak kehadiran L, suasana dirumah semakin ramai dan hangat. Meskipun ia selalu sedih jika mengingat apa yang terjadi pada putri angkat nya itu, ia selalu berusaha untuk tetap menyayangi nya selayaknya anak kandung nya sendiri.
Bahkan Tuan Kim selalu merasa jika L adalah sebuah keberuntungan yang datang ke dalam keluarga nya, ini seperti takdir jika L memang akan menjadi Putri nya meskipun bukan putri kandung. Ia berjanji akan menjaga dan membuat nya bahagia seperti putri pertama nya.
Tuan Kim terus tersenyum melihat L, ia tiba-tiba mengambil sapu tangan dan menyeka sudut bibir L yang kotor karena ada saus yang tertinggal.
" Pelan-pelan makan nya Yuna, wajah mu jadi kotor kalau kau makan dengan terburu-buru lagipula tidak ada yang akan mengambil makanan mu. " Ujar Tuan Kim dengan lembut.
L tersenyum memperlihatkan gigi putih nya lalu melanjutkan makan. Sedangkan Bora dan Jisoo hanya geleng-geleng kepala.
" Biarkan saja ayah, dia memang selalu seperti itu. Kadang aku malu jika membawanya makan diluar karena dia makan sangat banyak seperti tidak pernah diberi makan saja. " Ujar Bora
" Kakak memang tidak pernah memberi ku makan. " Sahut L.
Bora melotot ke arah L " Jangan bilang sembarangan! " Protes Bora.
" Memang kenyataan begitu. Kapan coba Kakak memasak untuk ku dan membawakan aku makanan? Tidak pernah kan. Yang memberi ku makan itu Pak Im dan Kak Jukyung. Kakak kan kerja nya hanya marah marah saja . " Jawab L santai.
" Kau!! " Wajah Bora memerah karena kesal.
Melihat hal itu L justru menjulurkan lidahnya dan mengecek Bora.
" Kakak boleh saja marah marah tapi tidak boleh dengan ku loh ya. " Ujar L penuh arti.
Seketika Bora terdiam dan merubah sikap nya jadi manis.
" Oh tentu saja aku tidak akan marah padamu adik ku sayang." Ujar Bora dengan wajah senyum dipaksakan.
Tuan Kim tersenyum melihat interaksi dua putri nya yang berbeda umur itu.
Makan malam berlanjut dengan menu makanan penutup. Tuan Kim menyuruh Pak Im mengambilkan sesuatu.
" Dae Soo tolong ambil paperbag hitam yang ditaruh dibagasi mobil! "Perintah Tuan Kim pada Pak Kim.
" Baik Tuan Besar. "
Tak lama kemudian Pak Im sudah membawa empat papegbag besar di ke kedua tangannya.
" Ini Tuan. " Meletakkan di dekat Tuan Kim.
" Ini oleh-oleh untuk kalian. Ayah membelikan jas, dasi serta jam tangan rancangan terbaru untuk menantu kesayangan ku, Jisoo. Untuk putri pertama ku ayah belikan gaun koleksi terbaru dadi chanel dan Gucci yang diproduksi limited edition dengan sepatu pasangannya. Sedangkan untuk putri ayah yang paling cantik dan manis ayah belikan tas dan gelang."
" Dan ini masih ada satu papegbag lagi untuk mu dan Putri Dae Soo. " Imbuh Tuan Kim seraya memberikan papegbag itu pada Pak Im.
Pak Im kaget sekaligus terharu " Terimakasih banyak Tuan Besar, seharusnya anda tidak perlu memberikan ini pada saya dan Jukyung. Saya merasa tidak pantas. " Ujar Pak Im.
" Kenapa kau bilang begitu? Kau adalah orang kepercayaan ku dan Jukyung sudah seperti keponakan ku jadi terserah pada ku untuk memberikan apa yang aku suka. Jika kau tidak suka kau bisa membuangnya. " Ujar Tuan Kim.
Jukyung buru-buru menenangkan ayahnya " Tidak Tuan Besar. Saya dan Ayah saya sungguh berterimakasih karena Tuan masih mengingat kami dan menganggap saya sebagai keluarga, saya dan Ayah saya sangat senang dengan apa yang Tuan berikan, sekali lagi terimakasih. " Sahut Jukyung.
Pak Im dengan terpaksa menerima.
Pak Im merasa tidak enak karena Tuan Kim memberikan sesuatu untuk nya dan juga anaknya.
Sebelum menjadi kepala pelayan di mansion itu, dulunya Pak Im hidup dibawah garis kemiskinan. Ia tinggal hanya bersama ibunya seorang sedangkan ayahnya telah meninggal karena kecelakaan saat Pak Im berumur 14 tahun.
Ibu Pak Im dulu harus bekerja keras untuk membesarkan Pak Im seorang diri dengan bekerja menjadi penjual makanan khas Korea yaitu tteokbokki di pasar. Seiring berjalannya waktu ketika Pak Im masuk SMA, ibu Pak Im sakit kanker namun dirinya tidak diberitahu. Ibu Pak Im tidak pernah menjalani perawatan demi terus bekerja supaya Pak Im bisa terus sekolah di sekolah elit di kota.
Hingga saat hari kelulusan tiba Ibu Pak Im ditemukan tak sadarkan diri dan dokter memberitahu PaK Im tentang penyakit Ibunya. Pak Im sangat sedih dan juga bingung, kanker yang diderita ibu sudah cukup parah dan dokter menyarankan agar Ibunya menjalani operasi.
Butuh biaya yang sangat besar dan Pak Im tidak punya uang. Karena kebingungan Pak Im nekat mencuri di sebuah rumah mewah dengan menyamar menjadi tukang kebun. Dan rumah yang menjadi sasaran adalah milik Tuan Kim. Sebelum berhasil membawa kabur hasil curiannya, Pak Im dengan mudah tertangkap karena dirumah itu sudah terpasang CCTV.
Pak Im dihajar oleh petugas keamanan hingga babak belur sambil memeluk tas berisi hasil curiannya. Tuan Kim yang saat itu baru menikah dengan ibu Bora menatap iba pada Pak Im, menyuruh anak buahnya untuk berhenti menghajar Pak Im.
Pak Im tidak langsung dibawa ke polisi, Tuan Kim menanyakan alasan Pak Im mencuri dan akhirnya ia menceritakan semuanya. Pak Kim dan istri nya merasa iba dan kasihan terhadap Pak Im, lagipula keadaan lah yang memaksa Pak Im untuk mencuri.
Setelah itu Tuan Kim membebaskan Pak Im dan bahkan menolong nya dengan memberikan uang untuk biaya operasi ibunya.
Pak Im menangis dan bersujud mengucapkan terimakasih, ia berkata jika dirinya berhutang budi pada Tuan Kim dan berjanji untuk mengganti uang yang diberikan oleh Tuan Kim walaupun dengan cara mencicil nya. Padahal Tuan Kim memberikan uang tersebut dengan ikhlas tapi Pak Im bersikeras untuk mengembalikan nya.
Karena hal itu Tuan Kim akhirnya menyuruh Pak Im untuk berkerja di mansion nya dan memotong gaji nya setiap bulan untuk mencicil uang yang diberikan oleh Tuan Kim. Tuan Kim juga tidak tega jika membiarkan Pak Im bekerja diluar karena bisa dipastikan dengan hanya lulusan SMA, pekerjaan yang diperoleh pastilah hanya seorang pelayan, sedangkan setelah operasi ibu Pak Im masih membutuhkan perawatan yang tidak sedikit.
Pak Im menyetujui hal itu, setelah kejadian itu Pak Im bergegas ke rumah sakit untuk menunggu ibunya yang akan langsung di operasi. Semua berjalan lancar dan ibunya berlangsung pulih, setelah dirasa kondisi ibunya membaik Pak Im langsung kembali Ke mansion dan mulai bekerja disana.
Pak Im bertekad untuk mengabdi kan hidup nya pada keluarga Tuan Kim. Tahun demi tahun berlalu, Pak Im bekerja dengan baik dan Tuan Kim bahkan menyekolahkan Pak Im sampai ke Perguruan tinggi, setelah lulus Tuan Kim membebaskan Pak Im dari semua hutang nya namun Pak Im justru memilih tetap di mansion hingga ia menikah dengan ibu Jukyung yang juga merupakan pelayan mansion tersebut. Hingga akhirnya Tuan Kim mengangkat Pak Im menjadi Kepala Pelayan di mansion nya.
" Sekali lagi terimakasih Tuan Besar. " Ujar Pak Im pada Tuan Kim.
Tuan Kim tersenyum pada Pak Im " pergilah beristirahat dan bukalah oleh oleh dari, semoga kalian menyukai nya. " Ujar Tuan Kim.
Pak Im dan Jukyung mengangguk memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Tuan Kim dan lainnya.
Jisoo dan Bora tersenyum melihat oleh-oleh yang diberikan oleh Tuan Kim, begitu juga dengan L.
Mereka lalu berpindah menuju ruang tengah dan bersantai sejenak.
" Bagaimana kuliah mu Yuna? " Tanya Tuan Kim
" Lancar ayah. " Jawab L
" Lalu bagaimana dengan kalian berdua? " Tanya Tuan Kim pada Bora dan Jisoo.
" Tentu saja lancar ayah, bukankah ayah sudah melihat laporan penjualan tahap awal untuk koleksi musim panas ini? Ini semua berkat Yuna. Jika Yuna tidak membantu ku mungkin aku akan menyusul ayah ke Perancis kala itu. " Sahut Bora.
Tuan Kim tersenyum bangga pada Yuna.
" Pekerjaan ku juga lancar ayah, beberapa kali aku pergi ke luar kota untuk mengisi seminar dan undangan dari beberapa universitas lain. " Imbuh Jisoo.
Tuan Kim mengangguk.
" Ayah boleh kah aku minta uang. " Celetuk L tiba-tiba.
Semua orang kaget dan langsung terdiam saat L tiba-tiba meminta uang, selama ini mereka begitu memanjakan L dengan semua fasilitas dan memberikan kartu untuk L namun jarang dipakai.
Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba L meminta uang tentu membuat Jisoo, Boraa, dan Tuan Kim heran.
" Apa kartu yang ayah berikan kurang Yuna? Apa kau mau meminta kartu yang lain? " Tuan Kim memberikan black card nya.
L menggeleng " Bukan itu ayah, aku mau berbisnis dan perlu uang yang banyak, jadi aku uang! " Ucap L.
" Bisnis apa? Apa uang yang ayah berikan kurang Yuna? Kau bisa minta kakak mu, dia juga punya banyak uang, minta bayaran padanya karena telah kau telah membantu nya. " Ujar Tuan Kim yang langsung mendapat tatapan tajam oleh Bora.
" Kalau Yuna minta bayaran harusnya jangan hanya padaku saja, minta bayaran pada ayah juga! "
" Kenapa jadi minta pada Ayah? "
" Semua lukisan di ruang lukis Yuna kan diambil Ayah dan dibawa waktu Ayah berangkat ke Perancis, jangan pikir Aku tidak tahu kalau Ayah menjual dan melelang nya bersama teman teman Ayah itu. " Sindir Bora, Tuan Kim langsung terdiam lalu tersenyum pada Yuna.
"Dasar tidak modal! " Imbuh Bora
"Begini saja. Aku minta bayaran dari lukisan yang Ayah ambil dan juga bayaran karena telah menjadi desainer dadakan untuk Bora. Jadi kalian Ayah dan Bora harus membayar ku sekarang! " Ujar L sambil menengadah kan tangannya.
Mata Tuan Kim dan Bora membulat " Memangnya kau mau minta uang berapa sampai sampai memeras ku dan Ayah? " Tanya Bora.
" Banyak! Soalnya aku mau jadi investor di perusahaan nya Bibi Han, kemarin aku diajak melihat evaluasi untuk calon idol yang akan mereka debutkan. Namun sayangnya ada satu orang yang harus dicoret dan gagal debut, aku melihat jika kakak itu sangat berbakat dan punya suara bagus jadi aku mau jadi investor nya dan mendebutkan nya menjadi penyanyi solo. " Ujar L dengan riang.
Bora yang sedang minum tiba-tiba tersedak, Jisoo buru-buru mengambil tissue dan mengelap sisa air yang ada diwajahnya karena Bora menyemburkan air tersebut kearah nya.
" Kau serius?! " Tanya Bora dan L mengangguk.
" Pokoknya aku sekarang minta bayaran pada Ayah dan juga kakak. Nanti setelah Bibi Han menyebutkan nominal yang diperlukan untuk calon artis ku, kalian harus segera memberikan uang itu padaku! " Ujar L dengan santai nya.
Tuan Kim dan Bora tentu tidak bisa bilang tidak, dan Jisoo hanya tertawa melihat ekpresi istri dan Ayah mertuanya yang sedang di palak oleh adik ipar nya itu.