All About You "L"

All About You "L"
Nomor Tak di Kenal



Semuanya terlihat lelah begitu sampai dirumah, mereka kembali kekamar masing-masing guna mengistirahatkan tubuh mereka.


Arsi dan L sudah mandi dan berganti pakaian, tubuh mereka terasa lebih segar setelah mandi. Karena besok pagi L dan Hari akan kembali ke kampung halaman mereka, L pun mulai mengemas barang barangnya, Arsi tampak tidak rela, meski baru mengenal L dan waktu kebersamaan mereka sangat singkat, tapi keduanya sangat akrab seperti saudara. Arsi bahkan selalu menempel padanL.


"Unni kenapa kau harus pulang, tinggal saja disini dan jadi kakakku. " rengek Arsi pada L sambil memeluk nya


" Arsi, maaf aku harus pulang,dan bukankah kau sudah punya seorang kakak yang tampan. "


" Ah si Playboy cap teri itu, bahkan aku rela membuangnya jika itu bisa membuat mu jadi saudara ku. "


" Hacimmm, seperti nya ada yang sedang membicarakan ku. " Kata Arya yang sedang sibuk bermain game online di ponsel nya


" Hahaha kau ini ada ada saja, lalu bagaimana teman temanmu itu? apa kau sudah puas membalas mereka? "


" Tentu saja, aku memang iri karena tak bisa ikut berlibur dan menonton konser idola ku, tapi dengan foto bersamamu itu sudah lebih dari cukup untuk membuat membalas mereka. " memperlihatkan akun sosial medianya " Lihat,mereka sampai membombardir ku dengan puluhan pesan, mereka menanyakan identitas mu, mereka sangat iri karena aku bisa foto bersama seorang yang sangat cantik mirip artis Korea."


" Baguslah, kenapa kau tidak bilang saja kalau aku adalah saudara mu, jika kau bilang aku adalah seorang artis sama saja kau berbohong kan. "


" Apa tidak apa apa? Maaf aku memanfaatkan mu demi membalas teman temanku. "


" Hei tidak apa-apa kita kan saudara, aku akan dengan senang hati membantumu." Kata L yang membuat Arsi sangat senang


" Benarkah kau mau menganggap ku sebagai saudara?" memeluk L dengan erat " Kalau begitu apa aku boleh mengupload fotomu yang lain? " memperlihatkan L yang sedang tidur, bangun tidur dan beberapa kegiatan lain yang tanpa sadar diabadikan boleh Arsi.


" Haduh kenapa kau memotret ku dalam keadaan jelek begitu? aku sangat malu. " L menutup wajahnya


" Hei tenang saja, sejelek apapun tingkah mu, akan terlihat bagus didalam foto. Ouh iya kau belum memberikan nomor telpon mu, setelah kau pulang jangan lupakan aku ya, aku akan rajin menelpon mu, dan suatu saat aku pasti datang dan berkunjung ke rumah mu. "


"Baiklah, aku akan menunggu mu? " jawab L dengan senyumnya


" Om, tante, Arya, Arsi, Hari dan Elis pamit ya, terimakasih atas semua dan kami minta maaf karena telah merepotkan. " kata Hari sopan


" Tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri, tante dan om juga senang kalian datang kemari dan meramaikan suasana. " jawab ibu Arya disertai senyuman suaminya


" Hati-hati dijalan ya Bro, kalau kalian sedang ada di Jogja datang lah kemari. " imbuh Arya


Arsi yang manja berlari memeluk L dan menangis " Unni selamat jalan, sampai bertemu lagi ya, jangan lupa menghubungi ku dan angkat telpon ku. "


" Iya pasti. "


Hari dan L pamit, mereka masuk ke mobil dan mulai meninggalkan rumah besar itu.


Waktu terasa berjalan begitu cepat, seakan mereka baru sampai di Jogja kemarin dan sekarang sudah kembali ke kampung halaman mereka. Selama diperjalanan, L tampak sibuk bercerita pada Bora dan Jisoo tentang segala aktivitas yang ia dan Hari lakukan di Jogja, tanpa terasa mobil telah memasuki desa mereka, dan seperti biasa hujan dan kabut menyelimuti desa mereka. Seakan-akan menyambut kedatangan mereka.


Mobil sudah terparkir di halaman rumah L, setelah L turun Hari pun pamit untuk pulang karena dirinya butuh istirahat setelah menyetir lebih dari 5 jam. L pun melambaikan tangan kala mobil Hari meninggalkan rumah L.


L segera mandi dan merebahkan tubuhnya dikamar, meskipun kamar miliknya tak seluas milik Arsi tapi tetap saja yang paling nyaman adalah rumah sendiri. Saat ia berbaring, terdengar hujan semakin deras , L yang merasa lelah langsung tertidur dengan lelapnya, tanpa ia sadari ponselnya berdering dan sebuah nomor baru terlihat dilayar ponselnya. Beberapa kali nomer baru itu menelpon, namun sang pemilik tengah pulas tertidur dan tak mendengar suara dering telepon karena hujan.


L tertidur cukup lama hingga sore hari, saat ia bangun hujan sudah berhenti. Ia beranjak dari kamarnya menuju dapur, seharian tidur hingga melewatkan jam makan siang, perutnya pun berbunyi.


Mengeluarkan beberapa lembar roti dan mengolesinya dengan selai, L membawa roti isinya dan teh mawarnya menuju halaman belakang. Ia duduk sambil menikmati danau yang ada dibelakang rumahnya, terasa damai dan sejuk itu yang dirasakan L.


Usai menghabiskan roti isinya, L mengingat belom memberi kabar pada Bora. Ia pun bergegas masuk dan menggapai ponselnya di atas tempat tidur, ia melihat banyak pesan dan riwayat panggilan, terutama dari Bora, L menggigit kuku jarinya, bersiap untuk kena marah. Tapi pandang nya tertuju pada sebuah nomer baru yang tak dikenalnya, terlihat penasaran namun memilih mengabaikan nya, ia segera mengetik nama Bora dan menelpon nya untuk memberi kabar bahwa ia telah sampai dirumah dengan selamat. Tentu saja hal saat telpon tidak di angkat menambah panjang omelan Bora pada L, sesekali ia bahkan menjauhkan ponselnya dari telinganya karena teriakan Bora yang membuat pusing kepalanya.


Hampir satu jam berlalu dan akhirnya L bisa duduk sambil menghela nafas dengan panjang, ia lelah karena sedari tadi diomelin dan meminta maaf.


Hah kenapa aku bisa punya kakak secerewet Bora sih, dan apa sih yang dimakan Bora sampai sampai mulut nya bisa terus berbicara tanpa henti selama hampir satu jam, ini bahkan lebih melelahkan dibandingkan dengan berjalan berkeliling pasar Beringharjo. Gumam L sambil bersandar di sofa ruang tengah.