All About You "L"

All About You "L"
Sikap Yang Aneh



Kringgg kringgg kringgg


L terperanjat mendengar suara ponselnya berdering begitu keras, dering telpon nya memang sengaja disetel seperti itu setelah kejadian ia dimarahi Bora karena terlambat mengangkat telponnya.


L melihat layar ponselnya dan tertulis nama Bora disana, L buru buru mengangkat panggilan video itu.


" Hallo kak. " jawab L sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.


"Pagi adik kesayangan ku, kau baru bangun? " tanya Bora yang L masih acak acakan


" Iya kak, maaf. "


" Untuk apa kau minta maaf, kalo masih ngantuk tidur lagi saja. "


" Ah tidak, aku sudah bangun tidak bisa tidur lagi, lagipula banyak pekerjaan yang harus kulakukan. "


" Iya iya, dan jangan lupa sarapan terlebih dahulu. " kata Bora


" Iya kak, kau sudah siap berangkat ke kantor? Dimana kak Jisoo?


" Iya, tapi hari ini aku tidak ke kantor, aku ada perjalanan bisnis ke Daegu dan"


Belum selesai Bora berbicara, Jisoo tiba-tiba datang dan menyapa L juga " Pagi L. "


" Sayang kenapa kau selalu mengganggu ku ketika sedang menelpon adikku. " protes Bora yang tiba-tiba saja datang dan memotong kalimat nya


" Hah kenapa kau marah padaku, dia kan juga adikku sayang. Jangan memonopoli nya, lagipula sebentar lagi asisten mu datang menjemput jadi lebih baik kau selesai kan dulu sarapan mu, biar aku yang bicara pada L. " kata Jisoo


" Tidak bisa begitu, kan aku yang menelpon nya, kenapa malah kau yang jadi bicara padanya, waktu ku masih panjang dan ini juga masih pagi. " sahut Bora kembali


" Sayang kau belum melihat jam di pergelangan tangan mu dan di ponselmu ya, lihat sekarang sudah hampir pukul 9."


" Biarkan saja, kan aku bos nya. Sudah kau saja sana yang sarapan dan berangkat ke kampus, belajar ya rajin ya. " Ledek Bora pada suaminya


" Loh kan aku yang mengajar kenapa disuruh belajar yang rajin. " Jisoo bingung


Sementara L hanya diam mendengarkan perdebatan suami istri itu, Ia pun mengecek jam dan kaget kalo sekarang sudah jam 7, dan ia ingat pamannya ada dirumahnya, tiba-tiba ia merasa cemas, L takut dimarahi karena jam segini ia baru bangun.


Bora dan Jisoo baru sadar sedang menelpon L, perhatian mereka kembali pada L. Namun ada sesuatu yang membuat Bora dan Jisoo penasaran, mereka melihat L tampak termenung dengan wajah yang sedikit cemas


" L. " kata Bora, namun yang punya nama diam saja


" L. " Jisoo ganti yang memanggil nya, tetap saja tak bergeming


Barulah L tersadar dan menatap kembali layar ponselnya " Iya kak, ada apa? "


" Justru kami yang harusnya bertanya, ada apa?"


" Ah tidak ada apa apa, kenapa kalian bertanya seperti itu? " jawab L dengan senyum kecilnya


" Aku tidak pernah melihatmu seperti itu. "


" Maksudnya kaka apa? melihat ku seperti itu bagaimana? Kata L bingung


" Wajahmu seperti sedang mencemaskan suatu hal, apa ada masalah? cerita kan padaku. " kata Jisoo yang tampak khawatir


" Tidak ada apa apa kak, aku baik baik saja, aku hanya sedang memikirkan novel yang sedang kukerjakan harus segera kuserahkan pada editor 2 hari lagi, dan karena kemarin aku berlibur ke Jogja jadi aku belum sempat merevisi nya. " jawab L


" Begitu kah? " Bora tidak langsung percaya


" Benar kakak ku sayang. Bukankah kalian harus segera berangkat, lebih baik kita sudahi telpon nya . Pekerjaan ku menumpuk, belum lagi paket darimu juga belum ku beres kan, jadi aku matikan telpon nya ya, sampai nanti. "


" Ya baiklah, sampai nanti juga sayang. " Dan telpon pun dimatikan


L langsung menaruh ponselnya ke sembarang tempat, ia buru buru membereskan tempat tidurnya dan merapikan penampilan nya didepan cermin sebelum keluar kamar, sejenak ia berdiri didepan pintu dan menghela nafas.


L menuju dapur dan dengan cepat membuat sarapan, ia seperti seorang yang sedang dikejar-kejar oleh waktu, tak terlihat tenang sama sekali. Sesekali ia juga melihat ke sekeliling rumahnya, pamannya tidak terlihat, dan L berfikir pamannya masih tertidur. Bukannya menjadi lebih tenang, L malah semakin mempercepat pekerjaannya. Dalam waktu 30 menit sarapan pun telah siap di meja makan, L mencoba mengetuk pintu kamar yang digunakan oleh pamannya


" Paman selamat pagi, apa paman sudah bangun, Elis sudah menyiapkan sarapan untuk paman. "


Tak lama pamannya pun keluar dan mereka duduk saling berhadapan di meja makan. Peraturan untuk tidak berbicara saat makan adalah peraturan saat L masih di tinggal dirumah pamannya, dan sekarang pun begitu. L dan pamannya makan dengan tenang. L makan dengan wajah terus menunduk tak berani melihat ke arah pamannya.


Suasana hening terus berlanjut hingga selesai makan, pamannya pun berdiri meninggal meja makan


" Rumahmu belum kau bersihkan L. " kalimat yang diucapkan pamannya seakan sebuah perintah untuknya


" Elis akan segera membersihkan nya paman. " jawab L cepat


"Paman akan duduk di halaman belakang, selesaikan pekerjaan mu. " kata pamannya yang beranjak dan berjalan menuju halaman belakang


L menyiapkan teh dan memberikan nya pada pamannya. Ia segera kembali ke dalam rumah dan mulai membersihkan rumahnya, satu kalimat yang keluar dari mulut pamannya seakan menjadi perintah dari atasan ke bawahan dan L pun dengan sigap melaksanakan perintah tersebut, ia mulai membersihkan rumahnya dari menyapu , mengelap dan mengepel. Tubuh nya seakan-akan tidak kuasa berhenti melakukan pekerjaan meskipun ini adalah rumahnya sendiri.


Satu jam lebih, L baru selesai membersihkan rumahnya. Untung saja paket super dari Bora dan oleh-oleh yang dibelinya dari Jogja sudah ia masukan kedalam kamar dan menguncinya sehingga pamannya tidak melihat.