
Hampir satu jam lamanya L berada didalam ruangan tersebut, sambil sesekali menanyakan kondisi sepupunya.
Pintu tiba-tiba terbuka, dokter dan perawat masuk mengecek kondisi sepupunya.
" Bagaimana kondisi anak saya dok? tanya paman Andrea pada dokter
" Kondisinya mulai stabil untuk bisa menjalani operasi, jika bapak sudah menandatangani berkas dan masalah administrasi terkait operasinya, malam nanti Yoga bisa langsung dioperasi. Karena kebetulan ada pendonor yang cocok dengan anak bapak . " kata sang dokter
Paman Andrea dan L senang mendengar kabar itu " Benarkah? terimakasih dokter, saya akan segera menandatangani semua berkas dan administrasi terkait operasi anak saya. "
Perawat menatap sang dokter seakan ada sesuatu yang hendak disampaikan
" Ada apa suster?" kata sang dokter
"Maaf dokter, pasien bernama Yoga harus menunda operasi karena stok darah di rumah tinggal sedikit, tadi di IGD tiba-tiba mendapatkan beberapa pasien korban kecelakaan dan mengharuskan melakukan operasi mendadak, dan membutuhkan transfusi darah, sehingga stok dirumah sakit tinggal sedikit. Tadi saya baru saja menerima informasi ini. " kata perawat menjelaskan, itu membuat wajah paman Andrea cemas
" Bukankah rumah sakit bisa meminta stok ke Bank darah dan ke instansi terkait? " tanya dokter
" Sekali lagi maaf dokter, golongan darah pasien ini tergolong langka jadi stok nya tidak banyak. "
" Dokter saya ayahnya, golongan darah saya sama bisakah saya mendonorkan darah saya agar operasi anak saya tetap sesuai jadwal? " Ucap Paman Andrea
" Baiklah kalo begitu bapak bisa ikuti perawat saya, anda harus menjalani test terlebih dahulu. "
Dokter itu pun pergi meninggalkan ruangan, sementara perawat itu masih didalam dan mengecek sekali lagi alat-alat medis yang terpasang ditubuh Yoga
"Paman syukurlah Mas Yoga bisa segera dioperasi, Elis mendoakan kesembuhan untuknya, dan sekalian Elis mau pamit pulang. "
" Terimakasih banyak Nak, maaf paman tidak bisa mengantarkan pulang, kau bisa memesan sendiri sopir yang mengantarkan mu pulang kan? "
" Iya paman, paman disini saja menjaga Mas Yoga, Elis bisa memesan nya sendiri kok. "
Setelah pamit, L berjalan keluar dari ruangan itu. Ia duduk di lobby rumah sakit sambil melihat pesan Bora dan kak Jisoo yang telah sampai dihotel dan tengah beristirahat. Bora juga mengirimkan foto foto yang lain yang tampak sedang tertidur dengan lelapnya. L tersenyum saat melihat foto foto itu.
L lalu teringat sesuatu, ia masih khawatir dengan pamannya, ia ingin memastikan sesuatu dan berjalan menuju ke pusat administrasi.
" Permisi pak, saya mau tanya? biaya operasi dan perawatan pasien bernama Yoga Priyahita berapa? "
Petugas administrasi pun mengecek nya " Total administrasi mencapai 875 juta, tapi sudah dibayar sejumlah 790 juta. "
" Berarti masih kurang 85 juta ya pak? "
" Saya mau membayar kekurangan nya, dan sekaligus membayar biaya untuk perawatan selama sebulan ke depan. " Kata L sambil menyerah kan kartu ATM nya yang tersisa.
Petugas administrasi tersebut menatap L dengan sedikit tidak percaya, tapi begitu melihat wajah cantiknya, petugas itu mengira kalo L itu orang kaya jadi ia langsung menerima ATM tersebut " Jika ingin membayar sampai satu bulan kedepan, biayanya bisa mencapai 150 juta mbak." kata petugas itu memastikan
" Iya tidak masalah. " dan tak lama, L sudah menerima sebuah kertas sebagai bukti pembayaran telah lunas, L pun tersenyum setelah mendapat kertas itu pada petugas administrasi.
Uang yang selama ini dikirim Bora sudah habis, sementara uang tabungan pribadinya juga tinggal sedikit. L tidak begitu memikirkan nya, meskipun sedikit cemas karena memakai uang dari Bora tanpa memberitahu nya terlebih dahulu, namun L akan memikirkan nya nanti, yang terpenting adalah membantu sepupu dan pamannya.
Dijalan dari kejauhan L kembali melihat paman Andrea yang baru keluar dari sebuah ruangan dengan wajah lesu, ia menyembunyikan kertas tersebut dan menghampiri pamannya kembali.
" Paman kenapa wajah paman begitu? "
" Kau masih disini? "
" Karena sedang dirumah sakit jadi Elis sekalian memeriksakan kesehatan. "
" Apa kau sakit nak? "
" Tidak paman, semuanya baik, Elis hanya diberi resep untuk membeli beberapa vitamin agar selalu sehat, ini mau ke apotek. " Kata L berbohong " Lalu kenapa setelah keluar dari ruangan itu wajah lesu. "
Sempat ragu namun akhirnya bercerita " Kata suster paman tidak bisa mendonorkan darah karena Hb Paman rendah. "
" Lalu bagaimana dengan operasi Mas Yoga, bukankah stok dirumah sakit kata perawat tinggal sedikit? " terlihat cemas
" Pihak rumah sakit akan berusaha mencarikan nya, namun jika sampai nanti siang belum ada maka operasi nya terpaksa diundur. " jawab paman Andrea dengan sedih
" Kalo begitu biar Elis saja yang mendonorkan darah, golongan darah Elis kan juga sama dengan Mas Yoga dan paman." Hendak masuk ke ruangan tapi dicegah oleh pamannya
" Berhenti, bagaimana bisa mau mendonorkan darah mu, tubuh begitu kurus dan kau kan belum cukup umur, jika kau masuk kedalam, para perawat yang melihatmu pasti mengira kalau kau yang butuh transfusi bukannya mendonorkan darah. "
" Paman jangan melihat ku seperti itu, kan lebih baik dicoba dulu, lagipula aku sangat sehat dan jadi bisa saja untuk mendonorkan darah. "
L masuk kedalam ruangan, ia minta perawat untuk mengambil darahnya, awalnya perawat menolak karena harus menunjukkan KTP dan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. L bisa melewati pemeriksaan dengan mudah karena tubuhnya tinggi tidak terlihat seperti anak dibawah umur, hanya saja ia belum punya KTP jadi ia tidak bisa.
L tidak hilang akal, memanfaatkan situasi yang lumayan ramai, kemanapun ia pergi , ia selalu memakai masker dan topi agar tidak menjadi pusat perhatian, tapi kali ini ia harus memanfaatkan hal itu agar bisa menolong pamannya, ia mendekati perawat berjenis laki-laki tersebut dan membuka maskernya
" Pak saya lupa membawa KTP dan sepupu saya sedang dalam kondisi sangat membutuh darah, golongan darah nya juga termasuk langka jadi saya mohon ijinkan saya mendonorkan darah untuk nya." L dengan wajah memelas dan tampak sangat cantik memohon pada perawat itu, membuat perawat itu tertegun, seakan sedang melihat seorang dewi tanpa sadar ia mengiyakan dan segera memasukkan jarum kedalam tangan L, L yang sudah terbaring tersenyum manis pada perawat itu, dan langsung membuat wajah nya memerah dan salah tingkah.