
Jukyung telah menyiapkan piyama untuk L. L segera menggosok gigi dan berganti pakaian.
" Selamat malam Nona. " Ucap Jukyung sambil menyelimuti tubuh L.
" Selamat malam juga kak Jukyung, terimakasih untuk hari ini. " Sahut L
Jukyung membungkuk kemudian mematikan lampu kamar sebelum keluar.
Bora memperhatikan terus gambar desain yang dibuat L, menurut Bora gambar tersebut sangat lah bagus dan sesuai dengan tema untuk edisi musim panas tahun ini. Dan model itu benar-benar suatu inovasi yang pasti akan menjadi tren.
Bora mengambil seluruh kertas yang ada di map, ia melihat satu persatu desain milik anak buahnya. Tidak ada yang serupa dengan desain tersebut.
Disana juga tidak tertera siapa yang membuat nya, hanya sebuah inisial huruf L di pojok kanan bawah. Bora mengacak ngacak rambutnya, i menatap laptop dan mencari anak buahnya yang berinisial L dan langsung menghubungi nya.
Ada beberapa yang memiliki nama depan L, semua sudah dihubungi Bora dan ditanya mengenai desain gaun pengantin tersebut.Sayang nya, tidak ada satupun dari mereka yang menyatakan sebagai desainer nya.
Bora duduk sambil membenamkan wajahnya dikedua tangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggil masuk.
Dengan lesu Bora mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.
"Hallo." Jawab Bora tidak bersemangat.
" Sayang apa kau baik-baik saja? Kenapa suara lemas begitu? Kau sudah makan kan? " Jisoo bertanya dengan cemas.
" Aku sedang tidak baik baik saja. " Baru saja Bora menjawab pertanyaan Jisoo, ponselnya kembali bergetar karena Jisoo mengalihkan panggilan suara menjadi panggilan video.
Bora menggesel layar dan menaruh ponselnya di meja agar suaminya itu bisa melihat nya.
" Sayang kau kenapa? " Tanya Jisoo kembali
" Aku sedang pusing mencari seseorang. "
Jisoo mengkerut kan alisnya.
" Siapa yang kau cari? "
" Kau tahu bukan tim desainer ku banyak yang resign, aku sedang pusing dengan persiapan peluncuran pakaian edisi musim panas dan fashion show yang kan di adakan beberapa minggu lagi. Tim desainer yang tersisa diperusahaan tinggal para junior yang masih kurang berpengalaman. Hari ini aku membawa pulang beberapa desain mereka untuk aku revisi, tapi tiba-tiba aku menemukan sebuah desain yang sangat bagus. Hanya saja tidak tertulis siapa nama desainer nya, hanya ada inisial L di pojok kertasnya. " Ujar Bora sambil memperlihatkan gambar desain buatan L.
Jisoo memperhatikan debat seksama, Jisoo berusaha fokus.
" Sayang bisakah kau dekat gambar itu pada layar ponsel. " Pinta Jisoo
Meskipun sedikit heran tapi Bora menuruti permintaan suaminya.
" Benar kan itu sangat bagus. " Bora berfikir jika gambar desain tersebut sangat bagus sehingga suaminya meminta memperlihatkan dengan lebih dekat.
" Kurasa aku tahu siapa yang menggambar nya. " Celetuk Jisoo, Bora memicingkan matanya kearah suaminya lalu ke gambar desain itu.
" Maksud kamu apa sayang? "
" Jelas disitu sudah tertulis siapa yang menggambar nya kenapa kau bingung. " Ucap Jisoo
Bora tampak sedang berfikir dan memperhatikan lebih dalam kertas tersebut , terutama inisial L.
Bora terperanjat, ia meletakkan kertas itu dan menutup mulutnya. Jisoo melihat ekpresi istrinya hanya bisa tersenyum.
" Apa yang kupikirkan sama dengan mu sayang?"
" Memang apa yang sedang kupikirkan? " Tanya Jisoo balik
" Yang menggambar desain ini adalah L adik kita? Inisial huruf L pada kertas ini Elycia kan? " Jisoo tersenyum dan mengangguk.
Tanpa menunggu lagi Bora melesat meninggalkan Jisoo dan berlari ke kamar L. Jisoo tahu apa yang sedang dilakukan istrinya, ia pun tak marah karena ditinggalkan saat sedang menelpon. Ia hanya tersenyum dan mematikan panggilan tersebut.
Bora buru-buru berlari menaiki tangga menuju kamar adiknya, sesampainya di depan pintu kamar L. Bora berhenti berlari dan perlahan masuk ke dalam kamar tersebut.
" Yuna. " Panggil Bora sambil memasukkan Kepala nya melewati pintu.
Lampu kamar L sudah padam menyisakan lampu tidur saja, ia melihat L sudah terlelap dibalik selimut nya yang hangat.
Dari belakang tampak Jukyung melihat ada Bora yang tengah mengintip kedalam kamar L.
" Nona butuh sesuatu? " Tanya Jukyung sedikit mengagetkan Bora.
" Ah tidak, aku hanya ingin bertemu dengan adikku saja. "
" Apa perlu saya bangun kan Nona Yuna? "
Pagi pagi Bora sudah bangun dan segera masuk ke kamar L kembali. Karena masih terlalu pagi L pun belum terbangun dari tidurnya. Bahkan Jukyung saja belum masuk ke kamar L.
Lima belas menit kemudian barulah Jukyung masuk sambil membawakan teh hangat untuk diminum L setelah bangun dari tidurnya.
Jukyung kaget melihat Bora yang pagi pagi sudah berada di kamar L.
" Maaf Nona saya baru tahu anda ada didalam kamar. " Ucap Jukyung segera membungkuk setelah meletakkan nampak berisik teh yang dibawakannya.
" Tidak perlu minta maaf, aku memang sengaja bangun lebih pagi dan langsung kemari menunggu Yuna bangun. "
Orang yang dibicarakan tak lama kemudian pun bergerak dan perlahan bangun. L melihat ada Jukyung dan Bora duduk sambil menatap nya.
" Bora? " Ucap L, berusaha menyadarkan diri dari alam mimpi nya.
" Selamat pagi adik. " Ucap Bora
" Selamat pagi Nona. " Sahut Jukyung setelah nya.
" Selamat pagi. "
L beranjak dari tempat tidur dan berjalan mendekati Bora. Jukyung menuangkan teh bunga krisan kedalam cangkir.
" Bora ada apa pagi pagi sudah ada di kamar ku? "
Wajah Bora terlihat cemberut, L mengerti tatapan itu.
" Baiklah kakak ku sayang ada apa pagi pagi sudah ada di kamarku? "
Bora memperhatikan sebuah kertas pada L.
" Apa kau yang menggambar ini? " Tanya Bora dengan wajah serius.
" Iya. " L menjawab santai sambil meminum teh nya yang hangat.
" Kau yakin? "
L bingung dengan pertanyaan Bora " Iya. "
" Serius? "
" Iya Kakak ku sayang, kau bisa lihat namaku ada dipojokan kertas itu kan. "
Bora tiba-tiba memeluk lengan L dengan manjanya.
" Apa boleh aku meminta gambar mu ini? "
" Ambil saja kak, lagipula itu hanya sebuah coretan. " L berdiri dan menuju kamar mandi
" Kak Jukyung apa air mandi ku sudah siap? "
" Sudah Nona. "
L pun meninggalkan Bora.
" Apa kau bisa membuat nya lagi? " Bora berkata dengan keras.
" Untuk apa Kak. " Jawab L
" Aku bertanya apa kau bisa membuatnya lagi atau tidak? Jawab saja! " Suara Bora semakin keras.
L yang ada di dalam kamar mandi dan Jukyung yang berada di dekat Bora jadi heran dan bingung.
" Iya iya nanti ku buatkan lagi. " Jawab L agar Bira tidak berteriak-teriak.
" Terimakasih adik. Setelah sarapan aku akan menunggu mu di ruang kerja ku. " Ujar Bora lagi.
" Iya. "
Saat keluar dari kamar L, Bora tersenyum lebar.
Adik ku seperti nya punya bakat menjadi seorang desainer pakaian. Kata Bora Lirih