
Dikantor Bora melihat ada beberapa pesan yang belum ia baca, selagi menunggu asisten nya mengambil berkas Bora mengecek pesan pesan tersebut, termasuk pesan dari Hari.
Bora kaget setelah membaca pesan dari Hari yang bilang bahwa dia akan ke Korea untuk kuliah dan menemui L. Bora terlihat gugup, ia bingung harus bagaimana. Sejujurnya Bora masih sangat khawatir tentang kesehatan L yang beberapa waktu mengalami penurunan, ia sudah berjuang agar L bisa kembali ceria dan tidak seperti setelah operasi kala itu. Bora takut jika L bertemu kembali dengan Hari, ingatan yang membuat L sakit dan menderita mempengaruhi nya. Tapi disisi lain rasa penasaran Bora juga besar, jika L bertemu Hari dan bisa mengingat kejadian itu, mungkin Bora bisa mengetahui penyebab L hampir kehilangan nyawanya. Bora juga tidak bisa egois dengan melarang Hari menemui adiknya.
Bora termenung sampai tak mendengar asisten nya memanggilnya.
" Direktur. "
" Oh iya, ada apa? "
" Ini berkas yang Anda minta."
" Iya letakkan saja disana. Apa jadwal ku setelah makan siang nanti? "
" Ada rapat untuk membahas rancangan desain yang akan digunakan untuk acara fashion show dan mengecek persiapan produksinya. "
" Jam berapa rapatnya? "
" Jam dua siang Direktur. "
"Baiklah aku akan keluar saat jam makan siang dan pergi karena ada urusan, aku akan kembali sebelum rapat. Persiapan dengan baik. " Asisten Bora mengangguk mengerti.
****
Di sebuah cafe dekat dengan kampus, Bora dan Jisoo sedang menikmati waktu makan siang bersama.
" Kenapa tidak menelpon ku? " Ucap Jisoo pada istri nya.
" Tidak apa apa, lagi pula letak cafe nya kan lebih dekat dengan kampus masa aku menyuruh mu menjemput ku dan kembali kemari, buang buang waktu saja. "
" Tidak masalah bagiku jika demi dirimu. " Ujar Jisoo sambil menggenggam tangan Bora
" Jangan gombal. "
" Memangnya kenapa, gombal dengan istri sendiri kan wajar. "
" Iya baik baik terserah kau saja sayang. " Bora tersenyum membalas Jisoo
" Sayang. " Ujar Bora
Jisoo melihat ada sesuatu yang aneh dengan istrinya " Ada apa sayang. "
" Aku bingung. " Menundukkan wajahnya dan menyandarkan kepalanya ke tubuh Jisoo.
" Bingung kenapa? Ceritakan padaku. Apa masalah dikantor?"
" Tidak, ini mengenai Yuna. "
" Ada apa dengan Yuna? Apa dia sakit atau ada yang mengganggu nya? "
" Bukan seperti itu, tadi pagi aku mengecek ponselku dan mendapatkan pesan dari Hari. Dia hilang, dia sedang dalam perjalanan ke Korea hendak menemui Yuna dan kuliah disini. "
" Bukankah itu bagus, Yuna pasti senang melihatnya. Lalu apa yang membuat mu bingung? "
" Aku takut Yuna akan kembali teringat dengan kejadian yang menimpa nya jika bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dari Indonesia. Tapi aku juga tak bisa melarang Hari untuk menemui nya. Ini juga kesempatan yang bagus jika ingatan Yuna kembali kita bisa bertanya kejadian apa yang menimpa nya saat sebelum dia pingsan di halaman belakang. "
Jisoo memeluk Bora dari samping untuk menenangkannya " Kita tidak bisa melarang Hari untuk bertemu dengan Yuna, lagipula Yuna pasti akan sedih jika dia tahu kalau kau melarang Hari bertemu dengan nya. Sebaiknya biarkan mereka bertemu, jika memang takdir Yuna mengingat kejadian itu, dia pasti akan mengingat nya meski tidak bertemu dengan orang-orang yang dikenalnya dari Indonesia. Jangan khawatir, kita hanya perlu menjaga dan membuat nya bahagia. Karena itulah tugas kita bukan sebagai kakak dan keluarga nya sekarang. "
Kata-kata Jisoo sungguh membuat Bora tenang, ia pun memutuskan untuk mempertemukan Hari dan Yuna nanti.
" Iya tenang saja. "
" Ini sudah jam set. dua aku harus kembali ke kantor. Ada rapat. " Bora mengambil tas kecilnya dan memeluk suaminya sebelum pergi." Sayang aku pergi dulu ya. "
" Hati-hati. "
****
Setelah kejadian makan malam itu, pagi nya L mengalami demam dan kepalanya pusing. Untung nya tidak ada kelas selama dua hari jadi dia bisa beristirahat.
Seharian dia terbaring di tempat tidur setelah meminum obatnya. Menjelang makan siang Jukyung membangunkan L untuk makan siang dan minum obat, kemudian dia kembali tidur. Rasanya seharian itu L hanya berada di atas tempat tidur nya, tertidur bagaikan snow white.
" Bagaimana keadaan Nona muda? " Tanya Pak Im pada Jukyung.
" Seharian ini Nona hanya tidur ayah, tadi siang aku sudah membangun kan nya untuk makan dan minum obat, setelah selesai ia kembali tertidur. "
" Ya sudah biarkan dia istirahat. " Jukyung mengangguk mengerti.
*****
Malam hari rombongan mahasiswa dari Indonesia tiba di bandara internasional Incheon, Arya nampak sangat antusias, dia sesekali berselfie dengan rekan rekan yang lain dan Hari.
" Kau itu orang kaya tapi sangat kampungan. " Ujar Hari pada Arya yang sedari tadi sibuk berselfie.
" Biarkan saja, lagipula aku harus mengiri sosial media agar fans fans mu semakin bertambah dan aku bisa mendapatkan banyak uang. " Sahut Arya
" Kau yang berfoto kenapa jadi aku? "
" Kau diam saja, meskipun aku terlihat sedang berselfie, model utama ku itu adalah kau, aku sudah memotret mu dari berbagai sudut jadi tak usah khawatir. "
Hari menghela nafas, ia berdiri tengah menunggu kopernya. Ada seorang wanita disamping nya yang terus memperhatikan.
" Hallo permisi, boleh kenalan? " Ucap wanita itu
" Iya. "
" Perkenalkan namaku Carolina Galuh, aku dari Jakarta, panggil saja aku Carol. Siapa namamu? "
" Aku Hari. " Jawab singkat
Carol tersenyum mendengar jawaban singkat dari Hari.
" Salam kenal ya Hari, ngomong ngomong kamu dari Universitas mana dan apa jurusan mu? "
" Kedokteran. "
" Wah keren sekali, kau pasti sangat pintar ya, kalu aku jurusan bisnis. "
Hari hanya mengangguk , setelah mendapatkan kopernya dia berlalu pergi tanpa menoleh ke Carol.
" Ya ampun dia sangat tampan tapi juga dingin, bagaimana bisa dia mengabaikan mu Carol. " Jawab Ana teman Carol satu universitas dan satu jurusan.
" Tidak apa-apa justru itu daya tarik nya, Orang-orang seperti Hari itu biasa tipe pria yang setia dan romantis. Aku harus bisa dekat dengan nya, dan menjadikannya pacarku. " Ujar Carol
" Kau pasti bisa Carol, dia memang sangat tampan."
Sebuah mini bus telah siap membawa rombongan mahasiswa dari Indonesia ke asrama mereka. Pemandangan malam kota Seoul memanjakan mata mereka, indah dan cantik seperti yangs sering mereka lihat di drama atau televisi.