
Seminggu kemudian, L dan pamannya datang ke sebuah sekolah yang letaknya dipusat kota, sekolah itu merupakan sekolah elit dan terfavorit dikota tersebut. Sekolah itu sangat terkenal karena murid-murid nya sangat pandai, selain pandai mereka juga dari golongan orang-orang kaya.Tidak sembarang orang bisa masuk sekolah itu.
Dengan penuh percaya diri, pamannya menuntun L masuk melewati gerbang sekolah itu, L melihat ke arah bangunan megah yang menurutnya sangat bagus dan mewah sebagai sebuah sekolah. Sebelum masuk juga ia sudah ter bengong karena area parkir hampir penuh oleh mobil-mobil mewah nan bagus " Ya ampun baru kali ini aku melihat mobil sebanyak ini, biasanya yang kulihat hanya angkot berwarna oranye berjejer diparkiran pasar, dan benarkah ini akan menjadi sekolah ku? ini sekolah apa istana. " kata L yang berjalan mengekor dibelakang pamannya
L memasuki sebuah ruangan, disana banyak sekali calon murid yang hendak mendaftar. L duduk sementara pamannya tengah sibuk mengurus berkas pendaftaran. Orang-orang melihat L dengan tatapan kagum karena kecantikan nya.
Didalam ruangan yang berbeda, pamannya menyerah kan berkas tersebut, petugas administrasi melihat berkas tersebut dan mengkerut kan dahinya, ia memanggil beberapa temannya.
" Permisi pak, sekolah ini merupakan sekolah umum jadi tidak bisa menerima putri bapak. " petugas tersebut mengembalikan berkas itu pada paman Andrea
" Ia saya tau ini sekolah umum, tapi kenapa putri saya tidak bisa masuk kesekolah ini, anda bisa melihat bahwa nilai di rapot nya sangat bagus. "
" Tapi kami tidak menerima murid yang memiliki..... " kata-kata petugas administrasi itu terhenti karena tidak enak
" Maksud kalian apa. " Paman Andrea sudah berdiri dan berjalan kearah petugas tersebut, tapi tiba-tiba ada suara yang memecah suasana
" Andrea? kaukah itu? ini aku Agus, teman kuliahmu. " Pak Agus menepuk bahu paman Andrea
" Agus, sedang apa kau disini? " tanya paman Andrea pada pak agus yang merupakan wakil kepala sekolah dan juga temannya sewaktu kuliah dulu
" Aku wakil kepala sekolah disini, ada masalah apa, kenapa kau tampak emosi seperti itu? "
" Aku kemari hendak mendaftar kan keponakan ku, tapi mereka. " menunjuk para petugas itu " tidak mau menerima nya. "
Pak Agus langsung menghadapi bawahannya " kenapa kalian bersikap seperti itu? "
" Maafkan kami pak, kami hanya menjalankan perintah sesuai peraturan, murid yang terdapat dalam berkas tersebut masih sangat muda, kami mengira dia pasti seorang anak berkebutuhan khusus, sekolah tidak bisa menerima murid seperti itu. " jawab sang petugas sambil menunduk
Pak Agus langsung mengambil berkas tersebut dan matanya membulat " Ya ampun Andrea, kau seperti salah alamat, harusnya kau mendaftarkannya di SMP bukan di SMA? "
" Aku tidak salah alamat, keponakan ku sudah lulus SMP dan tahun ini ia masuk SMA " jawab paman Andrea bangga
" Tapi umurnya baru 11 tahun, apa benar dia sudah lulus SMP? "
" Bulan depan dia sudah 12 tahun. "
" Tapi apa benar keponakan mu itu anak yang normal, bukan anak dengan kebutuhan khusus?" Tanya Pak Agus lagi
" Maafkan meraka Andrea, mereka hanya kaget saja melihat biodata keponakanmu karena masih sangat muda tapi memiliki nilai sempurna, kebanyakan anak autisme kan punya kecerdasan tersendiri atau memiliki bakat yang luar biasa dibandingkan orang lain. "
" Tapi keponakan ku bukan anak autisme dia normal seperti anak-anak yang lainnya. "
" Aku mengerti, tapi peraturan tetap peraturan, umur keponakanmu sangat muda dan sebenarnya kalau dia masuk disekolah ini dia akan menjadi murid termuda sepanjang sejarah penerima murid baru. Jika wali murid yang lain tau nanti bisa bisa mengira kalo sekolah ini menerima murid autisme, mereka pasti akan protes, bahkan aku yang wakil kepala sekolah tidak bisa berbuat apa apa. " Berusaha menjelaskan
" Aku tidak peduli dengan mereka, lagipula keponakan ku memang anak yang istimewa, Anak-anak mereka tidak sebanding dengan keponakan kesayangan ku.Pokoknya aku ingin dia masuk sekolah disini, bahkan kalo perlu membayar mahal aku siap. "
" Baiklah, jika kau bersikeras, aku bisa membantu mu, tapi ada syaratnya. "
" Apa itu? "
" Siapa nama keponakan mu? "
" Elycia Agatha. "
" Elycia bisa masuk kesekolah ini dengan jalur khusus, disana ia harus mengikuti tes masuk yang berbeda dengan calon murid yang lain. Baik tes tertulis, tes psikologi, tes kesehatan, dan tes lainnya. Apa kau bersedia? "
Paman Andrea tersenyum " Tentu saja, akan kubuat bahkan seluruh dewan sekolah memohon kepadaku untuk membuat Elis ku bersekolah disini. " Katanya dengan penuh percaya diri.
" Baiklah, aku akan bicara kan hal ini pada kepala dan dewan sekolah. Persiapan keponakanmu karena besok ia harus menjalani Test masuknya."
Setelah perbincangan panjang itu, Elis dan paman Andrea pulang. Diperjalanan paman Andrea mengutarakan perbincangannya antara dia dan temannya, Elis harus bisa lulus dalam test tersebut agar bisa masuk kesekolah elit itu. Elis dengan polos tentu mengiyakan semua perkataan pamannya.
Hari yang ditunggu tiba, dengan memakai pakaian yang rapi Elis duduk disebuah ruangan dan disana sudah ada 4 orang dewasa yang duduk berhadapan dengan dirinya. L tampak gugup namun berusaha tetap tenang. Sementara pamannya dan Pak Agus menunggu diluar.
L sudah seperti sedang wawancara untuk bekerja. Ada seseorang yang mulai menaruh sebuah kertas dan L disuruh mengerjakan nya, L dengan tenang mengerjakan soal soal tersebut, usai test tertulis tersebut kini ia mulai melakukan test yang lain. Tanpa terasa jam makan siang telah lewat dan akhirnya L selesai menyelesaikan semua test tersebut tanpa terlihat kesusahan.
Paman Andrea dan Pak Agus langsung menghampiri L.
" Bagaimana nak? Kau bisa kan? " tanya pamannya dengan antusias
" Iya paman, L bisa menyelesaikan semua soal dan pertanyaan itu. " jawabnya sambil tersenyum
" Andrea, ajaklah keponakan mu makan, ini sudah waktunya untuk makan siang,sambil menunggu hasil nya, aku yang akan menunggu disini dan jika telah keluar akan segera kukabari. " L dan pamannya pun pergi dan berjalan menuju ke kantin sekolah