All About You "L"

All About You "L"
Berebut Koki



Jisoo dan Sun-woo hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adik-adiknya.


Selesai sarapan mereka kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan istirahat nya. Big3 yang kekenyangan pergi lebih dahulu, sementara Sun-woo dan Jisoo pamit pada istrinya untuk berkeliling hotel. Tinggal Hari, Arya dan Bora.


Tadi Bora sudah telpon L dan akan melanjutkan perjalanan ke desa besok pagi.


Bora mengajak Hari dan Arya pindah ke cafe yang masih berada di dalam hotel tersebut untuk mengajaknya ngobrol.


" Terimakasih ya Hari, telah menjaga adikku selama aku jauh dari nya. " kata Bora yang duduk didepan Arya dan Hari


" Tidak perlu berterimakasih padaku, semenjak Elis kembali ke desa keluarga ku yang menjaga nya, dan ia sudah aku anggap seperti adik ku sendiri. "


" Aku senang adikku punya kau dan keluarga mu yang sayang dengannya, sejak kejadian dia menolong ku dan suamiku dari peristiwa kecelakaan itu, aku selalu merasa berhutang budi padanya." wajah Bora memperlihatkan ekpresi sedih "kata suamiku, Elis tiba-tiba datang saat aku tengah tidak sadarkan diri, ia yang masih kecil itu langsung datang dan menolong ku yang orang asing ini, jika saja dia tidak menolong ku mungkin aku tidak akan bertemu dengan kalian saat ini. "


" L memang gadis yang sangat baik, dia dirawat oleh neneknya setelah kedua orang tuanya meninggal. Neneknya membesarkan nya dengan penuh kasih, dan menjadikannya seseorang yang begitu baik, dan rendah hati." jawab Hari


" Meskipun aku dan L sama-sama orang asing yang dipertemukan oleh suatu peristiwa, entah kenapa aku merasa pertemuan ku dengannya adalah sebuah takdir. Setelah aku sembuh dan kembali ke negaraku, hubungan kami tetap terjaga dan semakin erat walaupun jarak memisahkan. Hampir dua tahun lebih aku mengenalnya sejak peristiwa itu, dari saat ia tinggal bersama pamannya sampai ia kembali ke desa dan tinggal sendirian. Aku selalu khawatir tentang keadaannya sepanjang waktu, walaupun ada kau dan keluarga mu yang menjaganya, tapi tetap saja dia kan hanya gadis yang baru berumur 14 tahun."


Hari mengangguk setuju, sementara Arya dengan tenang mendengarkan sambil sesekali meminum minuman nya.


" Aku dan keluarga ku juga begitu, awalnya ibu ku menyuruh L untuk tinggal di rumah ku tapi ia menolak dan tetap ingin kembali kerumah lamanya. Aku mengerti, mungkin ia memiliki trauma saat tinggal di rumah pamannya, sehingga ia tidak mau tinggal di rumah ku atau rumah siapa pun. Dan sebenarnya beberapa hari yang lalu pamannya tiba-tiba datang menemui L. "


Brakkk


Bora menggebrak meja hingga Hari terkejut begitu pula dengan Arya, ia bahkan sampai tersedak


" Apaaa? Lalu apa yang terjadi? " Kata Bora dengan nada suara tinggi dan mata melotot pada Hari


Hari sampai memundurkan tubuhnya karena kaget dengan reaksi tak terduga dari Bora


" Elis tidak cerita apapun tentang kedatangan pamannya kerumah. " tambah Bora


" Lalu? " Bora tampak tidak sabar


" Setelah ia bercerita tentang hal itu, ia menangis semalaman, ia tak ingin kuliah di kota B dan tak ingin jadi dokter. Aku menenangkan nya dan berjanji kalo aku dan kedua orang tuaku akan membantu bicara pada pamannya. Dua hari kemudian, sampai malam menjelang pamannya ternyata tidak datang, bahkan aku yang tidur di rumah nya sampai keesokan harinya, pamannya juga tidak datang. Kata L, kemungkinan bibinya mengetahui kepergian pamannya yang menemui L jadi bibinya pasti menahannya untuk bertemu kembali dengan nya. "


Bora menghela nafas lega " Ah untung saja tidak datang. "


" Iya benar, sebelum berangkat menjemput mu juga tidak ada tanda tanda kalo pamannya akan datang, nomer yang diberikan pada L juga tidak aktif, jadi kau tidak usah khawatir."


" Syukurlah, benar-benar beruntung kau ada didekatnya."


Obrolan mereka terus berlanjut, dan isinya pun tentang Elis. Cukup lama mereka berbincang tanpa disadari minuman yang ada dimeja mereka telah habis, Bora pun akhirnya menyudahi obrolan mereka dan kembali ke kamarnya, karena ia tiba-tiba merasa ngantuk.


Waktu terus berjalan, semuanya tampak kelelahan dan istirahat di kamar masing-masing. Saat jam makan siang mereka kembali berkumpul dan menikmati makan untuk kedua kalinya. Hari dan Arya sudah mulai terbiasa dengan Bora dan lainnya, sementara big3 kembali seperti orang yang tidak pernah makan selama sebulan, mereka memesan banyak makanan dan menghabiskan semuanya. Untung kali ini yang membayar adalah Jisoo, Hari sempat gugup karena saat sarapan saja menghabiskan biaya sampai 3 juta.


" Hari bisakah kau mengantarkan ku menemui koki direstoran ini? " kata D.O pada Hari


Hari menatap D.O bingung " Koki? tentu bisa tapi untuk apa? "


" Makanan disini sungguh enak, aku juga ingin makan makanan ini setelah aku pulang ke Korea, karena tidak mungkin membawa makanan ini tentu saja aku akan membawa kokinya bersamaku. " Jawab D.O polos


Arya sempat kaget dengan ucapan D.O, lalu Shin memukul lengan D.O " Berhenti bicara omong kosong, kau itu seorang model, kau harus menjaga berat badanmu, jika kau membawa Koki itu ke rumahmu , mau jadi apa tubuhmu itu. Lebih baik Koki itu ikut kerumahku saja. " ucap Shin


" Tidak bisa Shin, lebih baik Koki itu ikut aku, apa kau lupa kalo semua pegawai di rumah mu itu harus melewati tes dan peraturan yang ketat, lagipula Koki direstoran kecil seperti ini tidak mungkin diperbolehkan masuk oleh kepala pelayan mu. " sahut Jaehyun


Arya dan Hari hanya bisa mendengar obrolan para Sultan itu, mereka tiba-tiba merasa kecil dan tidak ada apa-apa nya dengan mereka.


" Diam! " kata Bora menaikan suaranya , wajahnya sudah terlihat kesal karena merasa terganggu oleh ocehan big3 " Bisa tidak kalian tenang saat sedang makan, apa kalian mau aku suapi supaya mulut kalian diam? Dan ku ingatkan lagi, jadi bicara aneh-aneh atau kukirim kalian pulang sekarang juga. "


Ketiganya langsung diam dan fokus pada makanan mereka, tidak ada yang bersuara atau berdebat masalah Koki lagi. Mereka bertiga benar-benar seperti anak kecil yang takut dimarahi oleh ibunya yang galak. Jisoo dan Sun-woo tersenyum melihat tingkah ketiganya yang menunduk tidak berani melawan Bora.