
Cekrik
Cekrik
Cekrik
Suara jepretan kamera yang mengarah ke L, orang-orang tidak menyadari hal itu kecuali objek dari lensa kamera tersebut.
L menghela nafas ringan dan segera menoleh ke sumber suara, suara yang begitu pelan hingga tak ada yang menyadari kecuali dirinya sendiri. Sayang nya begitu dia menoleh, orang yang mengambil foto nya telah pergi.
Sudah lama ia menyadari jika ada orang yang selalu mengawasi dan mengambil fotonya. Walaupun dia belum tahu siapa orang nya tapi dia tahu jika ada yang memotret diri nya secara diam diam. L pikir itu hanya kebetulan namun selama beberapa minggu, orang tersebut terus saja mengikuti nya baik di kampus, dijalan, maupun di cafe.
L orang yang cuek dan tidak begitu memperdulikan orang tersebut. Namun, L rasa orang tersebut sudah terlalu lama mengikuti dan mengambil fotonya tanpa ijin sehingga ada niat untuk menceritakan hal ini pada Bora dan Jisoo.
Ketika hendak menceritakan hal itu, L kembali berfikir untuk memberi waktu pada stalker nya. Jika dalam waktu seminggu dia masih mengikuti dan mengambil fotonya ia akan menegur, dan apabila setelah di tegur masih mengikuti dan mengambil fotonya tanpa ijin ia akan melaporkan orang tersebut pada kakaknya.
***
Usai makan siang, L, Yura, dan Jungki bergegas masuk ke kelas. Kelas terakhir sebelum ia bisa pulang.
" Bisakah aku masuk ke jurusan seni tanpa harus mengikuti kelas sejarah. " Keluh Yura saat memasuki kelas sejarah. Kelas yang identik dengan pembelajaran yang membosankan dan di ajar oleh dosen atau Profesor yang sudah tua dan menyebalkan.
Bukan hanya Yura, sebagian besar mahasiswa yang masuk ke dalam kelas sejarah menampilkan wajah wajah lesu tanpa semangat. Berbeda dengan L yang terlihat begitu semangat dan siap. Ia bahkan mengajak Yura dan Jungki duduk di barisan paling depan.
L menarik lengan Yura untuk duduk didepan " Yura ayo duduk di sana! " Menunjuk barisan paling depan.
Yura menggeleng tanda tak mau " Aku tidak mau! Kita duduk disana saja ya. " Menunjuk kursi yang berada di bagian pojok belakang. Tempat strategis untuk tidur.
L mengkerut kan dahinya " Kalian mau tidur apa belajar? " Tanya L.
" Tentu saja belajar, tapi kau tahu sendiri kan pelajaran dosen Kim sangat membosankan dan diisi hanya dengan bercerita dan bercerita, siapapun tidak akan tahan untuk tidak tertidur jika berada di kelasnya." Keluh Yura.
" Tapi aku tidak. " Jawab L
" Kau dan dosen Kim kan manusia satu golongan. " Sahut Jungki yang berada di belakang L
" Hah? Apa maksud mu? "
" Iya kau dan dosen Kim itu manusia dari golongan yang sama, manusia manusia kutu buku yang menyukai sejarah. Ingat kejadian saat kau memberi les pada kami? Kau begitu mirip Dosen Kim saat kami meminta dirimu menjelaskan materi darinya saat kami tidak masuk sebulan yang lalu."
" Benarkah? Aku tidak ingat? " L nampak sedang berfikir
"Aku heran dengan orang-orang seperti mu, sejarah ratusan ribu tahun lalu bisa kau hapal dengan sekali baca tapi kejadian bulan lalu malah bisa lupa. Sebenarnya isi kepala mu itu apa Yuna? " Imbuh Yura.
" Kepalanya di isi makanan. " sahut Jungki cepat dan langsung di senyumi oleh L.
Setelah dua jam kuliah berlangsung, akhirnya selesai. Dosen Kim memberikan mereka tugas makalah sebelum keluar dari kelas. Nampak wajah kelegaan dari para siswa, walaupun sempat kesal karena tugas makalah dari Pak Kim itu sangat susah dan banyak.
" Akhirnya selesai juga." Ucap Bora sembari melakukan peregangan pada tubuhnya, begitu juga dengan mahasiswa yang lain.
Bagi mereka kelas Pak Kim itu seperti sedang di beri dongeng sebelum tidur jadi banyak dari mereka yang ketiduran. Untung saja Pak Kim termasuk Dosen yang cuek dan tidak mempermasalahkan jika murid muridnya tertidur dikelas. Karena yang membutuhkan nilai itu mereka, nilai yang didapat tergantung dari keseriusan mereka dalam menghadiri kelas, mengerjakan tugas, dan nilai ujian.
" Kau ini kalau mau tidur itu dirumah bukan di kampus. " L membereskan barang barang nya dan segera beranjak.
" Baiklah aku duluan ya karena aku sudah janji pada Kak D.O untuk menemani nya di lokasi syuting. Sampai besok Yura, Jungki. " L pamit pada keduanya karena sopir yang menjemput dirinya sudah menunggu.
" Iya iya, hati hati di jalan sayang. " Ujar Yura
Dalam perjalanan D.O terus mengusik ketenangan ponselnya, mengingat L agar jangan lupa untuk datang, menanyakan keberadaan nya, dan menyuruh L agar secepatnya sampai. L sedikit kesal pada kakaknya yang satu ini.Padahal tadi ia sudah memberitahu jika dirinya sudah ada dijalan dan sebentar lagi akan sampai.
" Pak tolong lebih cepat sedikit ya! " Pinta L pada supir pribadinya.
" Maaf Nona saya tidak bisa menambah kecepatan karena dilarang keras mengendarai mobil diatas 80 km/jam." Jawab Sopir pribadinya
L mendengus kesal karena itu pasti ulah Bora.
" Sedikit saja Pak, tambah kecepatan nya 10 lagi ya. " Bujuk L karena ponselnya terus saja berbunyi
" Maafkan saya Nona Yuna, saya tidak bisa. " Jawab Supir nya kekeh.
L rasanya sudah tak sabar untuk sampai, jika tahu akan begini ia ingin sekali mengendarai mobil sendiri. Tapi sayangnya ia masih dibawah umur dan belum memiliki SIM.
Sampai di depan perusahaan milik orang tua D.O, L segera turun dan masuk kedalam.
Dengan semangat ia masuk kedalam gedung agency raksasa tersebut. Beberapa kali matanya menangkap wajah wajah tampan seperti idol kesukaan nya.
Sebelum naik ke ruangan D.O, L mampir terlebih dahulu ke cafe untuk membeli minuman dan beberapa cemilan. Ia berfikir jika menunggu D.O syuting nanti pasti akan memakan waktu yang lama, dan ia pasti akan kelaparan jika hanya menunggu.
L masuk kedalam cafe yang unik didalam perusahaan kakaknya itu, karena dekorasi cafe tersebut dipenuhi foto foto dan pernak pernik dari artis yang bernaung di dalam perusahaan. L begitu antusias melihat nya hingga tanpa sadar ada seseorang yang memperhatikan tingkahnya dengan tersenyum.
L sangat senang begitu melihat poster idol favorit nya terpajang di salah satu ruangan lengkap dengan tanda tangan nya.L segera mengeluarkan ponsel dan berselfie ria.
Cafe yang luas dan cukup ramai oleh pengunjung yang di dominasi oleh para penggemar artis di bawah naungan agency tersebut.
Setelah puas berfoto, L akhirnya berjalan menuju meja kasir untuk memesan. Ia menelan saliva nya begitu melihat menu menu yang ada disana, apalagi jejeran cake yang begitu menggugah selera. Yang lebih menarik lagi beberapa menu diberi tanda khusus seperti sebuah cake yang diberi sticker foto salah satu boygroup, dimana artinya cake tersebut merupakan cake kesukaan dari idol tersebut.
L girang bukan main, ia kalap tanpa sadar memesan semua minuman dan cake yang ada stiker nya.
Pria yang sedari tadi memperhatikan L adalah Daniel. Suatu kebetulan karena ia juga berada di perusahaan tersebut karena memang dia baru saja menghadiri rapat untuk menandatangani kerjasama antara perusahaan miliknya dengan perusahaan D.O.
Rapat telah selesai dan ia mampir sebentar ke cafe sebelum kembali ke perusahaan nya, tanpa diduga ia malah bertemu sosok gadis yang tengah disukainya.
Daniel berdeham
" Ehem... ehem..... "
L yang merasa ada seseorang disamping nya akhirnya menoleh dan tersenyum ketika melihat Daniel ternyata ada disamping nya.
" Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya kau menyadari kehadiran ku Yuna. "
L tak menanggapi ucapan Daniel ia sedang menyelesaikan pesanan pada pelayanan lalu dengan entengnya ia menoleh dan menengadah tangannya pada Daniel.
Dahi Daniel mengkerut " Apa? " Tanya nya kebingungan.
" Beri aku uang Kak, daripada kau disana seperti patung. " Ujar L dengan entengnya.
Wajah Daniel sudah tak terbaca lagi, ia yang awalnya berdiri dengan gagah layak model langsung kesal.
" Kau tidak punya uang? " Ujar Daniel sinis.
" Sudah jangan banyak bicara! Cepat berikan aku kartu mu kak. " Daniel sebenarnya sangat kesal tapi tetap saja menuruti kamauan L.
" Kau ini datang kesini dan memesan tapi tak membawa uang? Kau memang lupa atau sengaja? " Tanya Daniel.
Keduanya sudah duduk di salah meja sambil menunggu pesanan.
" Tentu saja aku bawa. " L menunjukkan dompetnya yang lengkap dengan deretan kartu.
" Kenapa kau meminta aku membayar mu? "
" Karena Kak Daniel tampan dan kaya, dan juga aku ini cantik dan menggemaskan. Sedari tadi Kak Daniel hanya berdiri didekat ku seperti patung tanpa bersuara. Lebih baik ku manfaatkan saja. " L tersenyum menunjukkan deretan gigi putih nya.
" Kau!!! " Daniel kehabisan kata kata
" Jadi kau menyadari jika aku berdiri didekat mu? " Tanya Daniel lagi.
" Tidak! Tapi sejak aku masuk ke dalam cafe aku sudah melihat Kak Daniel. "
" Kenapa ku diam saja dan tidak menyapa ku Yuna. " Daniel benar-benar tidak habis pikir.
" Emmm karena aku suka. "
" Alasan macam apa itu? "
Obrolan mereka terhenti karena pelayan datang membawakan pesanan L. Ada tiga bungkus kantong plastik yang ada diatas meja.
L berdiri dan mengambil pesanan.
" Pesanan sudah datang, aku pergi dulu Kak Daniel sampai jumpa. Oh iya maaf ya karena aku tidak bisa menemanimu makan malam. Selamat tinggal. "
Daniel membeku, tiba-tiba saja L pergi meninggalkan nya setelah pesanan nya datang.
" YUNA!!!!! " Teriak Daniel yang membuat beberapa pengujung cafe memperhatikan nya.
" Iya ada apa Kak Daniel kenapa kau berteriak memanggil ku. " Entah bagaimana tiba-tiba saja L telah berdiri di belakang Daniel membuat nya kaget.
" Hah darimana kau? "
" Dari pintu keluar lalu kembali kemari karena Kak Daniel memanggil. " Jawabnya polos.
" Ya ampun Yuna kau sudah mengerjaiku sedari tadi ya."
L tertawa puas melihat Daniel yang kesal " Maaf maaf, sekarang Kak Daniel mau kembali ke kantor atau pulang? "
" Aku mau kembali ke kantor saja, pusing aku lama lama di sini. "
" Tidak mau ikut bersamaku? Kita bisa makan malam bersama kakak ku nanti."
" Tidak usah, aku masih ada pertemuan jadi kau pergilah. " Ujar Daniel
" Benarkah? "
" Iya. "
" Kalau begitu aku pergi, terimakasih karena sudah membayar tagihan ku ya. Jika aku ada waktu nanti aku akan mengganti acara makan malam kita yang batal hari ini. "
" Sudah ku catat dan itu adalah janji. "
L tersenyum " Ia baiklah. "
Akhirnya L benar-benar pergi dari hadapan Daniel. Setelah kepergian L, Daniel tersenyum senang saat L berjanji akan makan malam bersama nya.