
Bora terlihat masih syok setelah menjawab telpon di pagi hari sementara L dan Jisoo yang tadinya kaget jadi cemas.
" Kamu jangan bercanca! Besok fashion show tersebut akan digelar dan bukankan Tim Produksi sudah ku suruh menyimpan rancangan tersebut. Aku akan segera kesana. " Bora telah menutup sambungan telepon tersebut dan buru buru menyelesaikan sarapannya.
" Sayang ada apa? Kau membuat kami kaget sekaligus cemas. " Ujar Jisoo
" Iya Kak ada apa? " Imbuh L
Bora sudah selesai sarapan dan dengan cepat mengambil tas dan kunci mobil nya, " Sesuatu yang buruk telah terjadi, asisten ku memberi kabar bahwa rancangan pakaian yang akan dipamerkan telah rusak, acaranya besok dan semua pakaian itu telah rusak. Bagaimana mana ini?" Wajah Bora tampak frustasi, tubuhnya lemas dan ia terduduk kembali.
Jisoo mendekatkan dirinya, dan merangkul bahu istri nya sambil menenangkan nya.
" Tenang sayang kau tidak boleh putus asa seperti itu, semua masalah pasti akan segera terselesaikan jika kita menghadapi nya dengan kepala dingin."
Bora yang menundukkan wajahnya tersenyum mendengar perkataan suaminya dan membalas pelukan tersebuk sambil duduk.
" Kau benar sayang aku tidak boleh putus asa, aku pikir orang suruhan Tiffany ada yang menyusup dan merusak rancangan ku agar perusahaan ku tidak bisa ikut fashion show itu. Aku harus ke kantor dahulu untuk melihat bagaimana keadaan nya. " Ujar Bora
" Jangan gegabah dan menyimpulkan bahwa itu adalah ulah temanmu, meskipun dia adalah rivalmu tetap kau harus menyelidiki hal ini dengan hati-hati. Untuk sekarang lebih baik kau ke kantor dahulu dan melihat bagaimana rancangan yang akan dipamerkan untuk acara fashion show, bukan kah itu lebih penting dibandingkan mencari pelaku nya?" Sahut Jisoo
Bora mengangguk setuju dengan ucapan Jisoo, sekarang yang paling penting adalah melihat kondisi semua rancangan yang akan dipamerkan, Bora berharap agar rancangan hanya mengalami kerusakan kecil agar bisa diperbaiki meskipun itu hanya kemungkinan kecil.
Bora kembali bangkit dan mengambil kunci mobilnya.
Jisoo menahannya.
" Biar aku menemani mu ke kantor hari ini. " Ujar Jisoo sambil mengambil kunci mobil milik Bora.
" Tidak perlu sayang, ini masalah kantor dan aku tidak akan menyerah dengan mudah. Kau tahu kan kalau aku ini wanita tangguh, lagipula bukankah kau ada pertemuan dengan Profesional Paul dari Inggris, kau juga tidak akan bisa membantu ku jika ikut ke kantor jadi jangan khawatir. " Ucap Bora.
Yang dikatakan Bora memang benar tapi Jisoo tetap saja khawatir dengan istrinya itu, setidaknya ia bisa memberi semangat jika ada disisinya.
L berjalan ke arah Jisoo dan Bora " Kak Jisoo tidak usah cemas, kakak berangkat saja ke kampus biar aku yang menemani Kak Bora lagipula aku hari ini aku libur jadi tidak masalah jika aku ikut ke kantor. " Ujar L
Jisoo mengerti dan membiarkan L dan Bora pergi.
" Baiklah, semoga masalah diperusahaan cepat selesai dan kau segera mendapat solusi nya. " Ucap Jisoo seraya mencium kening Bora dan L " Hati-hati dijalan. "
Bora tersenyum " Iya sayang, kami berangkat. "
Bora dan L telah berada didalam mobil dan bergegas menuju kantor.
Di lobby asisten Bora beserta kepala Tim produksi telah menunggu di lobby. Begitu Bora masuk keduanya segera menyambut nya. L berjalan mengekor dibelakang tanpa banyak bicara, membiarkan para orang dewasa membahas masalah yang sedang menimpa perusahaan.
" Bagaimana kejadian nya? "
" Tadi pagi saya mendapatkan telpon dari bawahan saya di divisi promosi bernama Kim Minhyuk, ia mengatakan pada saya bahwa ruang penyimpanan tempat rancangan pakaian untuk acara fashion show telah porak poranda. Setelah mengetahui kabar tersebut saya kaget dan segera kemari dan menelpon asisten Nona , yang kemudian asisten Nona menelpon anda. " Ujar Kepala Tim produksi.
Mereka berempat telah berjalan menuju ruangan penyimpanan. Setelah menaiki lift menuju lantai 17 , mereka keluar, berjalan lurus dan berhenti pada sebuah ruangan. Dimana dibagian depan tertulis Divisi Promosi, didalam ruangan yang luas tersebut ada beberapa ruangan lagi yang salah satunya adalah ruang penyimpanan tempat rancangan Pakaian tersebut disimpan.
Tim Produksi memang telah memindahkan rancangan tersebut ke tempat itu karena di ruangan mereka tempat penyimpanan telah penuh oleh berbagai rancangan untuk pakaian edisi musim panas.
Bora mempercepat langkahnya menuju ruang penyimpanan dan setelah sampai Kim Minhyuk tertunduk melihatmu kedatangan nya.
" Buka pintu itu! " Perintah Bora tegas.
Dengan sedikit getaran di tangannya, Minhyuk membukakan pintu ruang penyimpanan.
Bora masuk dan memang benar sesuai laporan jika kondisi didalam ruangan tersebut telah porak poranda.
L masuk paling akhir setelah asisten Bora, Kepala Tim produksi dan Minhyuk masuk. L terkejut dengan keadaan didalam ruangan tersebut, ia mengalihkan pandangan nya ke Bora. Nampak jelas bahwa Bora telah marah melihat keadaan di dalam ruangan tersebut.
Ini benar-benar kacau. Ucap L dalam hati.
L tak melanjutkan langkah nya, ia hanya terus memandang Bora dan lainnya yang tengah menegakkan kembali patung patung manequin. Beberapa orang dari Tim desain masuk dan membantu membereskan ruangan.
Setelah satu jam semua patung manequin yang memakai rancangan pakaian untuk acara fashion show telah terjajar rapi, meski keadaannya sungguh menyedihkan dengan rancangan yang sudah rusak disana sini.
Semua orang terlihat putus asa, Bora berkali-kali terlihat menghela nafas.
" Periksa kerusakan tiap rancangan, dan berusahalah untuk memperbaiki nya jika ada kemungkinan bisa diperbaiki! " Ujar Bora lantang, membuat bawahan segera melakukan tugasnya.
Setelah diperiksa setengah dari rancangan tersebut benar-benar rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi, menyisakan setengah lagi yang rusak dan jika diperbaiki membutuhkan waktu yang cukup lama.
Tim desain benar-benar dikuras untuk memperbaiki rancangan rancangan yang tersisa karena besok malam acara fashion show tersebut akan digelar.
Semua tampak begitu fokus dan berusaha sekuat tenaga meskipun hasilnya sudah jelas jika waktu yang mereka miliki sangat terbatas dan tidak mungkin bisa memperbaiki semuanya.
****
Key fashion
Tiffany tengah duduk di kursi kebesaran nya, ia tersenyum melihat laporan dari anak buahnya yang telah berhasil membuat porak poranda perusahaan saingan nya itu.
" Kerja bagus, beri mereka bonus dan bereskan semuanya jangan sampai mereka tahu kalau itu perbuatan kita! " Ujar Tiffany pada asisten nya.
" Baik. "
****
Kembali ke Bellin
Bora tengah sibuk dan L tak berani menggangu, waktu telah melewati jam makan siang. Sudah beberapa kali L mengingatkan Bora untuk makan siang terlebih dahulu tapi Bora mengabaikan nya, semua bawahannya juga masih fokus dengan pekerjaan mereka tanpa memikirkan makan siangnya.
L tak ingin Bora jadi sakit karena itu ia berinisiatif untuk turun ke cafetaria dan membeli makan siang untuk kakaknya dan juga bawahannya. Lagipula dirinya juga tak ada pekerjaan selain melihat mereka semua bekerja.
Sambil menunggu pesanan siap L duduk dan memesan makanan untuk dirinya sendiri, jujur sedari tadi ia sudah kelaparan.
Masih menunggu dan L menikmati makan siangnya dengan lahap. Tanpa ia sadar dari balik jendela kaca Chacha dan Vivian juga tengah menikmati makan siangnya. Keduanya tidak menyadari kehadiran masing-masing karena mereka duduk saling memunggungi.
" Chacha aku pergi dahulu ya soalnya pacar ku mengajak ku makan di luar. " Ujar Vivian tiba-tiba
" Tapi Nona kita kan sedang makan siang, lihat makanan kita juga baru sampai. "
Vivian sudah mengambil tas nya " Tidak masalah, kau habiskan saja, aku sudah membayar jadi nikmati makan siang mu. Aku pergi dulu ya. Bye! "
Chacha melambaikan tangan dan dengan senyum cerahnya ia mengambil ponsel dan memotret makanan yang baru tiba itu dengan berbagai gaya dan mengupload nya ke sosial media.
Tak lama ponselnya berdering telpon dari temannya.
" Hallo. "
" Kau dimana? " Tanya suara dari balik telpon.
" Aku sedang makan di cafetaria kantorku, ada apa?"
" Kau tega sekali tidak mengajakku, sekarang hidupmu semakin enak ya. Kelihatan nya makanan itu sangat enak dan mahal. "
" Tentu saja, sekarang aku punya atasan sekaligus teman yang kaya, setiap hari dia selalu mengajak ku makan ditempat yang enak dan mahal. " Ujar Chacha menyombong kan diri.
" Wah enak sekali, andai aku bisa magang di perusahaan itu juga mungkin aku bisa bertemu teman yang kaya atau mendapatkan pacar yang tampan juga. Lalu bagaimana dengan keadaan gadis kecil yang memberimu uang? " Tanya teman Chacha
" Siapa yang kau maksud? Aku tidak pernah diberi uang oleh seseorang ,kecuali aku meminjamnya. " Chacha menghentikan gerakan tangannya saat mendapat pertanyaan itu.
" Itu loh yang katanya anak orang kaya dan cantik, kalau tidak salah namanya Kim Yuna. "
"Kim Yuna?" Ucap Chacha dengan bingung masih mencoba mengingat nama tersebut karena kesenangan yang ia terima beberapa hari ini membuat nya melupakan Yuna .
L yang berada dibalik jendela sebenarnya sudah mendengar suara Chacha, namun ia tidak yakin karena terhalang kaca dan suara musik dari cafetaria membuat suara Chacha tak begitu jelas. Namun saat namanya disebut ia menghentikan acara makannya dan berbalik, tepat saat itu Chacha tengah melihat kesamping sehingga sebagian wajahnya terlihat dan L mengenal dengan jelas sosok Chacha.
" Iya yang tak sengaja kau temui dikampus dan kau meminjam uangnya. "
"Oh aku ingat sekarang gadis yang kutemui dikampus, yang ku bodohi dengan mengaku ibuku sakit dan butuh biaya dan aku meminjam uangnya. "
Ujar Chacha
"Lalu kenapa kau menayangkan dia?" Imbuh Chacha.
" Apa kau tidak bertemu lagi dengan nya?"
" Aku kemarin tak sengaja bertemu didekat kantor, namun aku buru-buru pergi karena Nona Vivian memanggilku ku, aku juga tak ingin berbincang dengan nya lebih lama takut dia ingat dengan uang yang ku pinjam dan menagih nya. "
" Kenapa kau melepaskan tangkapan yang bagus, kan kau bisa minta uang lagi padanya. " Ujar teman Chacha " Bisa kau manfaatkan, lagipula dia masih kecil akan semakin mudah dibodohi. " Imbunya.
" Ah tidak perlu, Aku sudah cukup berteman dengan Nona Vivian. Dan karena dia gadis kecil maka aku bisa repot jika ia mengadu pada orang tuanya .Jika aku bertemu dengan nya aku akan berpura-pura tidak mengenalnya,lagipula seseorang tidak mungkin terjatuh di lubang yang sama bukan? Karena itu lebih baik aku menghidari gadis itu. " Ujar Chacha.
Dari balik jendela, L terlihat murung dan juga sedih. Orang yang dia tolong dengan tulus dengan mengatasnamakan ibu ternyata hanya seorang penipu belaka. Ia tidak pernah mempermasalahkan soal uang, meskipun nanti Chacha tidak mengembalikan nya. Yang membuat L kecewa adalah Chacha berani menipunya dengan mengatakan kalau ibunya sakit, kala itu ia benar-benar khawatir dan sedih. Ia memposisikan dirinya sebagai Chacha, ia pasti sedang kebingungan. Ia jadi mengingat neneknya yang sudah dianggap seperti ibu baginya.