
Hari dan Arya masih duduk dengan tenang mendengarkan cerita Jisoo. Wajah Hari terlihat begitu khawatir, Arya bisa melihat jelas hal itu.
"Kau tau Hari, keadaan Yuna saat itu seperti mayat hidup, dia sama sekali tak memberikan respon apapun, seperti manusia yang tidak memiliki jiwa. Aku dan Bora tidak putus asa, dengan bantuan teman-teman ku, Yuna terus menjalani perawatan baik fisik maupun psikis. Tapi. " Ucapan Jisoo terjeda
Hari semakin gugup dan gelisah, Arya sampai harus menepuk pundak sahabat nya itu agar lebih tenang.
" Tapi kenapa Kak? "
" Suatu ketika Yuna mencoba mengakhiri hidupnya dengan mengiris pergelangan tangannya, saat itu Bora dan tim medis segera datang setelah Yuna lepas kendali, meskipun Yuna tetap berhasil mengiris pergelangan tangannya tapi untung saja tidak begitu dalam sehingga tidak membahayakan nyawanya. Kondisi Yuna kembali menurun tapi setelah kejadian itu, setelah tak sadar diri selama beberapa hari dia akhirnya bangun dan kembali menjadi dirinya yang dulu. Menurut dokter kondisi psikis Yuna sudah kembali seperti semula dan ingatan yang membuat trauma dan depresi telah dilupakan atau dikubur oleh Yuna sendiri. Entah itu baik atau buruk, setidaknya setelah bangun ia sudah mau berbicara dengan ku dan Bora, ia berangsur-angsur membaik dan pulih. Kini ia bahkan jadi lebih ceria dan sangat aktif, kalian tahu dia seperti anak perempuan ku yang baru bisa berjalan, ia akan berlarian kesana kemari dan memakan apapun yang ia sukai."
Wajah sedih Hari akhirnya perlahan sirna dengan kelegaan.
" Saat ini kondisi fisik Yuna sudah sepenuhnya pulih tapi tetap harus dikontrol, setelah keluar dari rumah sakit, dia juga rutin ke psikiater untuk memantau kondisi mentalnya. Semuanya bagus, tapi karena kondisi itu pula aku dan Bora tak bisa bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi padanya. Bora sudah tak ingin tahu lagi dengan kejadian yang menimpa Yuna, yang terpenting Yuna sudah kembali seperti dahulu dan dia telah kembali bersemangat menjalani hidupnya. "
" Aku setuju dengan pilihan Bora. " Ujar Hari
" Maafkan aku tidak menghubungi mu dan kedua orang tua mu, ada rasa khawatir jika Yuna bertemu dengan orang-orang yang ada di Indonesia akan membuka kembali ingatan buruknya, aku sudah bertanya tentang hal ini pada dokter. Kemungkinan bisa terjadi tapi melihat kondisi Yuna yang sekarang, dokter bilang jika ingatan itu hanya bisa kembali jika Yuna menjumpai orang atau sesuatu yang berhubungan dengan kejadian itu, sedangkan untuk bertemu keluarga atau sahabat nya itu tidak masalah karena yang dilupakan oleh Yuna adalah ingatan buruk nya saja. "
" Jadi kapan kita bisa bertemu dengan Elis? " Sahut Arya tiba-tiba.
" Akhir pekan datang lah ke rumahku, aku akan memberi tahu Yuna terlebih dahulu agar dia tidak syok jika melihat kalian tiba-tiba disini, kurasa dia juga merindukan mu dan kedua orang tuamu meski aku tidak pernah mendengar dia menanyakan keadaan mu atau yang berkaitan dengan Indonesia tapi tetap saja pasti ada rindu didalam hatinya. "
" Aku sangat menanti kan pertemuan itu. "
" Akhirnya bisa bertemu dengan sang pujaan hati. " Goda Arya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Hari, sementara Jisoo langsung menatap keduanya dengan bingung karena tidak begitu mendengar jelas perkataan Arya.
" Bertemu dengan apa tadi? " Tanya Jisoo
" Ah itu akhirnya aku bertemu dengan biasku. Mas Jisoo aku ini penggemar berat nya Elis maksud ku Yuna, aku fans nomer satunya jadi aku tidak sabar untuk bertemu dengan nya. "
" Hahaha kau ini ada ada saja, tapi memang Yuna sangat cantik jadi wajar banyak yang menyukai nya."
" Apa dia punya pacar? " Pertanyaan Hari yang tiba-tiba membuat Jisoo dan Arya menatap nya
" Hahaha, oh aku mengerti sekarang apa yang tadi dikatakan Arya. " Wajah Hari bersemu merah
" Setahuku dia tidak punya pacar atau belum punya, tapi yang dekat dengan nya cukup banyak, kalian tahu bukan kalau Yuna sangat cantik. Tapi tenang saja Bora tidak akan membiarkan laki-laki diluar sana dengan mudah mendekati Yuna, dia harus berhadapan dulu dengan istriku."
Hari hanya bisa menelan salivan nya.
" Kau menyukai Yuna? " Meski Hari tak bergeming dan berusaha tak mendengar pertanyaan Jisoo, tapi Jisoo dengan mudah bisa membaca perasaan Hari dari raut wajahnya.
" Tidak, aku sudah menganggap nya sebagai adikku."
Arya tersenyum melihat gelagat sahabat nya itu yang sedang mengelak. Jisoo pun ikut tersenyum.
" Benarkah, kalau kau menganggap nya sebagai adik maka aku akan menayangkan pendapat mu jika ada seorang lelaki yang sedang dekat dengan Yuna. " Jisoo memperlihatkan foto Yuna dan Jaehyun yang tengah duduk bersama di paviliun taman bunga, namun dalam foto tersebut tubuh Jaehyun membelakangi kamera jadi tidak terlihat wajahnya hanya Yuna saja.
" Bagaimana menurutmu? Seperti nya dia lelaki yang baik dan menyukai Yuna, kupikir sebentar lagi dia akan datang kerumah ku dan meminta restu pada Ayah mertuaku. "
" Tidak boleh! " Ucap Hari cepat
" Jangan bikin kaget Ri, ngomong nya biasa aja, woles, aku sampai tersedak nih, suka ya bilang aja suka pakai acara ditutup tutupin kau itu tidak pandai berbohong. " Ucap Arya dalam bahasa Indonesia, ia sengaja melakukan nya agar Hari tidak semakin malu.
Jisoo kembali tersenyum, Hari sendiri jadi salahkan tingkah.
" Elis sekarang kegiatan nya apa setelah tinggal di Korea? "
" Dia kuliah disini juga. "
Arya lagi lagi tersedak " Kuliah disini? " Sebenarnya Arya sudah tahu kalau L itu sangat pintar atau lebih tepatnya jenius, tapi jika membayangkan wajahnya yang masih sangat imut rasanya ia masih tidak percaya.
" Iya, di ikut ujian masuk universitas setelah sembuh dan mendapatkan nilai sempurna, dengan nilai tersebut dia bebas memilih kampus manapun bahkan tidak sulit untuk kuliah di luar negeri, namun ia tidak mempermasalahkan dimana ia akan kuliah, yang penting adalah jurusan nya, karena itu dia akhirnya masuk ke kampus ini dan mengambil jurusan seni dan sastra. Dia terdaftar sebagai murid termuda tahun ini dan mendapatkan beasiswa penuh , kalian bisa menyebutkan nya sekolah gratis."
Hari dan Arya tertegun " Aku pikir dia jenius didalam negeri aja Ri, eh di luar negeri dia tetap aja jenius ternyata, dia makan apa sih Ri dari kecil? "
" Nasi sama kaya kita lah. "
" Tapi kok bisa pinter begitu, nilai sempurna loh. Sekarang aku bersyukur kalau si Elis ngga masuk jurusan Kedokteran, bisa malu aku." Ucap Arya pelan pada Hari.
" Elis memang selalu membanggakan, dan aku senang dia bisa kuliah dan mengambil jurusan yang memang sadari dulu ia inginkan." Pikiran Hari kembali ke foto tadi
" Tapi lelaki yang ada di foto tadi? Apa benar dia orang yang menyukai Elis? "
" Tidak tidak, aku hanya bercanda saja, itu adalah foto Yuna dan Jaehyun sebenarnya ada Shin dan Kyungsoo, kalian masih ingat bukan tiga serangkai adik lelaki ku dan sahabatnya? "
Ada perasaan lega di hati Hari, Arya tersenyum dan menyenggol Hari. " Aman Bro. "
" Iya aku masih ingat, mereka juga kuliah disini? "
" Iya, mereka jurusan bisnis, apa kalian mau bertemu dengan mereka aku bisa menelpon mereka dan menyuruh nya kesini. "
" Ah tidak perlu, aku tidak sedekat itu dengan mereka akan canggung jika bertemu. "
" Tidak apa, kalian sama sama lelaki justru mereka bisa membantu mu jika kalian mengalami kesulitan, maksud ku adalah manfaat mereka agar membantu mu dekat dengan Yuna. "
" Hah! " Hari nampak terkejut.
" Hahaha wajahmu sungguh lucu Hari, kau selalu terlihat kaku tapi jika membahas Yuna wajah dan tingkahmu jadi konyol. "
Hari berdengus kesal " Apa Mas Jisoo memperbolehkan aku mendekati Yuna? "
" Tentu saja boleh, tapi memang nya dia mau dengan mu. " Lagi-lagi Jisoo menggoda Hari, Arya sudah tidak tahan untuk menahan tawanya.
" Kau terlalu percaya diri Bro, setelah beberapa minggu kita tinggal di Korea bukankah kau sudah melihat begitu banyak lelaki tampan disini, saingan mu sangat banyak Yuna gadis normal pasti suka dengan lelaki tampan." Arya semakin mengompori Hari
" Kau! " Hari benar-benar kesal sekarang
" Tenang Hari, Yuna gadis yang polos sejauh ini dia terlihat tidak begitu tertarik dengan para pria tampan di luar sana dia terlalu sibuk dengan belajar dan sibuk dengan segala aktivitas nya. " Sekali lagi Hari hanya bisa menghela nafas, meski kata-kata Jisoo sedikit menenangkan nya, tapi tetap saja dia khawatir.