
Kelas terakhir akhirnya selesai, L bergegas pergi menuju ke perusahaan karena Bora terus saja meneror nya agar jangan sampai lupa untuk kesana.
" Kau sudah pulang? "
" Jam berapa kelasmu berakhir? "
" Jangan lupa ke kantor ku! "
" Makan siang bersama ku dan suamiku ingat! "
" Kau tidak pergi bermain kan? "
" Jangan mampir kemanapun harus langsung ke kantor ku! "
" Kalau kau sudah menawarkan bantuan jadi harus bertanggungjawab membantu hingga akhir. "
Begitulah isi pesan dari Bora, L menghela nafas saat membuka kotak pesan dan juga riwayat panggilan dari Bora.
Drrrrt drrrrt drrrrt
Ponselnya kembali bergetar
" Iya aku baru saja keluar dari kelas, aku akan langsung ke kantor mu jadi jangan menerorku terus!" Ucap L dengan nada sedikit kesal.
" Hei kenapa kau memarahi ku? Lagipula aku juga tidak pernah meneror mu. " L melotot saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ternyata yang menelpon adalah Daniel.
" Hahahaha maafkan aku Kak Daniel kupikir yang menelpon adalah kakak ku. Maaf ya aku tidak bermaksud memarahi mu. " Ujar L
" Hem aku maafkan. Tapi ada apa? Sepertinya kau sedang kesal. "
" Iya beberapa hari ini aku sedang membantu kakak ku di kantor, jadi setelah pulang dari kuliah aku langsung kesana. Hari ini dia membombardir ponselku dengan panggilan dan pesan agar aku tidak lupa datang ke kantor padahal dia sudah tahu kebiasaan ku kalau sedang kuliah ponselku ku matikan. " Jelas L
" Hahahaha sabar ya. "
" Lalu kenapa tiba-tiba Kak Daniel menelpon ku? "
" Ah iya aku hampir saja lupa, bulan depan di Milan akan ada pameran dan itu dari galeri seni milik perusahaan ku. Aku ingin kau membuat sebuah lukisan dan nanti aku akan memajang nya dalam pameran tersebut. Bagaimana? Kau bisa? "
L tidak bisa berkata kata " Benarkah? "
" Tentu saja. Kau pikir tampang ku ini tampang penipu. kalaupun iya maka aku adalah penipu paling tampan sedunia. "
L mendengus mendengar ucapan Daniel " Narsis. " Jawab nya singkat.
" Memang itu kenyataan nya.Kembali lagi ke topik, jadi aku membutuhkan karya baru milikmu untuk dipamerkan disana pada bulan depan. Ini juga sebagai ajang promosi untuk memperkenalkan Seniman muda seperti mu di Eropa. Bukan ini kesempatan yang bagus. "
" Iya Kak aku mau. Aku akan berusaha membuatnya. " Jawab L semangat
" Aku beri kau waktu dua minggu untuk menyelesaikan lukisan nya. " Ujar Daniel
" Baik aku akan berusaha. "
" Kalau begitu sudah ya, aku harus mematikan telpon mu karena sebentar lagi aku ada rapat. Dan satu lagi jangan lupa akhir pekan kita ada janji temu di taman. "
" Iya iya aku ingat." Telpon dimatikan dan ia berjalan menuju ke kantor Jisoo.
Kenapa semua orang selalu saja mengingat ku jika aku berjanji pada mereka? Aku kan masih muda dan ingatan ku masih bagus jadi tidak mungkin lupa. Gumam L sepanjang jalan menuju kantor Jisoo.
Mobil sudah berjalan menuju perusahaan dan butuh waktu lama mereka telah sampai.
Ketika baru memasuki Lobby L meminta kunci mobil pada Jisoo karena ponselnya tidak ada di tas nya, ia pikir tertinggal di mobil.
" Kak Jisoo aku pinjam kunci mobil nya. "
" Ada apa? "
" Ponselku sepertinya tertinggal di dalam mobil karena tidak ada di tas ku. "
" Ini kuncinya. Apa perlu aku temani? " Tanya Jisoo
" Tidak usah Kak, kakak langsung ke ruangan Bora saja. "
" Baiklah aku duluan ya. "
L berbalik kembali menuju parkiran di basement. Ia sekali lagi mencari ponselnya di tas sambil berjalan sampai sampai menabrak seseorang.
" Auuu. "
L kaget dan mendongak " Kak Chacha. "
Chacha sedikit terkejut melihat L ada diperusahaan yang sama dengan dirinya. " Oh hai, maaf ya aku sudah menabrak mu. " Chacha agak cemas takut L menagih uang yang sempat ia pinjam dari nya.
"Tidak. Harusnya aku yang meminta maaf karena aku tidak memperhatikan jalan sehingga menabrak kakak. Ngomong ngomong kakak sedang apa disini? " Tanya L
" Aku sedang magang disini, kau sendiri? "
" Aku hendak menemui kakak ku yang bekerja disini juga. "
" Oh iya, siapa nama kakak mu siapa tahu aku mengenalnya. "
" Nama Kakak ku Kim.... " Ucapan L terhenti kala Chacha dipanggil oleh seseorang.
" Chacha. " Vivian memanggil Chacha untuk segera masuk
" Aduh maaf ya Yuna aku harus segera masuk atasan ku sudah memanggil ku. " Ujar Chacha mencari alasan agar cepat pergi dari hadapan L.
" Iya tidak apa apa Kak, silahkan lanjutkan kembali, sampai juga lagi." L melambaikan tangan.
Chacha sendiri tentu saja tidak ada niatan untuk mengembalikan uang itu meski sekarang ia punya uang untuk melunasi.
Pada kenyataannya L sendiri tak akan mengingat hal itu apalagi menagih nya.
Benar sesuai dugaan bahwa ponsel milik L tertinggal di mobil, ia segera mengambil ponsel nya dan ke tempat Bora.
" Kakak. "
" Kau sudah menemukan nya? " Tanya Jisoo
" Iya ponsel ku ada di mobil ,pasti terjatuh kebawah kursi karena aku lupa menutup tas ku untung saja tidak rusak. " Jawab L
" Ya sudah sekarang duduk dan makan aku sudah memesan makan siang untuk kita. "
Sambil menyantap makan siang Bora juga sekalian membahas masalah pekerjaan dan sesekali meminta pendapat L.Meskipun tidak mengerti dunia fashion L tetap memberi pendapat yang logis dan masuk akal, dia menempatkan dirinya sebagai seorang seniman. L berpikir jika seorang desainer juga sama seperti dirinya yang seorang seniman. Sama sama menciptakan sebuah karya, jadi ketika Bora meminta pendapat nya L langsung bisa menjawab.
" Bagaimana menurut mu? Apa rancangan ini bagus dan layak untuk acara fashion show nanti? "
L mencapit makanan nya dan berpikir sejenak sambil membayangkan sesuatu.
" Rancangan itu bagus tapi menurut ku warna nya kurang cocok, bagaimana jika diubah ke warna pastel atau pink coral, maksud ku warna warna soft. "
Bora meresapi jawaban L ia tersenyum " kau benar kenapa tidak terpikir oleh ya. Lalu kalau yang ini? " Memperlihatkan rancangan yang lain
" Kebalikan dari yang tadi, rancangan ini menurut ku lebih cocok memakai warna terang , merah atau gold. Warna tersebut akan membuat rancangan tersebut semakin memancarkan aura glamor dan berani. "
" Iya setuju, terimakasih adik akhirnya pekerjaan ku selesai tinggal menyelesaikan proses produksi dan persiapkan untuk acara fashion show. "
Setelah makan siang dan membahas masalah pekerjaan L minta pulang terlebih dahulu, ia ingin segera mulai membuat lukisan yang baru untuk pameran di Milan.
" Kau mau pulang sekarang? " Tanya Jisoo
" Iya."
" Kenapa tidak menunggu ku biasanya kau betah disini dan menunggu ku sampai pulang. " Ujar Bora
" Aku ada tugas dari Kak Daniel untuk membuat lukisan, bulan depan dia bilang galeri milik nya akan mengadakan pameran di Milan dan ia ingin memajang karya milik ku, jadi aku harus mulai bekerja karena waktu yang diberikan hanya dua minggu."
" Dirumah kan kau punya banyak lukisan tinggal pilih salah satunya saja. "
" Habis. "
Jisoo dan Bora kebingungan dengan jawaban L
" Habis? Memangnya ada yang memakannya? "
" Tidak. "
" Lalu? "
" Semua lukisan ku dibeli ayah. "
" Hah! " Kedua terkejut bersamaan
" Bukannya ayah jarang masuk ke kamarmu apalagi melihat lukisan mu, paling hanya saat pesta pembukaan Museum Baru kan? " Ujar Bora
" Iya memang, tapi sepulang dari pesta itu ayah tiba-tiba memberikan sebuah kredit card dan bilang kalau ayah membeli semua lukisan milik ku yang ada dirumah. "
" Kenapa bisa begitu? "
" Kata ayah dia kesal karena tidak bisa memenangkan lukisan itu dalam acara lelang,yang menang kan Kak Daniel. Kak Jaehyun, shin, dan D.O juga terlibat kesal karena tidak bisa mendapatkan lukisan ku. Padahal jika mereka meminta nya dari awal mungkin aku tidak akan menyerah kan lukisan itu pada Kak Daniel dan memberikannya pada mereka. " Jawab L santai
Jisoo dan Bora hanya bisa saling pandang.
" Sepertinya ada udang dibalik sayur sayang. " Ucap Jisoo tiba-tiba.
Bora mengerutkan dahinya karena bingung dengan ucapan suaminya itu.
" Maksudnya apa? "
" Iya beberapa waktu lalu saat ayah pulang dari luar negeri ada Tuan Steven dan Nyonya shu datang mencari cari ayah kerumah. "
" Tuan Steven dan Nyonya Shu? Tumben sekali mereka datang kerumah kita memangnya ada apa? "
" Aku tak sengaja bertemu mereka saat aku baru saja pulang, aku menyapa mereka dan menanyakan maksud kedatangan mereka. Dan mereka menjawab sedang mencari ayah karena kata mereka ayah punya koleksi barang baru yang bagus dan mereka sangat penasaran barang baru milik ayah. Karena mereka berdua termasuk ayah sangat suka mengoleksi barang-barang antik dan juga lukisan kupikir ayah punya sesuatu yang baru. Dan setelah aku mendengar ucapan Yuna aku yakin bahwa barang yang dimaksud Tuan Steven dan Nyonya Shu adalah lukian Yuna, aku jamin ayah pasti menjualnya pada mereka." Jelas Jisoo membuat Bora dan L tertegun
" Kau harus minta uang yang banyak pada Ayah Yuna. " Bora memprovokasi.
" Tapi aku sudah diberi kartu kredit oleh ayah. "
" Kau tidak tahu kalau Tuan Steven dan Nyonya Shu itu ada kolektor seni yang sangat kaya, lebih kaya dari ayah. Jika ayah bisa menjual lukisan mu pada mereka pasti ayah mendapatkan untung yang sangat besar. "
" Begitu kah? " L nampak bingung
" Ish kau ini, harusnya kau minta Black card pada ayah. " Imbuh Bora semakin memprovokasi
L memandang Jisoo " Iya harusnya kau minta black card pada ayah. " Ikut membenarkan ucapan Bora.
" Baiklah nanti malam aku mau minta pada ayah. "
" Sip. Jangan lupa setelah itu kau harus mentraktir kami di restoran mahal. "
" Iya aku mengerti. " Sebenarnya L tidak begitu mempermasalahkan hal itu, iya hanya bingung dengan reaksi kedua kakaknya itu jadi L hanya menurut saja.
Setelah L pergi Bora dan Jisoo tersenyum mereka sudah membayangkan makan malam di restoran mewah dan mahal secara gratis. Meskipun mereka orang kaya, tetap saja yang namanya gratis pasti tidak akan ada yang menolak.