
Yuna sudah selesai mengobati lutut Cacha mereka masih duduk di bangku taman.
" Sebenarnya apa yang terjadi pada Kak Cacha? "
Cacha menunduk dan memasang wajah sedih untuk menarik simpati Yuna.
" Sebenarnya tiga wanita tadi adalah teman temanku. "
" Kalau mereka teman kakak kenapa mereka bersikap seperti itu, jahat sekali. " Ucap Yuna
"Ibuku sedang sakit dan membutuhkan biaya, bulan lalu aku meminjam uang pada mereka untuk berobat ke rumah sakit dan hari ini aku berjanji untuk mengembalikan nya karena hari ini aku mendapatkan gaji dari pekerjaan paruh waktu ku, tapi sayang nya tadi pagi kesehatan ibuku menurun dan aku harus segera membawa nya kerumah sakit, uang yang ada didalam tas ku terpaksa akan ku pakai untuk pengobatan ibuku. Tapi saat aku menjelaskan pada mereka, mereka tidak mau mengerti dan malah merampas tas ku, aku sekarang bingung dan khawatir dengan kondisi ibuku. " Cacha menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan nya. Yuna jelas langsung merasa ikut khawatir sekaligus sedih.
Yuna merangkul Cacha dan menenangkan nya.
" Maaf kalau boleh tahu ibu Kak Cacha sakit apa? "
" Ibu ku punya penyakit jantung. "
" Bolehkah aku membantu Kak Cacha? "
" Tidak, aku tidak mau merepotkan mu lagipula kita baru saja kenal kenapa kau mau membantu? "
" Apakah jika kita hendak menolong orang lain harus memiliki sebuah alasan?"
Cacha terdiam walaupun dalam hatinya ia sedang menyunggingkan sebuah senyuman.
" Jangan menolak Kak, aku tulus hanya ingin membantu.Bukankah uang kakak sudah diambil mereka? Ibu Kak Cacha harus segera dibawa ke rumah sakit. " Cacha akhirnya mengangguk.
" Berapa biasa yang diperlukan kakak? "
" 1000 Won . "
" Baik, bisakah kakak beri tahu nomor rekening kakak? "
" Yuna aku sungguh merasa tidak enak pada mu, kita baru mengenal dan kau malah membantu ku. Aku sangat berterimakasih padamu. "
" Sudah jangan berkata begitu, kita teman bukan. Baiklah aku akan segera mentransfer uang itu pada kakak. "
" Kirimkan saja 500 Won, dan anggap itu sebagai hutang aku akan mengembalikan nya dengan mencicil nya setiap bulan. "
" Kakak tidak usah mengembalikan nya, aku tulus membantu kakak. Aku hanya memberikan kesempatan untuk Kak Cacha merawat orang tua Cacha dengan baik selama mereka masih ada, tidak seperti ku yang sudah kehilangan ibuku dan tidak punya kesempatan merawatnya. "
" Sekali lagi terimakasih Yuna kau sungguh teman baik, aku akan menggunakan uang itu dengan baik. Dan jangan bersedih Ibumu di surga pasti bangga padamu. "
Obrolan yang penuh haru itu harus berakhir karena Yuna harus segera pergi ke suatu tempat. Setelah mentransfer uang pada Cacha ia bergegas pergi.
" Kakak aku sudah mentransfer uangnya gunakan untuk mengobati ibu mu ya, aku harus pergi karena ada urusan sampai jumpa. " Yuna pergi meninggalkan Cacha yang masih duduk di bangku taman.
Cacha segera menghapus air matanya dan tersenyum senang, dia melihat saldo di rekening nya sudah bertambah. Tanpa menunggu lama ia segera menghubungi teman-teman nya dan mengajak mereka bertemu di club nanti malam.
Kim Yuna, wajahmu sangat cantik dan kau terlahir dari orang kaya, tapi sayang kau begitu bodoh. Aku harus berterimakasih pada Tuhan karena masih memberikan keadilan untuk ku, jika kau cantik, kaya, dan pintar rasanya akan sangat tidak adil bukan untuk orang seperti ku. Kali ini aku tidak perlu bersusah susah untuk meminjam uang, cukup dirimu saja. Gumam Cacha
****
Hari dan Arya tengah duduk di dalam perpustakaan Kota, hari ini libur kuliah dan hari ini juga Jisoo meminta bertemu.
Pagi hingga siang hari Jisoo ada jadwal mengajar jadi pertemuan mereka diadakan setelah makan siang. Dari pagi Hari dan Arya sudah berada di perpustakaan guna mengerjakan tugas sambil menunggu hingga pertemuan mereka nanti siang.
" Ri udah jam set 12 ayo kita cari makan lalu ke kampus. "
Hari setuju dengan ucapan Arya, mereka meninggal kan perpustakaan dan mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Hari mengirim pesan pada Jisoo untuk menanyakan apakah pertemuan mereka apakah jadi hari ini.Tak butuh waktu lama pesan Hari langsung dibalas bahwa pertemuan mereka tetap jadi.
Pukul satu lebih 10 menit keduanya sudah berada di kampus, mereka langsung menuju kantor milik Jisoo.
Hari mengetuk pintu.
Seorang pria muda membuka pintu dan menanyakan identitas mereka.
" Siapa anda? Ada keperluan apa? " Tanya pria muda itu yang merupakan asisten Jisoo.
" Perkenalkan nama saya Hari dan ini Arya, kami hendak bertemu dengan Profesor Kim jisoo. " Ucap Hari dengan sopan.
" Apa kalian sudah membuat janji? "
" Sudah. "
" Baiklah silahkan masuk. "Asisten Jisoo mempersilahkan keduanya masuk.
" Permisi Profesor, ada dua orang mencari anda mereka berkata sudah membuat janji temu dengan anda. Nama mereka Hari dan Arya. "
Jisoo yang sedang fokus pada laptop berhenti dan menatap asisten nya.
" Suruh mereka masuk! "
Hari dan Arya dipersilahkan masuk ke dalam kantor Jisoo, keduanya terdiam melihat ruangan milik kakak Elis nampak luas dan bukan seperti ruang guru pada umumnya,tapi lebih seperti kantor sekaligus perpustakaan, luas dan mewah.
" Hari, Arya, masuklah. " Jisoo menyambut kedatangan mereka dan langsung memeluk mereka satu persatu.
" Maafkan aku ya baru bisa bertemu dengan kalian, aku sangat sibuk karena mengisi seminar di dalam maupun di luar negeri, baru beberapa hari lalu aku kembali ke Korea, istri ku Bora juga tak kalah sibuk di kantor, sedangkan ayah mertua ku ada di Perancis. "
" Tidak apa apa Kak Jisoo. "
"Bagaimana kalian bisa sampai kuliah di kampus ini? "
" Sebenarnya kami hanya iseng mendaftar beasiswa di beberapa kampus di luar negeri, termasuk Korea Selatan. Tak disangka kami malah diterima. Niat awal ku kemari juga sebenarnya ingin bertemu dan melihat keadaan Elis, aku dan keduanya orang tuaku sangat merindukan nya."
" Aku mengerti, apa kalian sudah terbiasa hidup disini? Apa ada kendala? Katakan padaku maka aku akan membantu mu? "
" Awalnya kamu sedikit kaget tapi lambat laun kami bisa beradaptasi dengan baik dan menikmati kehidupan kami disini. "
" Oh iya dimana kalian tinggal?"
" Kami tinggal di apartemen dekat dengan fakultas kami. "
" Apa kalian nyaman tinggal di sana? Jika tidak aku bisa menyediakan tempat untuk kalian tinggali. "
" Tidak terimakasih, di sana cukup nyaman dan juga dengan dengan gedung kampus kami. "
" Ah rasanya senang sekali melihat mu disini, aku tidak sabar mempertemukan mu dengan Yuna. "
Hari dan Arya sedikit bingung dan tak mengerti ucapan Jisoo barusan.
" Sekarang Elis sudah resmi secara hukum menjadi bagian keluarga ku, Ayah mertua ku mengangkat nya menjadi anaknya, otomatis dia sekarang menjadi adikku, dan namanya kini berubah menjadi Kim Yuna, kalian bisa memanggilnya Yuna. " Jelas Jisoo
" Bagaimana keadaan Elis sekarang? Biasakah Kak Jisoo menceritakan kondisi Elis sejak dia sampai disini? "
" Seperti yang kau tahu kondisi Elis kala aku dan Bora membawanya kemari dalam keadaan tidak baik, tapi berkat bantuan Shin Elis berhasil diselamatkan meskipun sempat mengalami koma sampai beberapa bulan. " Mata Hari langsung melotot
" Koma? "
" Iya benar, ada pembekuan darah di kepalanya sehingga diperlukan operasi, meskipun resiko nya besar tapi Yuna tetap harus menjalani nya, untung saja operasi nya berjalan dengan lancar walaupun setelah itu dia mengalami koma, Bora sangat sedih saat itu, meski operasi berhasil dan kondisi tubuh Yuna berlangsung membaik tapi ia tak kunjung membuka matanya. Aku dan Bora berganti an menjaganya, terkadang adik adik ku juga ikut membantu. Hingga suatu ketika dia akhirnya terbangun tapi kondisi nya sungguh membuat sedih apalagi Bora. Begitu tersadar Elis bukan lagi Elis yang pernah ku kenal, ia tampak selalu termenung dan tak mau berbicara dengan siapa pun, kadang jika melihat orang asing dia akan ketakutan dan berteriak-teriak, kata temanku Elis kemungkinan mengalami depresi dan trauma. Aku tidak bisa menjelaskan pada temanku tentang apa yang terjadi pada Elis karena kalian tahu bukan saat kita sampai di rumah nya kala itu dia sudah tergeletak tak berdaya dan hampir meninggal. "
Hari terlihat sedih ia tak mampu membayangkan bagaimana sakit dan tersiksanya Elis hingga sampai mengalami hal itu. Pasti sangat berat.