
Obrolan Chacha dengan seseorang dari balik telponnya terus berlanjut, L mulai kesal dan sudah tidak berselera untuk melanjutkan makannya. Tak ada niat untuk menghampiri Chacha untuk melabrak atau menagih uang yang dipinjam nya. Ia hanya menatap punggung Chacha depan pandangan yang sulit diartikan, pandangan yang sangat berbeda dan tidak pernah ia perlihatkan pada orang lain.
Seorang pelayan tiba-tiba menghampiri mejanya, pelayan laki laki yang sedari tadi menatapnya dari jauh dan terkesima depan kecantikan L , karena masker dan topi yang ia kenakan dilepas saat makan. Pelayan tersebut mengantarkan pesanan L sambil tersenyum untuk menarik perhatian L.
"Permisi Nona ini pesanan anda. " Ujar pelayan tersebut.
L mengarahkan pandangan pada pelayan tersenyum, raut wajahnya sudah kembali seperti semula yang selalu tersenyum ramah.
" Terimakasih. " L mengulurkan tangannya untuk menerima pesanan miliknya.
Pelayan tersebut terlihat sangat gugup saat L membalas ucapan nya depan tersenyum.
Setelah mendapatkan pesanan miliknya L beranjak dari tempat duduknya dan kembali ke ruang kerja kakaknya.
Untung saja L turun ke bawah dan membelikan makanan untuk mereka jika tidak, mungkin semua orang dalam ruangan tersebut akan terus bekerja tanpa jeda. Terbukti saat mereka makan pun mata mereka fokus ke manequin dan rancangan pakaian yang harus mereka perbaiki.
Usai makan tangan mereka kembali bekerja, Bora begitu serius hingga mengabaikan semuanya termasuk ponsel yang terus bergetar. L mengambil dan melihat ada beberapa pesan dan misscall dari Kak Jisoo. L langsung membalas pesan itu agar kakaknya tidak khawatir, karena jika bukan dia, tidak mungkin Bora akan melirik ponsel nya dan membalas pesan dari Jisoo.
Waktu terus berlalu, setelah makan malam yang kembali dipesan oleh L habis. Keadaan masih terlihat sama, mungkin yang berbeda adalah penampilan Bora dan bawahan yang mulai terlihat lelah dan kusut.
L yang sedari tadi menemani Bora hanya dengan duduk dan menggambar sketsa di kertas kosong juga mulai lelah dan ingin pulang untuk istirahat, kertas yang ia gunakan untuk membuat gambar sketsa juga sudah terlihat menumpuk pertanda waktu yang ia habiskan cukup lama.
Bora melihat anak buahnya mulai kelelahan, dirinya pun sama. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti dan melanjutkan nya besok.
" Berhenti semua! Hari ini cukup, kita semua lelah dan butuh istirahat agar bisa kembali fokus,sekarang beresin barang kalian dan pulanglah! " Ujar Bora pada bawahan nya.
Semua nampak ragu, mereka mengerti waktu yang mereka miliki sangat terbatas, tapi mereka juga tidak memungkiri bahwa mereka sungguh kelelahan dan butuh istirahat.
" Tapi ketua waktu yang kita miliki tidak banyak dan masih banyak rancangan yang belum kita perbaiki, kami akan kerja lembur dan menyelesaikan beberapa rancangan lagi. " Sahut salah seorang bawah nya.
Bora sedikit tersentuh dengan bawah nya itu, tapi ia tidak mau anak buahnya kelelahan yang membuat mereka malah jadi tidak fokus dalam bekerja, bukankah itu hanya akan membuang tenaga yang sia sia?
" Tidak! Aku ingin kalian cepat bereskan tas dan segera pulang! Kalian butuh istirahat karena sejak pagi hingga sekarang kalian tidak berhenti untuk bekerja, jika kalian memaksa untuk melanjutkan pekerjaan kalian , aku justru akan memarahi kalian. Ketika kalian lelah , pekerjaan kalian juga tidak akan fokus dan maksimal. Jangan menyia-nyiakan tenaga jika kalian bekerja dengan setengah fokus. Pulang dan besok datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Kalian mengerti! "
" Kami mengerti. " Jawab mereka serentak.
Tersisa Bora, asisten nya dan L. Bora kini sedang duduk bersandar dikursi sambil menaruh lengannya untuk menutupi wajah nya yang letih sedangkan Asisten Bora sedang keluar untuk membeli kopi.
L berjalan melihat manequin yang tersusun rapi, melihat lihat rancangan yang sudah selesai diperbaiki dan yang masih rusak. Ia menatap lekat didepan manequin hingga menarik perhatian Bora. Bora beranjak dan mendekati nya.
" Ada apa? "
L menoleh karena suara Bora " Kakak kenapa kemari, lebih baik kakak istirahat saja! " Ucap L
Bora tak bergeming ia tetap berada disamping L.
"' Apa menurut mu aku bisa menyelesaikan semuanya tepat waktu? Lihah pakaian rombeng ini, bagaimana bisa pakaian pakaian ini akan ku pamerkan dalam acara fashion show nanti. " Wajah Bora semakin lesu.
" ya menurut ku ini memang seperti kain rombeng. " Jawaban L yang spontan itu membuat Bora menatap tak percaya pada adiknya, biasanya dalam keadaan seperti ini bukankah harusnya dia memberikan kata kata penyemangat?
" Yuna! " Dilihat dari raut wajah nya Bora sedang tidak ingin bercanda.
" Iya Kak ada apa? " Jawab L polos
" Harusnya kau menenangkan ku, memberikan semangat atau kata kata bijak kenapa malah membuat ku semakin putus asa. " Ucap Bora dengan nada lumayan tinggi.
L tersenyum " Aku kan hanya menyatakan pendapatku jangan marah Kak. "
" Itu tidak membantu sama sekali. "Bora berbalik dan kembali duduk.
Semua karyawan tim desain telah pulang sejak 30 menit yang lalu, menyisakan tiga orang wanita didalam ruangan yang cukup luas. L masih diam didepan manequin hingga membuat Bora jengah.
" Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau tidak lelah terus berdiri di depan patung ? " Tanya Bora
" Kakak yakin akan memamerkan pakaian ini untuk acara besok? Apa kakak tidak takut ditertawakan jika memamerkan rombengan ini? "
Wajah Bora kembali memanas saat mendengar kata rombengan dari mulut L " Yak! Berhenti mengatakan kata rombengan itu sangat menyebalkan dan membuat ku panas. Kalau hanya mau mengomentari lebih baik diam saja! "Ujar Bora dengan kesalnya
L justru semakin senang, itu lebih baik daripada terus diam dan tidak bersemangat. Asisten Bora yang duduk didekat Bosnya hanya bisa diam tidak berani mengganggu Bos nya yang sedang sensi itu.
L hendak membuka kembali mulut nya tapi sudah diserang lebih dahulu oleh Bora.
" Diam jika kau masih mau hidup bebas! Lebih baik kau membantu ku mengubah rombengan itu menjadi sebuah karya seni dari pada terus mengatakan kata-kata yang membuat ku panas. " Ujar Bora sambil menunjuk ke arah manequin
" Nah begitu Kak, aku suka Kakak ku yang cerewet dan galak seperti ini. Baiklah aku akan membantu mu, aku mungkin tidak bisa membuat baju tapi aku bisa membuat sebuah karya seni. " Ucapan L membuat Bora bingung dan tak mengeluarkan kata-kata lagi.
" Apa yang Anda cari Nona muda? Biar saya bantu. "
" Aku mencari gunting dan jarum."
Asisten Bora mengerti, ia segera menyerahkan benda yang diminta L. Bora hanya diam memperhatikan dari balik mejanya.
L mendekati manequin dengan rancangan pakaian yang telah rusak, dengan gerakan tanpa keraguan ia meraih gunting dan memotong rancangan tersebut dengan gampangnya. Gaun yang panjang dengan model payung itu dipotong tanpa ada sisa hingga Bora tertegun. Asisten Bora pun kaget dengan tindakan L.
L terus memotong disana sini, benar-benar tanpa ampun seperti sedang memotong kertas secara serampangan.
" ElYCIA!!!! " Bora berlari karena setelah dua gaun yang dipotong, L terus saja melakukan hal yang sama pada rancangan yang lain, asisten Bora sudah tak bisa berkata kata lagi.
" Ssssttt! Kak kau mengganggu pekerjaan ku! Diam dan duduk saja! Tadi kau menyuruh ku untuk membantu mu mengubah rombengan ini jadi jangan berisik! " Ujar L dengan sedikit keras.
Entah kenapa Bora jadi patuh dan kembali ke kursi milik nya. Meskipun hatinya tidak tenang tapi entah kenapa Bora tak bisa menghentikan aksi L.
L melanjutkan aksinya menggunting beberapa bagian pada tiap rancangan yang terpasang di manequin, dalam waktu satu jam ia sudah bisa menyelesaikan 4 gaun dan itu terus berlanjut.
" Daripada memperbaiki dengan menambal di sana sini itu akan menyita banyak waktu dan rancangan kakak akan terlihat seperti kain rombeng, jadi kenapa tidak dipotong saja bagian yang rusak atau mengubah modelnya menjadi sesuatu yang baru bukankah itu jauh lebih bagus dan hemat waktu. " Ucap L sambil terus bekerja.
Bora tak bergeming, ia terus memperhatikan L dengan seksama.
" Kakak kemarilah! " L memanggil Bora yang tengah fokus menatap nya dengan kedua tangan menompang dagu.
Bora segera beranjak dan berdiri di samping L. Ia memperhatikan rancangan yang tadinya rusak dan seperti kain rombeng menjadi sebuah rancangan dengan model yang berbeda. Ia takjub dan tiba-tiba merasa bodoh.
" Aku memotong beberapa bagian, seperti panjang lengan, dan kakinya. Aku juga membuang bagian yang menurut ku tidak penting. Dan lihat! Bukankah itu lebih bagus dan simple tapi tetap elegan dan tidak terkesan murahan. "
Tiba-tiba saja Bora memeluk L dan terisak selama satu menit, setelah itu ia melepaskan pelukan nya dan menyerahkan gunting baru yang lebih tajam pada L.
L bingung karena Bora tiba-tiba saja mengganti gunting yang sedang ia gunakan.
" Untuk a..... "
" Pakai gunting yang ini, dia lebih tajam sehingga akan mempermudah mu memotong rombengan ini. Aku akan merapikan bagian yang telah kau potong bersama asisten ku, jadi kau fokus saja memotong dan membuang bagian yang menurut mu tidak bagus. Cepat laksanakan! Rancangan yang sudah selesai diperbaiki juga boleh kau potong dan kau ubah sesuai keinginan mu. "
Bora pergi dan mengambil peralatan nya, dibelakang asisten Bora sigap membantu dan melakukan tugas tanpa perlu diperintah.
L tersenyum melihat Bora sudah kembali bersemangat, malam itu mereka bekerja hingga larut. Tak ada perbincangan karena mereka fokus pada tugas masing-masing. Sudah pukul 10 malam, bahkan Jisoo sudah hadir disana menunggu istri dan adiknya selesai.
Pukul 11 akhirnya L telah selesai, tinggal bagian Bora dan asisten nya yang masih belum selesai.
Jisoo menyerahkan minuman hangat pada L.
" Kerja bagus Yuna, terimakasih telah membantu istri ku. " Sambil mengusap kepala L.
" Tentu saja aku membantu, dia kan kakak ku. Daripada dia jadi pendiam seperti ku kan sangat tidak cocok. Benarkan? "
Jisoo tertawa " Kau benar, sudah ada kita berdua yang pendiam jika dia berubah menjadi seperti kita bisa bisa rumah kita berubah jadi kuburan. " Canda Jisoo
Bora melirik kearah Jisoo dan L " Hei apa yang sedang kalian tertawakan? " Tanya Bora.
Keduanya langsung terdiam " Tidak ada, aku hanya mengatakan bahwa aku akan memerasmu sebagai bayaran karena telah membantu mengubah rombengan itu jadi sebuah karya seni. "
" Memeras apa? Kau kan tidak tertarik dengan uang. Kartu yang kami berikan saja kau anggurkan di rumah, yang selalu kau bawa hanyalah kartu transportasi dan uang tunai. "
L tergelak " Bagaimana kakak tahu? Jangan bilang kakak mengecek tas ku dan mengambil sesuatu didalamnya ya? Kakak kan sudah kaya kenapa mengambil uang ku? "
Dengan cepat Bora menjitak kepala L
" Sembarangan kau mengataiku mencuri. Aku tahu karena tiap bulan Jukyung ku suruh menyerahkan laporan keuangan yang kau gunakan dari kartu kartu yang kami berikan, tiap bulan kau mengambil tak lebih dari 1.000 won dan selebihnya tak ada transaksi selain dicafe atau restoran. Saat aku mengecek tas mu aku melihat uang tunai disana jadi bisa kusimpulan bahwa penarikan 1.000 won itu yang kau ambil dari ATM dan kau gunakan secara tunai. Kenapa kau tidak bayar dengan kartu saja? "
L terlihat gugup " Emmm karena aku tidak membutuhkan kartu itu, semua sudah terpenuhi oleh ayah dan juga kalian." Dalih L, ia segera mengalihkan pembicaraan.
" Apa kakak sudah selesai? Aku lelah dan juga mengantuk bisakah kita pulang dan lanjutkan besok? "
" Iya sayang ini sudah larut dan sebentar lagi tengah malam, kita lanjutkan saja besok. " Imbuh Jisoo
Bora menatap L dengan penuh curiga tapi ini bukan saat yang tepat " Baik, ayo kita pulang. Besok biar anak buah ku menyelesaikan sisanya. "
Setelah hari yang melelahkan itu, mereka akhirnya pulang.